Malu Karena Wastafel

July 24, 2020

Tantangan Rumah Belajar minggu ini mengangkat tema "Awkward Moment in Life". Jujur saja tema ini membuat saya berpikir keras. Apa itu awkward moment? Seperti apa kejadian-kejadian yang masuk dalam kategori ini? Bahkan saya sampai menelusuri google demi mendapat secercah ide. Akhirnya setelah berpikir mendalam, saya teringat kejadian ketika saya pertama kali ke Singapura dan menginap di Hotel Nuve di tahun 2016. Entah kejadian ini termasuk dalam kategori awkward moment atau bukan, tapi izinkan saya berbagi cerita (Untuk cerita lainnya tentang Hotel Nuve bisa dibaca di sini).


Kejadian ini terjadi pada hari kedua saya menginap di hotel tersebut. Pagi harinya saya memandikan Yoshi di wastafel. Awalnya, lubang wastafel tersebut tutupnya terangkat. Namun karena akan memandikan Yoshi, saya tekanlah penutupnya hingga rata dengan dasar wastafel. Setelah memandikan, saya berdirikan Yoshi di wastafel untuk bilasan terakhir. Saya coba membuka kembali tutup wastafelnya untuk membuang sisa air kotor yang menggenang. Akan tetapi saya tarik dan tekan bagaimana pun tetap tidak bisa terbuka. Saya pikir wastafelnya rusak. Jadi saya biarkan dulu airnya menggenang, lalu saya mengurus Yoshi terlebih dahulu.


Sampai saya dan suami selesai mandi, air di wastafel masih saja menggenang. Saya bingung kenapa bisa begitu dan masih berpikir bahwa wastafel tersebut macet. Akhirnya saya mencoba mencari bantuan. Kebetulan ada seorang ibu yang sedang membersihkan kamar di depan kamar kami. Sepertinya kamar tersebut baru saja ditinggalkan tamu sebelumnya. Saya pun memanggil ibu tersebut. Dengan bahasa Inggris yang ala kadarnya, saya berusaha menjelaskan keluhan saya. Untunglah ibu itu mengerti.


Setelah mendengar penjelasan dari saya, si ibu segera menuju kamar mandi. Dan tahukah kalian apa yang dilakukan ibu itu? Beliau menarik sebuah tuas yang ada di balik keran (Kalau tidak salah ingat posisinya. Pokoknya ada sebuah tuas yang ditarik si ibu). Setelah tuas ditarik, penutup wastafel pun terbuka, dan air mengalir dengan lancar. Saat itu saya merasa malu karena sudah berkata bahwa sepertinya wastafel itu rusak. Ternyata bukan wastafelnya yang rusak, saya saja yang udik. Saya cuma bisa melongo lalu tersenyum kikuk ketika air sudah hilang dan si ibu pamit pergi.


Rasanya saya ingin tertawa jika mengenang hari itu. Membayangkan mungkin saja dalam hati si ibu membatin "Aduh begini saja tidak tahu, Mbak". Tapi tentu saja si ibu tidak berkata begitu kepada saya. Jujur, baru pertama kali saya menemukan wastafel dengan sistem seperti itu. Pengalaman saya berkecimpung di pembangunan hotel bintang 4 dan 5 di Bali pun tidak ada yang menggunakan wastafel semacam itu. Rata-rata masih menggunakan wastafel dengan penutup manual atau tanpa penutup sama sekali. Ada pula yang cukup dipencet di penutupnya itu untuk menaik turunkan penutupnya. Memang setiap perjalanan ke tempat baru itu pasti membawa pengalaman baru bagi saya. Karena itulah saya senang bepergian ke tempat baru. Tidak masalah tempat itu menarik atau tidak, tapi pengalaman baru selalu saja menarik.


#RumbelMenulisIPBatam #RulisKompakan

#KomunitasIPBatam

You Might Also Like

6 komentar

  1. Wahh, memang teknologi semakin canggih ya mbak, hehe hikmahnya jadi tau ada yang modelan begituπŸ€­πŸ€—

    ReplyDelete
  2. Ealah, aku jg baru tau Mba ada wastafel macem begitu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete
  3. Hihihi, Untung ada si Ibuk ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betoooolll!!! Kl gak ada gak tau deh panik-panik sendiri hehhehe

      Delete