Hidangan Lebaran yang Membekas di Hati

April 07, 2026


Membaca tulisan di blog tehokti, pemilik akun Instagram Indungbageur, tentang kue Lebaran membuat saya terinspirasi untuk menuliskan hidangan Lebaran yang berkesan bagi saya. Ada beberapa makanan yang begitu membekas di ingatan saya, baik makanan berat maupun cemilan. Apa saja makanan itu? Yuk, baca sampai habis.


Soto Ayam Lamongan Buatan Kakek

Almarhum kakek saya memang berasal dari Lamongan. Menurut cerita keluarga, saat mudanya beliau berjualan tahu campur. Namun, saya justru belum pernah merasakan tahu campur buatan kakek. Mungkin karena proses pembuatannya cukup rumit, sehingga semakin bertambah usia, beliau tidak lagi membuatnya.

Soto ayam Lamongan
(Foto buatan AI)

Sebagai gantinya, setiap Lebaran kakek selalu memotong ayam kampung peliharaannya, lalu memasak soto ayam untuk hidangan keluarga. Memang, di daerah saya, pada hari pertama Lebaran biasanya belum ada ketupat. Ketupat baru dibuat dan disantap sekitar seminggu setelahnya.

Soto ayam itulah yang hampir setiap tahun saya tunggu-tunggu. Bagi saya, soto ayam buatan kakek adalah yang paling enak. Saya sudah mencoba berbagai soto ayam di banyak tempat, tetapi menurut saya belum ada yang bisa menandingi rasa soto buatan almarhum kakek. Kuahnya terasa ringan, tidak eneg, namun tetap gurih dan sedap.

Sayangnya, soto ayam itu sudah tidak bisa lagi saya nikmati. Sepertinya tidak ada yang mewarisi resepnya. Saat ini yang tersisa hanyalah kenangan tentang rasa dan kebersamaan setiap Lebaran bersama kakek dan keluarga besar.


Tape Ketan Hitam dan Tetel

Tape ketan hitam pasti sudah banyak yang tahu, kan? Kalau tetel, mungkin beberapa dari kalian masih kurang familiar dengan namanya. Makanan ini juga dikenal dengan sebutan jadah, ulen, atau uli. Sudah terbayang, kan, bentuknya? Jika belum, silakan perhatikan foto ilustrasi di bawah ini.

Tape ketan hitam dan tetel
(Foto buatan AI)

Untuk makanan yang satu ini, sebenarnya jarang ada di rumah orang tua saya. Biasanya, saya justru menikmatinya saat berkunjung ke rumah saudara. Beberapa adik dari buyut saya sering menyediakan menu ini kala lebaran. Jadi, makanan inilah yang selalu saya cari saat bersilaturahmi ke rumah mereka.

Perpaduan rasa manis dari tape ketan hitam dan asin gurih dari tetel membuat hidangan ini terasa begitu nikmat. Kombinasi sederhana, tetapi selalu berhasil membuat saya ingin makan lagi dan lagi. Tapi tentu saja tidak boleh terlalu banyak makan tape karena kandungan alkohol dan gasnya bisa membuat perut terasa tidak nyaman.

Sayangnya, makanan tradisional ini semakin jarang ditemui di era yang serba modern. Keberadaannya kalah populer dibanding aneka kue kering yang praktis dan beragam.


Lepet dengan Bungkus Janur

Buat kalian yang mungkin belum tahu, lepet adalah kue tradisional khas Jawa yang berbahan dasar beras ketan, kelapa parut, dan garam, lalu dibungkus dengan janur (daun kelapa muda) dan direbus hingga matang. 

Selain dibungkus dengan janur, ada juga lepet yang menggunakan daun pisang sebagai pembungkusnya. Saya pribadi lebih suka yang dibungkus dengan janur. Menurut saya, teksturnya menjadi lebih padat, sedangkan yang menggunakan daun pisang biasanya terasa lebih lembek.

Kiri ke kanan: lepet bungkus janur dan lepet bungkus daun pisang
(Foto buatan AI)

Tak cuma dibedakan berdasarkan bahan pembungkusnya, lepet juga ada yang menggunakan kacang dan ada yang tidak. Kacang yang digunakan biasanya adalah kacang tolo. Dulu, waktu kecil saya tidak suka lepet yang ada kacangnya. Kalau sekarang saya suka yang mana saja. Sama-sama enak, hehehe…

Oh ya, di daerah saya, lepet ini biasanya dibuat bersamaan dengan ketupat, sekitar seminggu setelah Lebaran. Momen tersebut sering disebut juga sebagai “Riyoyo Kupat” atau Lebaran Ketupat. Sayangnya, di Bandung belum pernah saya temui ada yang membuat lepet saat Lebaran. 

Terakhir kali saya makan lepet sekitar tahun 2023. Waktu itu, ibu membawakannya langsung dari rumah. Jadi rindu, deh.


Kue Nastar dengan Bentuk Daun

Sejak kecil, saya tidak terlalu suka nastar karena pada zaman dulu rata-rata nastar diberi cengkeh di bagian atasnya. Aromanya itu yang kurang nyaman bagi saya. Selain itu, adanya cengkeh juga sedikit memengaruhi rasa. Belum lagi selai nanasnya yang rata-rata terasa terlalu manis. Jadi, begitulah alasan mengapa saya dulu kurang menyukai nastar

Nah, pada suatu hari di tahun 2011, sepulang dari mudik, salah seorang teman sekantor saya membawa nastar buatan mamanya dari kampung halaman. Dia menawari saya untuk mencoba nastar berbentuk daun itu. Karena merasa bentuknya unik, saya pun mengambil satu. Kenapa unik? Karena pada masa itu, hampir semua nastar yang saya temui berbentuk bulat. Jarang sekali ada yang membuat berbentuk daun seperti itu.

Kurang lebih seperti ini nastar daunnya
(Foto buatan AI)

Setelah menggigitnya, saya langsung membatin, “Wah enak sekali nastar ini. Lumer di mulut. Apalagi tidak ada aroma cengkeh dan selai nanasnya pun tidak terlalu manis.” Sejak saat itu, saya nobatkan nastar buatan mama teman saya itu sebagai nastar terenak yang pernah saya makan. 

Siapa sangka, pembuat nastar itu sekarang menjadi mertua saya. Hahahaha…

Setelah saya menikah, beberapa kali mertua masih membuat nastar itu. Namun, akhir-akhir ini beliau sudah tidak membuatnya lagi karena faktor usia. Tenaga beliau tentu sudah tidak sekuat dulu. Rindu, sih. Mungkin suatu saat saya harus meminta resepnya agar bisa mencoba membuatnya sendiri.


Soto Banjar Buatan Mertua

Kalau di rumah orang tua saya dulu makanan khas Lebaran adalah soto Lamongan buatan kakek, di rumah mertua pun menunya sama-sama soto. Bedanya, soto yang disajikan adalah soto Banjar. Kenapa di Bandung justru memasak soto Banjar? Karena, seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, papa mertua saya berasal dari Kalimantan. Jadi, soto Banjar menjadi masakan khas Lebaran di rumah mertua saya.

Kira-kira seperti ini soto Banjar buatan mertua
(Foto pribadi diedit dengan AI)

Sejujurnya, sebelumnya saya belum pernah mencicipi soto Banjar. Jadi, saya tidak memiliki perbandingan dengan soto Banjar dari tempat lain. Namun, yang jelas, soto Banjar buatan mertua menurut saya enak. Biasanya, kami menyantapnya dengan lontong besek atau ketupat. Bagi yang kurang suka lontong, seperti si sulungku, biasanya memilih makan dengan nasi. Sama-sama enak, sih. Hanya masalah selera.

Isian soto Banjar yang dibuat mertua biasanya terdiri dari kentang, wortel, soun, dan ayam suwir. Kentang dimasak langsung bersama kuah soto, sedangkan bahan lainnya disiapkan terpisah. Tidak lupa ditambahkan perasan jeruk nipis dan taburan bawang goreng di atasnya. Kadang-kadang, telur rebus juga disajikan sebagai pelengkap.


Penutup

Setiap hidangan Lebaran memang punya ceritanya masing-masing. Tidak hanya soal rasa yang enak, tapi juga siapa yang membuatnya. Selain itu, biasanya kita juga akan ingat di mana kita menikmatinya serta momen kebersamaan yang menyertainya.

Dari soto ayam buatan kakek, tape ketan hitam dan tetel di rumah saudara, lepet yang dirindukan saat Lebaran Ketupat, hingga nastar dan soto Banjar buatan mertua, semuanya meninggalkan jejak manis yang tak terlupakan dalam ingatan saya.

Seiring berjalannya waktu, beberapa hidangan mungkin sudah jarang ditemui, bahkan ada yang tidak bisa lagi kita nikmati karena orang yang biasa membuatnya telah tiada atau sudah tidak sekuat dulu. Namun, kenangannya akan tetap tersimpan rapi di hati.

Kalau kalian, hidangan Lebaran apa yang paling berkesan di hati? Ceritakan di kolom komentar, ya.


Bandung, 7 April 2026

Pukul 14.30 WIB


You Might Also Like

0 komentar