Merantau Itu Asyik
February 13, 2026Hari raya segera tiba. Mudik atau pulang kampung adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu bagi mereka yang merantau. Pulang ini memang kata yang definisinya tidak lagi sederhana ketika kita menjadi perantau, salah satunya adalah pulang kampung itu. Apalagi saat sudah berkeluarga. Pulang bisa memiliki banyak makna, juga banyak tempat tujuan. Seperti saat saya merantau ke Bali untuk bekerja. Pulang bisa berarti ke tempat kos atau ke rumah Bude yang kebetulan juga tinggal di Bali. Biasanya pulang ke rumah Bude ini saya lakukan di akhir pekan, sedangkan saat cuti panjang, definisi pulang berubah lagi menjadi pulang ke rumah orang tua atau pulang kampung. Hidup berpindah-pindah dan merantau memang sudah menjadi hal yang biasa bagi saya. Entah sejak kapan saya bisa dikatakan merantau, yang pasti, sejak kuliah, saya sudah tidak lagi tinggal di rumah orang tua. Meskipun saat itu jarak dari kos saya ke rumah hanya sekitar 17 km, tapi tetap saja saya tidak bisa bertemu orang tua setiap hari. Bahkan sebulan sekali pun belum tentu bisa pulang karena padatnya jadwal kuliah dan tugas-tugas yang menumpuk. Tak terasa hampir separuh usia saya dihabiskan dengan tinggal jauh dari orang tua. Tujuh kota, lima provinsi, dan tiga pulau telah menjadi saksi kehidupan saya sebagai perantau. Berjuta memori telah terukir di sudut-sudut kota yang kini telah saya tinggalkan. Kota mana sajakah itu? Simak di tulisan saya berikut ini. Malang adalah salah satu kota yang mendapat julukan kota pelajar. Kota ini menjadi tujuan banyak pelajar, terutama mahasiswa, untuk menimbah ilmu setiap tahunnya. Sebetulnya saya ragu apakah masa kuliah saya selama tinggal di Kota Malang dapat disebut sebagai merantau. Karena apa? Karena saya lahir dan tinggal di kota ini sampai saya lulus SMP. Saat SMA pun saya bersekolah di kota Malang meskipun harus menempuh jarak kurang lebih 20 km setiap harinya dari Kota Batu. Namun, karena masa ini adalah pertama kalinya saya tinggal mandiri di rumah kos, jadi anggap saja masa kuliah ini adalah pengalaman pertama saya sebagai perantau. Bersama sepupu yang tinggal sekamar bersama saya sejak tahun kedua, masa-masa kuliah saya tak pernah sepi. Seperti yang saya ceritakan di atas, meskipun jarak kos saya dengan rumah tidak terlalu jauh (sekitar 17 km), namun saya tetap tidak bisa sering pulang ke rumah karena kesibukan saya sebagai mahasiswa. Sebagai gantinya, saya sering menginap di rumah sahabat-sahabat saya untuk mengerjakan tugas bersama. Sampai-sampai saya menyimpan sikat gigi di masing-masing rumah mereka agar tidak kelupaan saat menginap (ada 4 rumah yang sering saya singgahi). Masa-masa kuliah ini adalah masa yang sebetulnya berat namun sangat menyenangkan. Bersama teman-teman dan sahabat-sahabat terbaik, 4 tahun itu terlewati dengan indah. Setelah lulus kuliah, saya mendapatkan pekerjaan di sebuah kontraktor swasta yang memiliki cabang di Pulau Bali. Bekerja di kontraktor membuat tempat kerja saya berpindah-pindah sesuai lokasi proyek di mana saya ditempatkan. Begitu juga dengan tempat tinggal. Karena saya tidak bisa naik kendaraan, dan saat itu kendaraan umum di Bali sangat terbatas, saya terpaksa berpindah tempat tinggal mengikuti lokasi proyek. Satu tahun pertama saya menyewa sebuah kamar kos di kawasan Ungasan. Lokasinya sangat dekat dengan proyek. Hanya tinggal menyeberang jalan dan berjalan beberapa meter, sudah sampailah saya di tempat kerja. Tahun kedua, saya mendapatkan proyek di wilayah Nusa Dua. Saat itulah saya pindah dan tinggal di rumah Bude yang ada di wilayah sana. Sayangnya, proyek saya masih cukup jauh dari rumah Bude. Proyek pertama sekitar 4 km sedangkan proyek kedua sekitar 3 km. Setelah selesai proyek di Nusa Dua, saya ditempatkan di sebuah proyek yang berlokasi di area Jimbaran. Saat itu saya kembali menyewa kamar di kos pertama saya. Dari sana ke proyek berjarak sekitar 4 km. Untungnya ada angkutan umum yang lewat sehingga saya bisa naik saat berangkat dan pulang kerja. Pada tahun ketiga ini saya juga sempat diperbantukan di proyek yang berlokasi di kawasan Legian. Sekali lagi saya pindah kos ke wilayah Legian selama beberapa bulan. Saat kembali ke proyek Jimbaran, ternyata angkutan yang biasa saya naiki tidak beroperasi lagi, sehingga saya tidak bisa kembali ke kos saya yang pertama. Saya pun memutuskan untuk mencari kos yang dekat dengan proyek. Cukup sulit mencari kos di sekitar Jimbaran. Namun akhirnya saya mendapatkan kamar yang sesuai keinginan meskipun harus merogoh kocek cukup dalam. Tinggal di Bali adalah masa merantau yang paling nomaden. Namun saya senang karena bisa merasakan tinggal di berbagai wilayah yang berbeda, meskipun semuanya masih masuk di kawasan Kabupaten Badung. Saat memutuskan menikah, saya keluar dari pekerjaan saya di Bali dan mengikuti suami yang sudah lebih dulu pindah kerja ke Kota Bandung. Sebelumnya, suami bekerja di Bali, satu perusahaan dengan saya. Selama 3 tahun di Kota Bandung, kami tinggal di rumah mertua. Kami baru pindah dari sana saat suami pindah kerja ke kota Batam. Tiga tahun tinggal di Kota Bandung diisi dengan hamil, melahirkan dan belajar menjadi ibu. Pada rentang waktu itu saya sempat berhenti menulis blog, jadi hampir tidak ada cerita masa-masa itu di blog saya. Padahal banyak juga hal seru yang terjadi. Kala itu, saya lebih aktif di instagram dibandingkan blog. Entah kenapa.Kota 1: Kota Malang, Jawa Timur
Kota 2: Kabupaten Badung, Bali
Kota 3: Kota Bandung, Jawa Barat
Kota 4: Kota Batam, Kepulauan Riau
Pindah ke Kota Batam adalah pertama kalinya saya merasa takut dan was-was untuk merantau. Karena Batam jauh sekali dari Pulau Jawa, dan saya merasa tidak punya kenalan yang tinggal di sana. Untungnya, mendekati saat-saat keberangkatan, saya mendapati ada salah seorang teman SMP saya yang tinggal di Batam. Berbekal informasi darinya, ketakutan saya untuk berangkat ke Batam pun sedikit demi sedikit sirna.
Bahkan tinggal di Batam merupakan salah satu masa indah dalam hidup karena saya bisa bertemu dan berteman dengan orang-orang hebat yang baik hati. Sedikit curhatan saya tentang Batam bisa dibaca di postingan instagram berikut ini. Selain itu banyak juga tulisan saya tentang Kota Batam di blog ini.
Kota 5 dan 6: Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, DKI Jakarta
Pertengahan tahun 2021 sekali lagi suami memutuskan untuk pindah kerja. Kali ini tujuannya adalah Ibukota Republik Indonesia, yaitu Jakarta. Cerita kepindahan saya ke Jakarta bisa dibaca di tulisan Akhirnya Menjadi Pendatang di Jakarta.
Lima bulan pertama tinggal di Jakarta kami memutuskan untuk menyewa kamar kos di kawasan Mampang Prapatan. Keputusan ini diambil karena saat itu Jakarta sedang dalam masa PPKM level 4, di mana kasus Covid-19 sedang tinggi-tingginya dan peraturan menjadi semakin ketat. Jadi, kami memilih tempat tinggal yang dekat dengan kantor suami.
Pada bulan kelima saat kasus Covid-19 mulai menurun, kami memutuskan untuk mencari kontrakan. Awalnya kami tetap mencari di wilayah Jakarta Selatan. Namun berminggu-minggu mencari, tak juga saya temukan kontrakan yang sesuai. Akhirnya berjodohlah kami dengan sebuah kontrakan di wilayah Jakarta Timur, tepatnya di wilayah Kampung Tengah, Kramatjati. Kami tinggal disana selama 4 bulan sampai akhirnya harus kembali pindah ke Bandung di akhir bulan Maret 2022.
Meskipun tidak lama, setidaknya saya pernah merasakan hidup di Ibukota. Kota yang minim wisata alam dan menghadirkan mall di sana sini. Tinggal di sana sedikit banyak membuat saya merasakan apa yang dikeluhkan orang-orang tentang Jakarta selama ini. Sebuah momen singkat yang akhirnya akan menjadi sejarah dalam hidup saya.
Kota 7: Kabupaten Bandung, Jawa Barat
Setelah pindah dari Jakarta, kami kembali tinggal di Bandung, tapi tidak lagi di kota melainkan di Kabupaten Bandung, mendekati tempat kerja suami. Kami menyewa rumah di salah satu perumahan di sana. Saat ini, kami sudah tinggal hampir empat tahun di rumah tersebut. Sampai kapan? Belum ditentukan hahaha...
Empat tahun di Kabupaten Bandung kembali diisi dengan kegiatan hamil, melahirkan dan merawat bayi hingga beranjak balita. Saya juga heran kenapa setiap pindah ke Bandung langsung disambut dengan kehamilan, bahkan mulai hamil dan melahirkannya di bulan yang sama. Sungguh ajaib. Untungnya, saat anak kedua ini masih saya sempatkan untuk menulis blog walaupun tidak rutin, jadi masih ada cerita yang bisa dikenang dari rentang waktu ini.
Manfaat Merantau Bagi Saya
Merantau memberi banyak manfaat bagi saya. Salah satunya adalah melatih kemandirian. Tinggal jauh dari orang tua membuat saya harus bisa mengatur segala sesuatu tanpa bantuan mereka. Selain itu saya juga harus bisa mengatasi segala masalah yang saya hadapi seorang diri. Namun tentu saja dalam prakteknya saya tidak pernah menghadapi masalah-masalah itu sendirian.
Selalu ada banyak orang baik yang muncul di sekitar saya dimana pun saya berada. Baik keluarga, sahabat, teman, rekan kerja atau bahkan orang asing yang tidak saya kenal sama sekali. Lingkaran saya pun semakin besar seiring makin banyaknya tempat yang saya kunjungi.
Selain itu, tinggal di berbagai wilayah juga bisa menambah wawasan, tentang budaya, wisata, kuliner, dan lain sebagainya. Apalagi Indonesia adalah negara yang kaya akan keragamannya. Tentu satu wilayah dengan wilayah lainnya memiliki nilai istimewa yang tidak sama.
Hal paling utama yang saya rasakan saat tinggal jauh dari orang tua adalah perasaan bahwa keluarga adalah sesuatu yang sangat penting. Jika saat tinggal di rumah saya jarang meluangkan waktu bersama keluarga, saat jauh dan berkesempatan untuk pulang, saya berusaha menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka.
Penutup: Masih Mau Pindah Kota Lagi?
Sejujurnya saya suka hidup berpindah-pindah namun jika dalam waktu yang terlalu singkat ternyata hal itu menjadi sangat melelahkan. Apalagi saat ini saya sudah berkeluarga dan memiliki anak.
Jadi, jika ditanya apakah saya masih mau pindah kota lagi, maka jawaban saya adalah “mau tapi tidak dalam waktu dekat”. Sekarang ini saya masih ingin menikmati tinggal dekat dengan salah satu keluarga, yang mana saat ini adalah keluarga dari pihak suami.
Suatu hari nanti jika Allah memang menghendaki saya untuk pindah kota lagi, semoga saat itu saya ditempatkan di tempat-tempat yang menyenangkan seperti selama ini. Juga dipertemukan dengan orang-orang baik yang membawa kebaikan dalam hidup saya. Aamiin.
Diperbarui di Bandung, 13 Februari 2026
Pukul 08.00 WIB


38 komentar
Merantauu bikin mba asri nulis di blog lagi yeaay. Wkwk. Kayaknya nemu satu kesamaan lagi deh sama mba asri nih, terbiasa hidup nomaden ya kita. Hoho..
ReplyDeleteHahaha tau aja blogku jarang diisi lagi...
DeleteIya nih kita biasa hidup nomaden, tp pengalamanku masih jauh di banding mbak ima sih. Halo suhu :D
Nggak enaknya merantau itu kalau salah satu dari suami/istri sakit, rumah tangga langsung oleng. Terutama kalau saya yang sakit yaa, suami harus cuti, ngurus rumah, anak-anak sama kerjaan kantor juga. Wkwk. Pasti tetep ditelponin orang kantor. Bitter sweet sekali pengalaman pindah-pindah tempat hidup ini ya Mba..
DeleteBener mbak. Aku yang hitungannya tinggal nggak jauh dari mertua aja masih oleng kalau ada yang sakit. Suamiku jg cuti kalau aku sakit. Ya begitulah ya. Suka dukanya ada aja 😁
DeleteMerantau memang sangat menantang sekaligus menyenangkan mba. Banyak pembelajaran berarti dan mba termasuk perantau sejati, sedari masa kuliah lho. Keren banget, jadi mandiri sejak muda dan terbiasa beradaptasi dengan situasi yang berbeda-beda.
ReplyDeleteAamiin, semoga jika ada ketetapanNya buat merantau lagi, dapatkan tempat rantauan yang menarik dan bikin nyaman serta betah ya.
Betul. Merantau memang bikin makin gampang adaptasi. Walaupun setiap pisah sama suatu tempat pasti ada sedih-sedihnya. Semoga pindah kota laginya nggak dalam waktu dekat. Masih pengen menikmati Bandung hahahaha...
DeleteKeren Mbak Asri, Sudah merasakan berbagai kota sat merantau. Kalau saya baru satu kota. Yaitu Jakarta hehehe. Saya sebenarnya juga suka merantau. Jadi banyak pengalaman dan tahu banyak hal. Bagus Memnag kalau masih sendiri. Bisa sat set saja tinggal bawa pakaian dan badan. Kalau sudah berkeluarga Memang repot Termasuk soal angkut barang. Juga kalau anak sudah sekolah. Harus pindah-pindah sekolah lagi.
ReplyDeleteBener. Kalau sudah berkeluarga apalagi anak sudah sekolah lebih repot. Makanya belum pengin pindah lagi dalam waktu dekat.
DeleteWahh, merantauuu. Nggak nyangka kalau mbak Asri itu orang Malang. Kalau pas main Ke Malang berkabar ya mbak, siapa tahu bisa kopdaran.. 🥰🥰
ReplyDeleteTapi era sekarang tuh perantau makin banyak mbak. Gimana² ada untungnya juga jadi perantau, kita bisa lebih luwes dan adaptif saat tinggal di mana pun. Mirip dengan istilah "tresna jalaran saka kulina".
Saya pun seorang perantau, meski merantaunya nggak jauh² di kawasan Jawa Timur aja. Hihihi.. 😅
Merantau itu serruuuuu banyak pengalaman dalam hidup ya mba.
ReplyDeletega monoton.
anak juga bs terlatih utk makin adaptif
Wow 7 kota. Terbilang banyak menurut saya. Pastinya asyik, meski dengan segala tantangannya ya mbak. Apalagi pas masih sendiri. Kalau sudah berkeluarga, terlebih punya anak, tentu jadi banyak pertimbangan. Saya juga merantau, dan memang seru dengan berbagai pengalamannya.
ReplyDeleteMenurutku berpindah-pindah itu seru.. Asal gak keseringan, dan tidak dalam frekuensi yang mepet, hahaha. Karena memang yang namanya adaptasi, serta mengatasi culture shock itu pasti butuh waktu.
ReplyDeleteAku sih baru merantau pas lulus SMK mbak. Tp so far ga ada rencana kemana-mana lagi sih, udah cocok lah disini, hihihi.
Apalagi kalo udah punya anak.. Rasanya berattt banget buat berpindah-pindah, lalu adaptasi lagi. Beda urusannya kalo kita masih bujang ya.
Kemarin-kemarin sering baca blognya Mbak Asri yang bercerita tentang Bali atau Bandung, sampai bertanya-bertanya, ini aslinya orang mana, ya? Ternyata dari Malang ta.. hehe.
ReplyDeleteSalut sih sudah menjelajah ke 7 kota besar di Indonesia. Kalau saya dulu cuma di Jakarta dan Tangerang aja merantaunya, belum pernah ke luar pulau Jawa.
Seru banget baca pengalaman pindah-pindah gini, kebayang effort setiap pindahannya
Aku pernah merantau. Ke Kalimantan Timur. Wuih. Mudik tuh adalah waktu-waktu yang paling ditunggu. Sayangnya, mudik itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Hehehe...
ReplyDeleteBanyak juga ya kota yang sudah kakak jelajahi untuk merantau. Aku jadi pingin merantau ke Bali.
Huaa, pengalaman merantaunya banyaaakk. Nah, iya, di Bali tuh minim angkutan umum sih ya, jadi gak bisa mengandalkan transum. Jadi sangat dimengerti banget kalau tinggalnya pindah pindah gitu. Paling enak ya kalau ke proyek tinggal jalan kaki aja.
ReplyDeleteTerus ternyata pernah jugaa toh di Jakarta. Dari baca pengalaman merantau ke banyak tempat gini, aku jadi penasaran, mana tempat yang paling banget nyantol di hati mbak? Entah karena suasananya, entah karena budayanya, ataupun orang-orangnya. Jangan bilang Malang ya, soalnya itu kan tempat lahir, istilahnya kayak "kampung halaman" lah gitu, wehehe.
Paling nyantol di hati kayanya Batam ya. Dulu sih pas di sana enak, nggak ada macet dan pantai di mana-mana. Terus makanannya enak. Tapi katanya sekarang mulai macet dan banjir kata teman-teman.
DeleteSebetulnya Bali juga berkesan. Dari kecil sering ke sana karena pakde tinggal di sana. Ketemu suami juga di Bali. Pulaunya Indah, banyak tempat wisata. Tapi dia minus banyak anjing berkeliaran. Trauma banget dikejar anjing dari kecil hahahaha...
Bandung dan Jakarta juga menarik. Nggak kuat macetnya aja 😅
Wah kak Asri sempat di Kramat Jati ya? Kalau masih sampai sekarang bisa sekalian kopdar kita kak, soalnya daku ngajar di sekolah daerah Pinang Ranti, bisa dah janjian di Cawang atau Cililitan wkwkwk.
ReplyDeleteSesuatu ya merantau itu, walau mungkin bisa melelahkan karena harus adaptasi ulang, tapi banyak pengalaman yang bisa dirasakan
Aku dulu tinggal di Jalan H. Ali. Iya sih nggak begitu jauh ya ke Cawang 😁
DeleteGak nanggung-nanggung, 7 daerah sekaligus. Dari 7 itu, saya rasa Batam menjadi daerah yang lumayan panas ya kak, meskipun gak sepanas Riau. Pastinya sering alamin jet lag dan lupa waktu ya. Apalagi pas Ramadan, dulu berasa jam 6 dah buka, pas di Batam 6 30 lebih baru buka puasa
ReplyDeleteMbak Asri keren ya, sudah banyak kota yang ditinggali. kalau saya baru Jakarta , Kebumen, lalu Depok. Padahal impian saya itu isa pindah-pindah ke berbagai kota lewat menulis. Dan merantau itu memang keren. Tidak hanya tinggal di daerah itu, tapi juga mengenal kebudayaan di sana.
ReplyDeleteWaaah ini bukan merantau lagi nih. Udah kyk traveling aja hidupnya. Btw, salam kenal dari tetangga Batu, meski masih jauh. Haha. Aku dari Kampung Inggris Pare mbak. Dulu ga nyangka bisa ikut merantau jg meski introvert parah. Tp sejak SMA, emg aku latih sosialisasi, termasuk ikut Pramuka biar mandiri. Nah di SMA suka tinggal di sanggar tuh ama teman2 yang rumahnya jauh, ngekos hemat gt lah. Haha.
ReplyDeleteAbis SMA, keterima kuliah hingga kerja di Bali. Btw, kita blm kenal sih ya saat itu. Aku tinggal di Denpasar sekitar 5 tahun. Pas 2008, kena mutasi kerja di Jakarta dan sekitar 2013 udah ber-KTP Jakarta. Sekalian biar urus dokumen gampang. Lagian mudik cuman setahun sekali. Haha.
Nah, kalo kak Asri baru masuk Jakarta tahun 2021, aku malah balik kampung ke Kediri tahun 2010. Pas pandemi lagi ganas2nya. Bayangin aja, aku tinggal di belakang kamar mayat RSCM. Udh tiap hari denger org meninggal. Daripada ketularan, aku pilih balik kampung aja.
Eh sampe rumah malah positif COVID. Amsyong. Tp berkah bgt bs merantau kmn2, walau ga sebanyak kak Asri. Smg udh ga pindah2 lagi ya kak. Kalo udh keluarga tuh rempong bgt pindahannya.
Wah Kampung Inggris Pare. Saya dulu pengen belajar di sana tapi nggak kesampaian.
DeleteSaya ke Bali tahun 2011, setelah lulus kuliah. Masnya sudah pindah ke Jakarta 😁
Masa-masa COVID emang ngeri ya. Alhamdulillah masih diberi selamat.
Pengalaman mbak Asrie persis kakak saya. Beliau ikut suami yang kerja di kebun sawit . Tau sendiri kan sawit gak ada di perkotaan. Jadilah beliau pindah² sejak nikah mulai dari Aceh, Bangka, Sulawesi dan terakhir Kalimantan. Saya juga merantau mbak tapi hanya 2 kota saja hehe gak banyak kaya mbak Asrie..
ReplyDeleteMembayangkan merantau berkali kali gini sebenernya agak dag dig dug tapi seru juga ternyata yaaaa kak.. aku dari kuliah pengen merantau tapi ga kesampaian krna kuliah masi di Jakarta dan sampe sekarang abis nikah juga tetep masih di Jakarta.. ehehehehehe
ReplyDeleteSalah satu hal yang aku sesali tentang masa mudaku adalah tidak merantau haha. Aku baru merantau ketika menikah dengan suami. Sementara suamiku, karena ortunya PNS yang berpindah2 jadi udah ke mana2.
ReplyDeleteNyesel aja dulu minimal kuliah lha, kok nggak kepikiran, minimal banget bisa kuliah di luar kota, lalu lanjut kerja di luar kota. Yaaa mungkin karena emang didikan keluarga kek kudu kumpul gitu yaa.
Makanya ke anak2ku aku selalu tekankan nanti saat dewasa silakan ke mana aja, bahkan ke LN juga nggak pa pa, dengan situasi Indonesia yang politik, sosial, ekonomi tidak menentu kini, silakan cari jalan yang terbaik.
Jujur dengan merantau emang menemukan kemandirian yang keknya dipaksa yaa. Dulu takut begini, begitu, sekarang udahlaah coba aja dulu hehe. Bener sekali menambah wawasan dan juga pergaulan dengan banyak orang.
Aku pun kalau dapat kesempatan pindah lagi ke lokasi yang lebih jauh kemungkinan besar aku say yes mbak, dalam waktu dekay ya gpp hihihi :D
Wah, mbak Aci keren
ReplyDeleteBisa merasakan tinggal di beberapa kota
Merantau bisa memberikan banyak pelajaran berharga y mbak
Tapi, masih sering kangen kampung halaman nggak mbak?
Kangen dong pastinyaaaa... Semua tempat yang pernah ditinggali bikin kangen sih. Bahkan Jakarta 😁
DeleteAku sudah merantai ke beberapa kota
ReplyDeleteDan memang menyenangkan
Namun lelah itu ada karena harus usung usung barang
Bahkan juga kudu siapin budget buat ekspedisi kirim barang tertentu
Tapi overall memang menyenangkan
Bener ya merantau tuh melatih diri kita, dari mandiri sampai ngerti cara ngatur uang bulanan 😂. Asyiknya itu pas bisa kenal orang baru, makan makanan unik, terus bikin cerita yang nanti bakal dikenang terus . Pokoknya merantau tuh bukan sekadar cari rezeki, tapi juga cari versi diri yang lebih kuat.. semangat terus kak achi..
ReplyDeleteorang baik akan ketemu orang baik kak, sehat selalu ya :D
ReplyDeleteWah alumni kampus di Malang juga mba *salaman*. malang jadi kota perantauan pertama saya juga, sebelum akhirnya ke Jakarta, Jogja, Jakarta Lagi, dan sekarang malah di Depok.
ReplyDeleteEmang seru sih merantau, banyak cerita yang tidak dirasakan mereka yang menetap.
Aku tuh iri deh dengan teman2 yg banyak pindah2 tinggalnya 😄😄. Mungkin Krn aku suka traveling, jadi buatku bisa tinggal dari 1 kota ke kota lainnya itu menarik.
ReplyDeleteSeumur hidup aku cuma ngerasain tinggal di Aceh dari Tk-SMU , lalu di Medan 6 bulan doang selesaikan smu, Krn di Aceh konflik GAM. Trus pindah ke Malaysia utk kuliah. Balik dr sana LGS JKT, sampai skr.
Beda Ama suami, yg ortunya diplomat. Dari usia dia 3 bulan, dah pindah2 negara krn penugasan papa sebagai diplomat. Dari Korea Utara, Jepang, Jerman, Finlandia, sampai Bulgaria. Dan kalau udh baca cerita dia, seru bangetttt.ngerasain sekolah beda2, walaupun kebanyakan anak diplomat mah pasti sekolah internasional, JD ga terlalu mingle with anak2 lokal juga.
Cuma harus diakui, ga enaknya itu pas packing barang hahahahah. Capeeeek 🤣🤣🤣. Belum lagi kalau udh selesai tugas, kirim barang dari negara trakhir ke Indonesia, ga semudah kirim barang dari jakarta ke solo misalnya. Mama mertua pun cerita, mereka kirim barang2 pakai kapal, butuh 3 bulan sampai, dan biayanya EUR3000. 😅😅. kayaknya kalau aku, mending aku tinggal deh tuh barang wkwkwkkwk
Dan mungkin susahnya dalam hal sekolah juga yaa. JD ga bisa terlalu Deket dengan teman2 sekolah. Akrab dikit, eh pindah lagi 😅😅
Ternyata sudah merantau kemana-mana ya. Berbagi kota dan daerah sudah ditinggali. Pengalaman hidupnya sudah banyak dan pastinya berkesan. Cuman entah kenapa lahirannya selalu di Bandung ya Mbak. Suasananya mungkin memang cocok untuk membangun keluarga. Semoga betah dan berbahagia
ReplyDeleteWah lumayan banyak ya kota yang pernah ditinggalinya mbak. Kalau aku cuma pernah ke Banjarbaru sih waktu kuliah. Btw aku salfok dirimu kerja di kontraktor dulu Kuliahnya di teknik sipil atau arsitektur ya?
ReplyDeleteKuliahnya arsitektur mbak
Deletecukup banyak juga ya kota yang jadi lokasi nomaden mbak Asri.
ReplyDeleteMemang berpindah-pindah tempat tinggal seperti ini, membuat kita jadi lebih banyak belajar mengenal karakter orang lain, yaitu misalnya tetangga-tetangga baru kita
aku dulu cukup lama merantau di Malang, bahkan Malang udah jadi kayak second home buatku. Malahan aku dulu bisa dibilang lebih cinta Malang daripada kota kelahiranku di Jember
Tahun berapa saja ada di Bandung, mbak? Saya lahir dan besar di Jogja, lalu memutuskan merantau ke Bandung tahun 2008 untuk berkuliah. Bertahan di Bandung hingga sekarang, hanya sebentar "break" di Jakarta (2014 awal), Cirebon (2014 awal juga), Jogja (2021-2023 karena pandemi dan tahun pertama menikah).
ReplyDeletePengen merantau ke luar negeri, sekadar SG atau KL jadilah, sebulan dua bulan juga gpp.
Aku di Bandung tahun 2015-2018. Terus pindah dan balik lagi 2022 sampai sekarang.
DeleteMerantau ke luar negeri kayanya asyik ya. Tapi kaya belum siap mental hahaha.