Merantau Itu Asyik

April 22, 2022


Hari raya segera tiba. Mudik atau pulang kampung adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu bagi mereka yang merantau. Pulang ini memang kata yang definisinya tidak lagi sederhana ketika kita menjadi perantau, salah satunya adalah pulang kampung itu. Apalagi saat sudah berkeluarga. Pulang bisa memiliki banyak makna, juga banyak tempat tujuan.


Seperti saat saya merantau ke Bali untuk bekerja. Pulang bisa berarti ke tempat indekos atau ke rumah Bude yang kebetulan juga tinggal di Bali. Biasanya pulang ke rumah Bude ini saya lakukan di akhir pekan, sedangkan saat cuti panjang, definisi pulang berubah lagi menjadi pulang ke rumah orang tua atau pulang kampung.


Hidup berpindah-pindah dan merantau memang sudah menjadi hal yang biasa bagi saya. Entah sejak kapan saya bisa dikatakan merantau, yang pasti sejak kuliah saya sudah tidak lagi tinggal di rumah orang tua. Meskipun saat itu jarak dari indekos saya ke rumah hanya sekitar 17 km, tapi tetap saja saya tidak bisa bertemu orang tua setiap hari. Bahkan sebulan sekali pun belum tentu bisa pulang karena padatnya jadwal kuliah dan tugas-tugas yang menumpuk.


Tak terasa hampir separuh usia saya dihabiskan dengan tinggal jauh dari orang tua. Empat kota kota, empat provinsi, dan 3 pulau telah menjadi saksi kehidupan saya sebagai perantau. Berjuta memori telah terukir di sudut-sudut kota yang kini telah saya tinggalkan. Kota mana sajakah itu? Simak di tulisan saya berikut ini.


Kota 1: Malang, Jawa Timur

Malang adalah salah satu kota yang mendapat julukan kota pelajar. Kota ini menjadi tujuan banyak pelajar, terutama mahasiswa, untuk menimbah ilmu setiap tahunnya. 


Sebetulnya saya ragu apakah masa kuliah saya selama tinggal di Kota Malang dapat disebut sebagai merantau. Karena apa? Karena saya lahir dan tinggal di kota ini sampai saya lulus SMP. Saat SMA pun saya bersekolah di kota Malang meskipun harus menempuh jarak kurang lebih 20 km setiap harinya dari Kota Batu. 


Namun, karena masa ini adalah pertama kalinya saya tinggal mandiri di indekos, jadi anggap saja masa kuliah ini adalah pengalaman pertama saya sebagai perantau. Bersama sepupu yang tinggal sekamar bersama saya sejak tahun kedua, masa-masa kuliah saya tak pernah sepi.


Seperti yang saya ceritakan di atas, meskipun jarak indekos saya dengan rumah tidak terlalu jauh (sekitar 17 km), namun saya tetap tidak bisa sering pulang ke rumah karena kesibukan saya sebagai mahasiswa. Sebagai gantinya, saya sering menginap di rumah sahabat-sahabat saya untuk mengerjakan tugas bersama. Sampai-sampai saya menyimpan sikat gigi di masing-masing rumah mereka agar tidak kelupaan saat menginap (ada 4 rumah yang sering saya singgahi).


Masa-masa kuliah ini adalah masa yang sebetulnya berat namun sangat menyenangkan. Bersama teman-teman dan sahabat-sahabat terbaik, 4 tahun itu terlewati dengan indah.


Kota 2: Badung, Bali

Setelah lulus kuliah, saya mendapatkan pekerjaan di sebuah kontraktor swasta yang memiliki cabang di Pulau Bali. Bekerja di kontraktor membuat tempat kerja saya berpindah-pindah sesuai lokasi proyek dimana saya ditempatkan. Begitu juga dengan tempat tinggal. Karena saya tidak bisa naik kendaraan, dan saat itu kendaraan umum di Bali sangat terbatas, saya terpaksa berpindah tempat tinggal mengikuti lokasi proyek.


Satu tahun pertama saya menyewa sebuah kamar kos di kawasan Ungasan. Lokasinya sangat dekat dengan proyek. Hanya tinggal menyeberang jalan dan berjalan sekitar beberapa meter, sudah sampailah saya di tempat kerja.


Tahun kedua, saya mendapatkan proyek di wilayah Nusa Dua. Saat itulah saya pindah dan tinggal di rumah Bude yang ada di wilayah sana. Sayangnya, proyek saya masih cukup jauh dari rumah Bude. Proyek pertama sekitar 4 km sedangkan proyek kedua sekitar 3 km.


Setelah selesai proyek di Nusa Dua, saya ditempatkan di sebuah proyek yang berlokasi di area Jimbaran. Saat itu saya kembali menyewa kamar di indekos pertama saya. Dari sana ke proyek berjarak sekitar 4 km. Untungnya ada angkutan umum yang lewat sehingga saya bisa naik saat berangkat dan pulang kerja.


Pada tahun ketiga ini saya juga sempat diperbantukan di proyek yang berlokasi di kawasan Legian. Sekali lagi saya pindah kos ke wilayah Legian selama beberapa bulan. 


Saat kembali ke proyek Jimbaran, ternyata angkutan yang biasa saya naiki tidak beroperasi lagi, sehingga saya tidak bisa kembali ke kos saya yang pertama. Saya pun memutuskan untuk mencari kos yang dekat dengan proyek. Cukup sulit mencari kos di sekitar Jimbaran. Namun akhirnya saya mendapatkan kamar yang sesuai keinginan meskipun harus merogoh kocek cukup dalam.


Tinggal di Bali adalah masa merantau yang paling nomaden. Namun saya senang karena bisa merasakan tinggal di berbagai wilayah yang berbeda, meskipun semuanya masih masuk di kawasan Kabupaten Badung.


Kota 3: Batam, Kepulauan Riau

Saat memutuskan menikah, saya keluar dari pekerjaan saya di Bali dan mengikuti suami tinggal di Kota Bandung. Selama 3 tahun di Kota Bandung, kami menumpang di rumah mertua. Kami baru pindah dari rumah mertua saat suami pindah kerja ke kota Batam.


Pindah ke Kota Batam adalah pertama kalinya saya merasa takut dan was-was untuk pindah. Karena Batam jauh sekali dari Pulau Jawa dan kami tidak punya kenalan yang tinggal disana. Untungnya, mendekati saat-saat keberangkatan, saya mendapati ada salah seorang teman SMP saya yang tinggal di sana. Berbekal informasi darinya, ketakutan saya untuk berangkat ke Batam pun sedikit demi sedikit sirna.


Bahkan tinggal di Batam merupakan salah satu masa indah dalam hidup karena saya bisa bertemu dan berteman dengan orang-orang hebat yang baik hati. Sedikit curhatan saya tentang Batam bisa dibaca di postingan instagram berikut ini. Selain itu banyak juga tulisan saya tentang Kota Batam di blog ini.


Kota 4: Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, DKI Jakarta

Pertengahan tahun 2021 sekali lagi suami memutuskan untuk pindah kerja. Kali ini tujuannya adalah Ibukota Republik Indonesia, yaitu Jakarta. Cerita kepindahan saya ke Jakarta bisa dibaca di tulisan berikut ini.


Akhirnya Menjadi Pendatang di Jakarta


W Pondok Jaya Residence, Kost Nyaman di Area Mampang


Seperti yang saya ceritakan pada dua tulisan di atas, 5 bulan pertama tinggal di Jakarta kami memutuskan untuk menyewa kamar kos di kawasan Mampang Prapatan. Keputusan ini diambil karena saat itu Jakarta sedang dalam masa PPKM level 4, dimana kasus Covid-19 sedang tinggi-tingginya dan peraturan menjadi semakin ketat. Jadi, kami memilih tempat tinggal yang dekat dengan kantor suami.


Pada bulan kelima saat kasus Covid-19 mulai menurun, kami memutuskan untuk mencari kontrakan. Awalnya kami tetap mencari di wilayah Jakarta Selatan. Namun berminggu-minggu mencari, tak juga saya temukan kontrakan yang sesuai. Akhirnya berjodohlah kami dengan sebuah kontrakan di wilayah Jakarta Timur, tepatnya di wilayah Kampung Tengah, Kramatjati. Kami tinggal disana selama 4 bulan sampai akhirnya harus kembali pindah ke Kota Bandung di akhir bulan Maret yang lalu.


Meskipun tidak lama, setidaknya saya pernah merasakan hidup di Ibukota. Kota yang minim wisata alam dan menghadirkan mall disana sini. Tinggal disana sedikit banyak membuat saya merasakan apa yang dikeluhkan orang-orang tentang Jakarta selama ini. Sebuah momen singkat yang akhirnya akan menjadi sejarah dalam hidup saya.


Manfaat Merantau Bagi Saya

Merantau memberi banyak manfaat bagi saya. Salah satunya adalah melatih kemandirian. Tinggal jauh dari orang tua membuat saya harus bisa mengatur segala sesuatu tanpa bantuan mereka. Selain itu saya juga harus bisa mengatasi segala masalah yang saya hadapi seorang diri. Namun tentu saja dalam prakteknya saya tidak pernah menghadapi masalah-masalah itu sendirian. 


Selalu ada banyak orang baik yang muncul di sekitar saya dimana pun saya berada. Baik keluarga, sahabat, teman, rekan kerja atau bahkan orang asing yang tidak saya kenal sama sekali. Lingkaran saya pun semakin besar seiring makin banyaknya tempat yang saya kunjungi.


Selain itu tinggal di berbagai wilayah juga bisa menambah wawasan kita. Tentang budaya, wisata, kuliner, dan lain sebagainya. Apalagi Indonesia adalah negara yang kaya akan keragamannya. Tentu satu wilayah dengan wilayah lainnya memiliki nilai istimewa yang tidak sama.


Hal paling utama yang saya rasakan saat tinggal jauh dari orang tua adalah perasaan bahwa keluarga adalah sesuatu yang sangat penting. Jika saat tinggal di rumah saya jarang meluangkan waktu bersama keluarga, saat jauh dan berkesempatan untuk pulang, saya berusaha menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka.


Masih Mau Merantau Lagi?

Sejujurnya saya suka hidup berpindah-pindah namun jika dalam waktu yang terlalu singkat ternyata hal  itu menjadi sangat melelahkan. Apalagi saat ini saya sudah berkeluarga dan memiliki anak.


Jadi jika ditanya apakah saya masih mau merantau lagi, maka jawaban saya adalah “mau tapi tidak dalam waktu dekat”. Sekarang ini saya masih ingin menikmati tinggal dekat dengan salah satu keluarga, yang mana saat ini adalah keluarga dari pihak suami.


Suatu hari nanti jika Allah memang menghendaki saya untuk merantau lagi, semoga saat itu saya ditempatkan di tempat-tempat yang menyenangkan seperti selama ini. Juga dipertemukan dengan orang-orang baik yang membawa kebaikan dalam hidup saya. Aamiin.


You Might Also Like

2 komentar

  1. Merantauu bikin mba asri nulis di blog lagi yeaay. Wkwk. Kayaknya nemu satu kesamaan lagi deh sama mba asri nih, terbiasa hidup nomaden ya kita. Hoho..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha tau aja blogku jarang diisi lagi...

      Iya nih kita biasa hidup nomaden, tp pengalamanku masih jauh di banding mbak ima sih. Halo suhu :D

      Delete