Mengisi Liburan Sekolah dengan City Tour Sederhana di Kota Bandung

February 09, 2026



Bulan Desember dan Januari selalu identik dengan liburan sekolah sekaligus liburan akhir tahun. Bagi sebagian orang, liburan kerap diisi dengan mudik ke kampung halaman, menginap di hotel, atau mengunjungi kota lain yang jauh. Namun, bagi sebagian lainnya, liburan cukup dinikmati dengan santai, tanpa rencana dan anggaran yang besar. Sederhana saja.

Liburan sekolah kemarin, kami memutuskan untuk tidak bepergian jauh. Kami hanya berjalan-jalan di sekitar Bandung Raya saat tanggal merah atau akhir pekan. Salah satunya adalah kunjungan kami ke Museum Geologi yang berakhir di Lapangan Saparua. Seperti apa perjalanannya? Simak, ya!

Rencana ke Museum Geologi yang Gagal

Minggu, 4 Januari yang lalu, kami mengajak anak-anak ke Museum Geologi. Kami ingin memberikan edukasi sejarah dan melihat fosil purba yang ikonik itu. Tempat ini sebenarnya sudah lama ingin kami kunjungi, tapi selalu tertunda karena satu dan lain hal.

Kami berangkat dari rumah sekitar pukul setengah sepuluh pagi. Jalanan menuju kota cukup lengang, hanya di beberapa titik yang agak padat. Sekitar pukul setengah sebelas, kami tiba di kawasan Museum Geologi. Saya memang lebih suka bepergian di hari Minggu karena lalu lintasnya tidak sepadat hari Sabtu. 

Begitu sampai di depan gerbang, tampak antrean pengunjung yang mengular. Sepertinya banyak keluarga lain yang memiliki ide serupa untuk menjadikan museum ini sebagai destinasi wisata keluarga. Apalagi beberapa sekolah sudah masuk mulai tanggal 5 Januari 2026, jadi bagi sebagian orang, hari itu adalah hari terakhir liburan.

Antrian di teras Museum Geologi siang itu
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Melihat antrean yang begitu panjang, kami menjadi malas dan memutuskan untuk urung masuk ke Museum geologi. Saya lalu mengajak anak-anak untuk main ke Lapangan Gasibu saja, dan mereka setuju. Kami pun menyimpan rencana berkunjung ke Museum Geologi untuk lain waktu.

Sebelum menuju Lapangan Gasibu, saya membeli kue cubit dari penjual gerobakan yang ada di depan gerbang museum. Satu pack kue cubit berisi sekitar sepuluh buah dijual seharga Rp15.000. Agak sedikit mahal menurut saya, tapi masih wajar karena berada di area wisata. Suami juga membeli kopi keliling yang mangkal di samping penjual kue cubit, saya lupa apa merk kopinya, yang saya ingat hanya gerobaknya berwarna merah.

Menikmati Minggu Siang di Lapangan Gasibu

Dengan bekal kue cubit dan kopi di tangan, kami berjalan menuju Lapangan Gasibu melewati trotoar yang teduh karena rimbunnya pepohonan. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 300 meter. Kami tetap bersemangat meski rencana awal gagal, sementara si sulung sedikit mengantuk karena tadi sempat tertidur di mobil.

Suasana Gasibu siang itu
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Setibanya di Gasibu, kami duduk di area yang teduh sambil menikmati kue cubit yang tadi dibeli. Angin bertiup pelan, suasana pun tidak terlalu ramai karena hari sudah semakin siang. Biasanya lapangan ini ramai pada pagi hari, banyak warga Bandung maupun wisatawan yang berolahraga atau sekedar jalan-jalan santai. 

Setelah si bungsu mulai bosan, kami pun beranjak untuk berjalan-jalan di sekitar lapangan. Kami melihat delman yang lewat di depan Gedung Sate, lari-lari kecil di track lari yang ikonik, lalu asyik bermain batu-batu di salah satu sudut lapangan. Satu hal yang tidak boleh terlewat tentu saja foto-foto. Hampir setiap sudut Gasibu terasa cantik untuk dijadikan latar.

Asyik bermain batu
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Makan Piza di Kafe Kebon

Menjelang tengah hari, perut yang mulai keroncongan membawa kami mencari tempat makan di sekitar Gasibu. Setelah browsing sebentar, saya menemukan sebuah tempat bernama Kafe Kebon, yang menu andalannya adalah piza. Dari namanya, saya membayangkan tempat ini berada di tengah taman luas atau kebun hijau yang asri.

Ternyata, realitanya sedikit berbeda dari ekspektasi. Kafe ini lebih cenderung memanfaatkan area halaman dan teras rumah yang ditata sedemikian rupa. Di halaman berdiri semacam pendopo yang berfungsi sebagai area makan sekaligus area memasak. Meski tidak seperti yang dibayangkan, suasananya cukup tenang dan nyaman untuk makan siang.

Siang itu kami memesan dua piza, satu tuna pizza dan satu cheese pizza. Untuk minum, kami memesan dua es teh manis. Karena mereka tidak menjual air mineral, saya pun tidak memesan minuman dan mengeluarkan botol minum dari dalam tas. Selain piza mereka juga menjual banyak makanan lainnya seperti nasi goreng, nasi bakar, spageti, yamien dan lain sebagainya. Untuk minuman juga bermacam-macam. Ada aneka kopi, non kopi dan jus.

Kiri ke kanan: tuna pizza, es teh manis, cheese pizza
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Sekitar lima belas menit kemudian, piza sudah dihidangkan di meja, menyusul minuman yang sudah lebih dulu datang. Ukuran pizanya cukup besar dan rasanya lumayan enak. Meski menurut saya saus pizanya agak sedikit manis, kami tetap makan dengan lahap. Lapar, cuy! Anak-anak dan suami sih tidak ada komentar apa-apa. Kata mereka enak saja semuanya.

Setelah perut cukup kenyang, kami bergantian salat. Di area belakang, dekat dapur, tersedia toilet, tempat wudu, dan musala yang cukup luas. Disediakan juga mukena, sarung, dan sajadah. Sayangnya, area laki-laki dan perempuan tidak dipisahkan, baik untuk toilet, tempat wudu, maupun musalanya.

Usai salat, kami menghabiskan sisa makanan dan minuman, lalu melakukan pembayaran di kasir. Siang itu total yang kami bayarkan sebesar Rp202.100. Pembayaran bisa dilakukan secara tunai maupun melalui QRIS.

Mencari Graphic T-Shirt di UNIQLO Heritage

Setelah makan siang, kami menuju Jalan L.L.R.E. Martadinata, atau lebih dikenal dengan Jalan Riau. Tujuan kami adalah ke UNIQLO untuk mencari graphic T-shirt. Begitu sampai, saya langsung terkesan dengan bangunannya yang menggabungkan nuansa modern dan heritage. Terkesan mewah sekaligus elegan.

UNIQLO Heritage
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Air mancur dan kolam ikan yang menyambut sebelum pintu masuk menghadirkan kesejukan di tengah cuaca Bandung yang sedang terik. Si bungsu pun langsung tertarik melihat ikan koi yang berenang ke sana kemari, bahkan sempat menolak ketika diajak masuk ke dalam toko.

Begitu berada di dalam, suasananya tidak jauh berbeda dengan cabang lainnya, modern dan rapi. UNIQLO menempati dua lantai bangunan, sementara lantai di atasnya memiliki fungsi lain, salah satunya Wheels Coffee Roasters yang berada tepat di atas toko.

Kami berkeliling dari lantai satu hingga lantai dua. Ternyata barang yang kami cari berada di lantai dua. Ada beberapa yang menarik perhatian, tetapi sayangnya model yang cocok tidak tersedia dalam ukuran yang kami butuhkan. Akhirnya, kami keluar tanpa membawa apa pun.

Bingung mau kemana lagi, kami pun mencoba mampir Heritage Factory Outlet yang berada di sebelahnya. Sebenarnya, factory outlet dan UNIQLO ini saling terhubung di bagian dalam, meskipun masing-masing punya pintu masuk sendiri.

Heritage Factory Outlet 
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Heritage Factory Outlet ini terasa jauh berubah dibandingkan terakhir kali saya ke sana pada tahun 2016. Entah mengapa, auranya sudah tidak semewah dulu. Pencahayaannya redup dan display-nya pun terlihat kurang rapi, terutama di bagian dalam. Padahal dulu factory outlet ini termasuk salah satu yang cukup terkenal dan ramai pengunjung. Mungkin masa kejayaan factory outlet di Bandung memang sudah mulai pudar.

Berburu Minuman Segar dan Jalan-Jalan di Lapangan Saparua

Setelah keluar dari Heritage Factory Outlet, cuaca semakin terasa panas. Kami belum ingin langsung pulang, jadi saya mengajak suami dan anak-anak mencari minuman segar. Kami berjalan mengikuti ke mana kaki melangkah hingga akhirnya menemukan gerai Avotime di depan Jumbo Eatery. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengajak ke sana.

Ternyata tempatnya hanya berupa stand kecil, sehingga tidak menyediakan area untuk minum di tempat. Karena saya sudah malas mencari tempat lain, akhirnya kami memesan Avocado Original (jus alpukat) untuk si sulung, serta Avocado Teler (es teler) untuk saya dan si bungsu. Suami tidak memesan apa pun, katanya minta sedikit saja nanti. 

Avotime pesanan kami
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Setelah mendapatkan pesanan, saya sempat bingung harus menikmati minuman ini di mana. Suami lalu mengusulkan untuk menuju Lapangan Saparua. Karena saya belum pernah ke sana dan jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 350 meter, akhirnya saya setuju.

Berbekal minuman, kami berjalan kaki menuju Lapangan Saparua. Sesampainya di sana, kami memilih duduk santai di bawah pohon yang rindang sambil menikmati Avotime, enak dan segar. Sambil mengamati sekitar, saya baru sadar kalau di area lapangan ini terdapat banyak penjual minuman dan jajanan. Otak saya langsung berpikir, “Harusnya tadi langsung saja ke sini. Lebih dekat dari Heritage.”

Lapangan Saparua sore itu
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Setelah minuman habis, kami turun ke area lapangan untuk melihat anak-anak yang sedang latihan sepatu roda. Si bungsu pun kembali lari-larian dengan riang di area terbuka ini, sungguh tidak ada capeknya. Setelah memutari lapangan dan kembali ke tempat duduk kami tadi, kami pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah menjelang sore.

Penutup: Hari yang Sederhana tapi Berkesan

Kami tiba di rumah sekitar pukul 4 sore dan langsung istirahat. Malamnya, kami menutup hari dengan memesan nasi goreng dan mi goreng dari tempat langganan di dekat rumah. Rasanya enak dan porsinya jumbo. Setelah hari yang cukup melelahkan, kami semua makan dengan lahap.

Liburan kali ini memang tidak mewah. Tidak ada staycation atau perjalanan jauh, tapi hari ini tetap menjadi hari yang berkesan. City tour di kota sendiri ternyata tak kalah menyenangkan, meskipun ada tujuan yang tidak terealisasi.

Salah satu tips liburan dari saya adalah berani mengubah rencana ketika ada satu dan lain hal yang tidak sesuai harapan. Saat liburan, tidak semua rencana harus berjalan mulus. Terkadang, membatalkan satu tujuan justru membuka ruang untuk pengalaman lain yang tak kalah menyenangkan.

Sampai jumpa di cerita perjalanan saya berikutnya!


Bandung, 9 Februari 2026

Pukul 09.00 WIB



You Might Also Like

20 komentar

  1. Meski liburannya dan staycation sederhana tapi justru menyenangkan mbak. Sewaktu ke Bandung dulu saya nggak sempat ke Saparua, padahal kalau nggak salah di sana ada kebun binatangnya. Asik juga nongkrong sama anak² di geloranya, mana teduh pula sambil menikmati Avocado Timenya.. 🥰🥰

    ReplyDelete
  2. Mba emang kalau ke Geologi mah ngantri terus tapi tenang diatur jg masuknya jadi ga berbondong-bondong masuk..keliatannya mmg antrian panjang namun sampe di dalam cukup lowong juga dan masih bisa menikmati isi museum dengan cukup. Meski ga jadi ke destinasi utama tp senangnya bisa keliling makan piza dll ya Mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akuu malah salfok sama komen ini, hahaha. Jadi catatan aku juga nih kalau kapan-kapan mau ke museum Geologi. Udah beberapa kali ke Bandung, pengennya sih sempet ke museum ini, tapi karena gak sejalan, jadinya kelewat melulu.

      Alhamdulillah tapi ya mbak Asri, walaupun gak jadi ke tujuan utama, tapi tetap berkesan karena bisa ke mana-mana seharian. Biasanya justru plan B (yang sebenernya gak direncanain) gini gini yang bikin perjalanan jadi makin berkesan yaa :D

      Delete
  3. Aku inget zaman FO masih booming, tiap ke bandung pastiiiiii Ama suami masuk ke tiap FO deh 🤣🤣🤣. Aku lupa FO yg mana, cuma pernah ketemu yg jualan baju nya sesuai bangettt Ama seleraku. Jd sampe beli banyaak 😄😄.

    Sayang banget kalau yg skr udh ga kayak dulu yaa.

    Sbnrnya tgl 1-2 may besok aku ke bandung mba, nemenin temen dari Malaysia yg mau liburan. Tp Krn cuma semalam, msh blm yakin nih mau kemana. Kalau temenku sih pengennya wiskul di bandung. Kami stay di Braga, JD mungkin bakal di area situ kebanyakan.

    ReplyDelete
  4. Gapapa mbak, meskipun gagal ke Museum geologi, tapi akhirnya jadi melipir ke banyak tempat. Khususnya kuliner ya, ini sehari mampirnya lumayan banyak juga hahahaha.
    Bagiku, mau main atau nongkrong dimanapun, sejatinya bukan masalah. karena yang terpenting adalah momen bersama-nya itu. apalgi kalo masih dalam masa golden age ya... Duh, walau cuma maen di lapangan.. itu gak bisa terlupakan lho

    ReplyDelete
  5. Jalan-jalan yang meskipun tanpa planning namun ternyata sampai menghabiskan waktu seharian ya mba...bisa mampir ke banyak tempat dan yang penting tetap quality time sama anak ya mbaaa...
    Btw bangunan uniqlo heritage nya cakep yaa mbaa beda sama yang bisa aku lihat karena menyatu sama mall ..

    ReplyDelete
  6. Aku yang membacanya saja berkesan sekali mba, bersama anak2 menikmati liburan. Senang sekali buah hatinya manut ketika dialihkan tujuan awal ke Museum Geologi jadi Lapangan Gasibu.

    Kulinernya-pun menarik, dari pizza sampai nasi goreng, belum lagi sempat ke toko busana uniqlo. Hari yang menyenangkan.

    ReplyDelete
  7. Adakalanya mengubah rencana liburan, gak selamanya seperti terlihat gagal dengan plan A ya, karena kan namanya traveling memang kudu punya banyak rencana sehingga momen liburan tetap berkesan, dan bisa jadi gagalnya rencana awal ada banyak hikmah yang didapatkan.

    ReplyDelete
  8. City tour di musim liburan, bisa jadi opsi yang lebih masuk akal. Walaupun di beberapa area wisata lokal pun bakalan ketemu sama antrian panjang dan merubah tujuan wisata secara mendadak gapapa banget. Selama semua happy. Apalagi bisa jajan kue cubit dan sepertinya gerobak kopi warna merah itu kopi jago sering nangkir di depan kantor pas masih ngantor hehehe.

    Banyak yang menarik lho dari semua yang dikunjungi. Apalagi tampilan pizza nya, ngiler aku ngeliatnya.

    Heritage Factory Outlet, memang terasa beda sih. Aku pun beberapa kali kesana dan terakhir 2024 emang lebih agak redup.

    ReplyDelete
  9. Kalo ke museum Geologi tuh jadi keinget pny pacar sekitar situ. Dia anak Unpad. Sekitaran 2012an kopdar dan dia ngajak jalan2 ke situ. Bener2 random deh. Sambil ngobrol dan ngelihat isi museum. Kebetulan dtg pas hari kerja dan kita cuti bersama. Jdnya emg ga serame kalo weekend kyk kak Asri batal ke situ. Udh pasti rame deh kl hari Minggu.

    Dan pastinya cari kulineran di Gasibu. Dan tentunya sambil ngobrol2 lagi dan ngelihat org jogging di sana. Duh Bandung emg ngangenin deh. Dan smua tinggal memori krn kita pilih pisah dgn baik2. Wkwk. Alasannya ya tau sndiri lah. Mitos org Jawa dan org Sunda. Wkwkwk.

    ReplyDelete
  10. Eh seru lo jalan-jalan keliling kota Bandung seperti ini karena kadang-kadang walaupun kita tinggal di sana tapi kita itu cuma lewat dan tidak menikmati suasana. Tapi kalau jalan-jalan seperti ini pastinya sangat menyenangkan dan juga kita bisa lebih memahami kota dan menikmati menjadi turis dadakan yang pasti dia juga menyenangkan ya karena itu itungannya liburan loh

    ReplyDelete
  11. Diawali di musem geilogi dan berakhir di saparua apik bangeut teh , a day in my life today yg menyenang kan ya , enak makan enak pemandangan bandung gitu lho

    ReplyDelete
  12. Cerita yang manis menghabiskan waktu bersama keluarga, Mbak Asri. Sederhana saja, tapi pasti berkesan bagi semua. Bondingnya itu dapat banget. Setelah gagal ke museum Geologi, langsung lanjut dengen rencana baru ya. Dan ditutup manis dengan dengan makan nasi goreng dan mie goreng di rumah. Pasti tidurnya nyenyak karena aku sudah melewati hari yang menyenangkan sepanjang hari

    ReplyDelete
  13. Jalan-jalan sama keluarga memang nggak harus ke luar kota ya, mbak. Bisa juga eksplorasi kota sendiri siapa tahu ketemu tempat menarik dan hiddem gem gitu. Aku sendiri pas liburan kemarin juga nggak ke Mana-mana cuma sempat ke kota sebelah aja pas ada walimahan sepupu

    ReplyDelete
  14. Sepakat banget ama kalimat "berani mengubah rencana ketika ada satu dan lain hal yang tidak sesuai harapan". Aku dulu pas ke Bandung bener-bener gak sesuai ekspektasi.. soalnya pas itu tiap hari hujan.. jadinya lebih banyak k mall daripada ke alam 😁.

    ReplyDelete
  15. Kalau kami terakhir ke Bandung juga gagal masuk museum karena pas hujan kala itu hehe.
    Yaaa berarti kudu balik Bandung lagi kyknya ya mbak tapi bukan saat musim lobiran sekolah hehe.
    Wah inget Lapangan Gasibu inget pas anak2 masih kecil kami ajakin main di sana juga. Saat itu sore dan sepi jadi mereka bocil2 pada berlarian hehe.
    Ternuata ada kafe yang menyediakan menu pizza yaa menarik juga nih, karena anak2ku sangat suka sama pizza, kapan2 bisa mampir😀
    Kalau Lapangan Saparua juiur aku baru denger nih mbak 😀
    Kalau Heritage FO pernah denger aja tapi belum pernah masuk dan belanja juga di sana. Next deh semoga bisa mampir.
    Bener mbak zaman aku sekolah/ kuliah dulu keknya munvul FO fi mana2 yaa. Bahkan kota2 lain mengikuti. Sekarang keknya mulai kalah sama pabrikan Cina gak sih? Sedih banget lho.
    Semoga nanti ada masanya produksi lokal yang berkualitas juga bisa berjaya lagi ya.

    ReplyDelete
  16. City tour itu seruuu..keliling² Bandung . Bandung sih gak akan ada habisnya buat dijelajahi....kuliner, wisatanya ah seruuu banget keliling Bandung

    ReplyDelete
  17. Aih seru banget ini jalan jalan pasti.. walau ada list yang gak keceklis aman lah ya.. nanti bisa main main lagi ..

    ReplyDelete
  18. Iya ih paling males ebeenrnya ke tempat wisata kalo musim libur, ga mungkin ngga rameeee.. pasti selalu rameeee.. huhuhuhuhu. Tapi ya namanya musim liburan yaaaa..

    ReplyDelete
  19. Emang mager dan bikin nggak mood banget liat antrian panjang ke tempat wisata. Untungnya bandung punya banyak tempat yang bisa dieksplor ya buat keluarga, bisa cari yang nggak banyak orang tau juga sebagai warga bandung. Hoho..

    ReplyDelete