Kita Sahabat
February 06, 2026“Tahu nggak sih? Ada cowok yang aku suka di kelas,” kata Arin tiba-tiba, memecah keheningan.
Ia berbaring miring menghadapku, rambut ikal sebahunya bergerak sedikit saat ia berpaling. Matanya berbinar, seolah tak sabar ingin berbagi rahasia.
“Siapa? Iiiiiih, kok nggak pernah bilang!” Aku memekik kecil, tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku. Aku ikut berbaring miring, menatapnya lekat-lekat.
Siang itu, udara dingin menyusup melalui celah-celah jendela vila tempat kami menginap. Liburan kenaikan kelas kali ini, aku dan teman-teman sekelas sepakat mengadakan perpisahan karena saat kelas tiga nanti kami semua belum tentu berada di kelas yang sama.
Di dalam kamar, aku dan Arin, sahabatku, berbaring di atas kasur. Langit-langit kamar memantulkan bayangan ranting-ranting pohon cemara yang bergoyang diterpa angin. Cahaya matahari menelusup lewat jendela yang dilapisi kain tipis, menciptakan suasana syahdu di antara kami.
“Tapi janji jangan bilang siapa-siapa, ya,” kata Arin sambil mengangkat kelingkingnya. Aku tertawa kecil lalu menyambut kelingkingnya, mengikat janji.
Arin tersenyum malu-malu. Beberapa detik jeda yang ia berikan terasa seperti bermenit-menit bagiku. Aku semakin tak sabar.
“Brama,” bisiknya tiba-tiba di dekat telingaku.
Aku terhenyak. Jantungku berdegup kencang. Nama itu… Nama yang selama dua minggu ini terus berputar di kepalaku. Ingatanku seketika melayang pada kejadian dua minggu lalu.
Saat itu, hari Kamis, aku sedang belajar di kamar ketika sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Dari Brama.
Dara, kamu lagi apa? Maafkan aku. Tapi rasanya canggung sekali saat kamu mendiamkanku seperti tadi siang. Aku mendadak merasa kehilangan kamu. Dari kejadian tadi siang, aku sadar bahwa ternyata aku memang ada rasa sama kamu.
Pesan itu membuatku terkejut. Brama, teman sekelasku, yang selama ini hanya kuanggap teman biasa, tiba-tiba mengungkapkan perasaannya lagi. Padahal, hari Selasa, dia mengirim pesan yang sangat berbeda—pesan yang mengatakan bahwa dia merasa salah dengan pernyataan hatinya yang baru dia ungkapkan pada Minggu malam, dan meminta aku untuk melupakannya.
Aku jelas merasa kecewa dan bingung. Aku merasa dipermainkan, karena sejujurnya, saat Brama mengungkapkan perasaannya untuk pertama kali, ada sedikit rasa bahagia yang muncul di dadaku. Mengapa dia begitu plin plan?
Dua hari ini, aku memilih untuk mendiamkannya. Meskipun dia duduk hanya berjarak satu lorong kursi dariku, aku sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya sepanjang hari, seolah-olah dia bukanlah orang yang biasa aku ajak bicara.
Selama ini, aku dan Brama memang berteman dekat, tapi lebih karena kebiasaan daripada kedekatan pribadi. Bisa dibilang, kami adalah teman yang sering jalan bareng dan nongkrong bersama, walaupun selalu ramai-ramai dan tidak pernah berdua saja. Aku sering meminjam komik darinya, dan karena dia duduk di samping bangkuku—hanya berjarak satu lorong kursi—kami sering saling meminjam barang dan mengobrol tentang banyak hal.
Namun, sejak kejadian itu, semuanya berubah. Pesan itu mengubah segalanya. Brama tidak lagi sekadar teman yang duduk di sebelahku. Dia menjadi seseorang yang tiba-tiba membuatku merasa canggung, bingung, dan jengkel. Terutama karena dia tak pernah mengungkapkan maksudnya dengan jelas.
Malam itu, aku membaca pesannya berulang kali. Semakin kubaca, rasanya semakin tidak karuan, antara senang namun juga kesal. Akhirnya, kuputuskan untuk tidak membalasnya. Aku mengambil kembali buku fisika yang tadi kubaca, mencoba fokus pada soal-soal yang belum berhasil kupecahkan.
Belum selesai aku mengerjakan satu soal, dering ponsel mengagetkanku. Aku melihat nama yang tertera di layar. Brama! Mau apa lagi dia sekarang? Dengan kesal namun jantung berdebar, aku menjawab panggilan itu.
"Kenapa?" jawabku ketus begitu aku menekan tombol hijau di ponselku.
"Kamu masih marah?" Suara Brama di seberang sana terdengar lesu.
Aku diam. Memilih untuk tidak menjawab.
"Kamu masih marah?" ulang Brama, nadanya lebih pelan, seperti mencoba membujukku.
Aku mendengus pelan. "Menurutmu?"
Dia terdiam sejenak. Aku bisa merasakan ia sedang menyusun kata-kata yang tepat.
"Dara... aku tidak tahu harus bilang apa," katanya akhirnya. "Waktu itu, aku tidak yakin dengan perasaanku. Makanya, aku bilang untuk melupakannya. Tapi sekarang..." Kata-kata Brama menggantung di udara.
Aku memejamkan mata, menahan diri agar tidak berdecak kesal.
"Sekarang apa, Brama? Kamu ingin aku percaya lagi sama kata-katamu? Setelah kamu bilang untuk melupakannya, sekarang kamu bilang kamu ada rasa sama aku? Kamu pikir aku apa?"
"Dara, aku—"
"Cukup, Brama," potongku cepat. "Aku nggak butuh penjelasan lagi."
Aku segera menekan tombol merah, memutus panggilan itu sebelum Brama sempat mengatakan apa-apa lagi.
Belum tuntas lamunanku, tiba-tiba, kurasakan sebuah tangan menggoyang-goyang bahuku.
“Dara… kok kamu diem aja, sih?”
Aku mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaranku. Arin masih berbaring di sampingku, menatapku dengan tatapan bingung.
“Oh, iya. Maaf,” jawabku pelan, memaksakan senyum. “Tadi kamu bilang apa?”
Arin mendesah, menggulung rambutnya yang ikal dengan jari.
“Kok kamu nggak kaget, sih? Aku baru aja bilang kalau aku suka Brama!”
“Oh… iya,” gumamku sambil berusaha menormalkan ekspresi wajahku. “Kaget, kok.”
“Kamu nggak marah, kan?” tanya Arin tiba-tiba.
Aku menelan ludah. “Kenapa aku harus marah?”
Arin menghela napas panjang. “Ya… nggak tahu. Mungkin karena kamu sama Brama deket.”
Aku memaksakan tawa kecil. “Aku sama Brama cuma teman biasa.”
“Tapi kalian sering ngobrol, kan? Duduknya juga deket. Aku jadi takut aja kalau kamu ternyata juga suka dia,” kata Arin sambil menatapku lurus-lurus, seolah ingin membaca pikiranku.
Aku terdiam. Ada desir aneh yang menjalar di dada. Brama, Arin, pesan itu, dan perasaanku. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Nggak, kok,” jawabku akhirnya. “Aku nggak ada apa-apa sama Brama.”
Arin tersenyum, meskipun masih ada keraguan yang jelas di matanya. “Syukurlah. Soalnya aku udah lama banget naksir dia. Kamu tahu nggak? Waktu dia pinjem pulpenku pas ulangan minggu lalu, jantungku rasanya mau copot!”
Aku hanya bisa tertawa kecil, berusaha menutupi perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba muncul. “Oh ya? Hahaha… terus?”
“Dan kemarin, waktu dia main basket, dia sempat noleh ke arahku dan senyum! Aku nggak tahu deh itu beneran buat aku atau bukan, tapi rasanya kayak… wah! Gimana ya?” Arin menutup wajahnya dengan bantal, kikuk sendiri.
Aku hanya tersenyum tipis sambil menatap langit-langit kamar. Lanjutan cerita Arin tentang kekagumannya pada Brama hanya seperti gema di telingaku. Kamar itu tiba-tiba terasa lebih sempit dan pengap.
*****
Sore itu, udara di vila semakin dingin. Kabut tipis mulai menyelimuti pepohonan di sekitar halaman. Di teras belakang, aku dan Arin duduk bersama beberapa teman sekelas, termasuk Tata dan Rina. Mereka sedang asyik memainkan kartu remi, sementara aku dan Arin sibuk mengobrol tentang hal-hal ringan.
“Aku nggak nyangka ternyata vila ini luas banget, ya,” kata Arin sambil menyeruput teh panasnya.
“Iya. Pemandangannya juga bagus,” sahutku, berusaha tetap fokus pada percakapan meski mataku tak henti-hentinya melirik ke arah Brama yang sedang duduk bersama kelompok cowok di sisi lain teras.
Dia sedang tertawa bersama Rendy dan Alif, tapi sesekali, aku merasa tatapannya tertuju padaku.
“Kamu kenapa sih? Dari tadi kayak nggak tenang,” tanya Arin sambil menyikut lenganku.
Aku menggeleng cepat. “Nggak apa-apa kok. Aku cuma lapar.”
Baru saja aku hendak mengambil kue di meja, sebuah bayangan berdiri di hadapanku. Aku mendongak. Brama.
“Dara, bisa ngomong sebentar?” tanyanya, suaranya terdengar datar tapi matanya menyiratkan sesuatu.
Aku menelan ludah. “Sekarang?”
“Iya,” jawabnya tanpa ekspresi.
Arin menatapku dengan wajah penuh tanya. Rasanya jantungku berdentum lebih kencang dari biasanya.
“Kita di sana aja,” kata Brama sambil menunjuk ke arah sudut taman yang ditumbuhi pohon cemara tinggi.
Aku mengikuti langkahnya, meninggalkan Arin yang masih menatap kami dengan raut bingung dan curiga.
Kami berhenti di sudut taman yang sepi. Pohon cemara menjulang di sisi kanan, menebarkan bayangan panjang di tanah. Brama menyandarkan punggungnya ke batang pohon, memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.
Aku hanya berdiri di depannya, menunduk menatap ujung sendalku yang sedikit kotor oleh tanah.
“Jadi, apa?” tanyaku pelan, mencoba terdengar rileks meski sebenarnya jantungku berdebar kencang. Entah kenapa aku tidak berani menatap mata Brama seperti biasanya.
Brama menarik napas dalam-dalam. “Dara… aku mau minta maaf.”
Aku mengangkat wajah, meliriknya sekilas. Wajahnya tampak serius, matanya menatap lurus padaku.
“Minta maaf untuk apa?” tanyaku, mencoba bersikap biasa saja.
Sekali lagi aku memalingkan tatapanku dari Brama. Kali ini aku menatap jauh ke arah bukit di belakang vila.
“Untuk semua pesan yang aku kirim waktu itu. Aku tahu aku bikin kamu bingung dan kesal,” katanya, suaranya berat. “Aku nggak seharusnya bilang suka kalau akhirnya aku sendiri malah ragu.”
Aku mengatupkan bibir. Kata-katanya seakan menelusup lebih dalam, membuat perasaanku kembali berkecamuk.
“Kamu tahu nggak, Bram? Waktu kamu bilang suka… aku nggak tahu harus gimana,” ujarku, menatap langit yang mulai berwarna jingga. “Aku bingung. Tapi tiba-tiba kamu bilang untuk melupakannya. Kamu nggak tahu betapa sakitnya mendengar itu. Aku merasa dipermainkan.”
Brama mengusap tengkuknya, tampak semakin gelisah. “Aku sadar… aku salah. Waktu itu aku panik, Dara. Aku takut kamu bakal menjauh. Aku nggak tahu harus bilang apa, jadi aku malah bilang hal bodoh itu.”
Aku terdiam. Udara sore semakin dingin, dan aku merapatkan jaketku.
“Kamu nggak harus memaafkan aku sekarang,” kata Brama pelan. “Aku cuma pengen kamu tahu kalau aku benar-benar minta maaf. Dan… perasaanku waktu itu nggak bohong.”
Aku mencoba menatap Brama. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang jujur dan tulus. Perlahan, rasa kesalku mulai mereda.
"Aku masih kesal karena kamu plin-plan, Bram. Tapi kalau kamu memang sungguh-sungguh minta maaf... ya sudah, aku maafkan," ujarku akhirnya.
Wajah Brama sedikit melunak. Bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. “Makasih, Dara.”
Aku hanya mengangguk. Rasanya ada beban yang terangkat dari dadaku. Namun, rasa canggung itu tetap ada—menggantung di udara seperti kabut yang enggan hilang.
*****
Malam itu, aroma jagung bakar memenuhi udara. Api unggun menyala di tengah halaman belakang vila, memancarkan cahaya hangat yang menari-nari di wajah-wajah kami. Gelak tawa dan canda riang terdengar riuh di antara derak kayu yang terbakar.
Aku duduk di samping Arin, memanggang jagung. Sesekali Arin tertawa mendengar lelucon Rendy yang sedang menirukan gaya guru matematika kami yang galak. Tapi aku hanya tersenyum tipis. Pikiranku masih terngiang percakapan sore tadi dengan Brama.
Brama sendiri duduk tak jauh dari kami, sedang mengobrol dengan Alif. Namun, sesekali aku menangkap tatapannya yang terarah padaku. Aku segera mengalihkan pandangan ke arah jagung bakarku, berharap tidak ada yang menyadari pipiku yang mulai memerah.
Tiba-tiba, Brama bangkit dari tempat duduknya. Dia menepuk kedua tangannya, meminta perhatian. Semua mata otomatis tertuju padanya.
Brama menghela napas. Matanya berkeliling, menatap satu per satu wajah teman-teman kami. Lalu, tatapannya berhenti di aku.
“Ada sesuatu yang pengen aku bilang,” kata Brama, suaranya terdengar jelas di tengah gemeretak api unggun.
Aku merasakan jantungku mencelos. Apa yang akan dia lakukan?
“Dara…” Brama memanggil namaku dengan mantap. Semua mata kini beralih padaku. Aku bisa merasakan Arin di sebelahku menegang.
Brama melangkah mendekat, berhenti tepat di depanku. “Dua minggu lalu, aku pernah bilang sesuatu sama kamu lewat pesan.”
Udara terasa semakin dingin. Rasanya semua suara di sekelilingku menghilang.
“Waktu itu, aku bilang aku suka kamu,” lanjut Brama, suaranya semakin mantap. “Dan aku tahu aku salah karena sempat ragu dan meminta untuk melupakannya. Tapi sekarang, aku nggak akan tarik kata-kataku lagi.”
Matanya tak lepas menatapku. Wajahnya serius, tanpa ada tanda main-main.
Suara riuh tiba-tiba terdengar dari segala penjuru.
“Cie… Brama dan Dara. Cie…” Alif berseloroh.
Brama menarik napas dalam, lalu berkata lantang, berusaha mengalahkan suara berisik di sekitar.
“Dara, aku benar-benar suka kamu. Dan aku ingin semua orang di sini tahu, supaya kamu nggak perlu ragu lagi.”
Suara tepuk tangan bergema. Aku tertegun. Rasanya seperti ada batu besar yang jatuh di perutku. Semua orang kini menatapku. Termasuk Arin.
Arin tiba-tiba berdiri. Wajahnya tampak pucat. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan berlari menjauh.
“Arin, mau ke mana?” panggil Tata, bingung melihat reaksi Arin. Namun, Arin terus berlari masuk ke dalam vila tanpa menoleh.
Aku segera bangkit dan menyusulnya. Di dalam vila, suasana terasa lebih gelap dan sunyi. Hanya suara langkah kaki Arin yang terdengar menggema di lorong menuju kamar.
“Arin!” panggilku, tapi dia tak menghentikan langkahnya.
Aku mempercepat langkah, hingga akhirnya berhasil meraih pergelangan tangannya tepat di depan pintu kamar kami.
“Arin, tunggu!”
Arin menepis tanganku dengan kasar, matanya menatap tajam. Aku terhenyak. Belum pernah aku melihat Arin semarah ini.
“Kamu jahat!” serunya, suaranya bergetar. “Kenapa kamu nggak bilang apa-apa soal Brama?”
Aku terdiam. Lidahku kelu.
“Padahal tadi siang aku cerita ke kamu kalau aku suka Brama!” Arin melanjutkan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Tapi kamu… kamu diem aja, pura-pura nggak tahu apa-apa! Kamu bohong!”
“Arin, aku nggak bohong. Aku cuma—”
“Kamu cuma apa?” potongnya tajam. “Cuma mau ngelihat aku mempermalukan diri sendiri? Kamu tahu nggak, betapa bodohnya aku tadi siang waktu cerita soal Brama ke kamu? Sementara kamu…”
Arin tidak melanjutkan kata-katanya.
Aku menunduk, merasakan panas di ujung mataku. “Arin, aku nggak bermaksud begitu. Aku… aku nggak tahu harus bilang apa tadi siang.”
Arin mendengus, mengusap matanya dengan punggung tangan. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan, Dara? Kamu bilang kita sahabat. Tapi kamu justru menyimpan rahasia sebesar itu dari aku.”
“Aku cuma nggak mau kamu terluka…” bisikku pelan
“Terluka?” Arin tertawa sinis, tapi matanya berkaca-kaca. “Kamu pikir aku nggak terluka sekarang? Kamu membiarkan aku berharap pada seseorang yang jelas-jelas sudah suka sama sahabatku sendiri!”
Aku menutup mulutku, menahan isak yang hampir keluar. Arin menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
“Aku nggak bisa di sini, Dara,” katanya akhirnya, suaranya bergetar. “Aku nggak bisa lihat kamu dan Brama sekarang.”
Sebelum aku sempat berkata apa-apa, Arin membuka pintu kamar dengan kasar. Ia meraih ransel, memasukkan barang-barangnya secara tergesa-gesa, lalu mengambil jaket dan menyampirkan di bahunya. Tanpa menoleh sedikit pun ke arahku, ia melangkah keluar dengan langkah cepat, meninggalkanku yang masih berdiri terpaku di sana dengan hati yang remuk.
“Dara?”
Aku terlonjak mendengar suara itu. Tata dan Rina berdiri di hadapanku, menatapku dengan raut khawatir.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Tata lembut sambil melangkah mendekat.
Aku menggeleng, berusaha keras menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku. Namun, begitu Tata meraih bahuku dan menarikku ke dalam pelukannya, tangisku langsung pecah.
“Aku nggak bermaksud menyakiti Arin… Aku cuma nggak tahu harus bilang apa,” isakku sambil menggenggam erat lengan Tata.
Rina mengusap punggungku perlahan, berusaha menenangkan. “Kami dengar semuanya,” katanya pelan. “Arin cuma sedang marah, Dara. Dia butuh waktu buat mencerna semua ini.”
“Tapi aku jahat. Aku harusnya cerita ke Arin dari awal. Tapi aku… aku takut. Aku bingung,” suaraku terdengar parau.
“Sekarang kamu tenangkan diri dulu,” kata Tata sambil merapikan rambutku yang sedikit berantakan. “Nanti kita cari Arin sama-sama. Kita coba bicara baik-baik, ya?”
Aku mengangguk lemah. Meski rasa sesak di dadaku belum sepenuhnya hilang, setidaknya pelukan Tata memberiku sedikit ketenangan.
Suara langkah kaki terdengar di belakangku. Aku menoleh dan melihat Brama berdiri di dekat kami. Wajahnya cemas.
“Dara… aku dengar semuanya. Apa maksudnya itu?” tanyanya sambil melangkah mendekat. Pandangannya bergantian antara aku, Rina dan Tata.
Tata menatap Brama dengan sorot mata tajam. “Kenapa kamu malah nanya Dara? Kamu sadar nggak apa yang baru saja kamu lakukan?”
Brama terdiam, wajahnya tampak bingung. “Aku… aku cuma mau jujur. Aku nggak mau Dara terus menghindar.”
Tata mendengus kesal. “Kamu bilang kamu nggak mau Dara menghindar, tapi kamu nggak sadar kalau ucapanmu tadi justru melukai Arin?”
Brama mengusap wajahnya dengan kasar, tampak frustrasi. “Aku nggak tahu Arin suka sama aku…"
Aku menghela napas panjang, berusaha meredam ketegangan di antara mereka berdua. “Sudah, Ta,” kataku pelan sambil menatap Tata. “Ini bukan salah Brama.”
Tata menoleh padaku, ekspresinya tidak setuju. “Tapi, Dara—”
“Aku yang salah,” potongku cepat. “Aku yang nggak jujur dari awal. Aku yang membiarkan Arin cerita tentang Brama tanpa memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, tolong… jangan salahkan Brama.”
Tata menghela napas panjang, matanya melembut. Dia mengusap bahuku sekali lagi. “Baiklah. Kalau itu yang kamu mau.”
Brama masih berdiri di tempat, kepalanya tertunduk. “Aku nggak bermaksud bikin Arin marah… aku cuma… aku cuma ingin Dara tahu aku serius.”
Aku memejamkan mata sejenak, menahan air mata yang hampir tumpah. “Aku tahu, Bram,” bisikku. “Tapi sekarang, yang penting adalah Arin. Kita harus cari dia.”
Brama mengangguk cepat. “Biar aku cari dia,” ucapnya sambil berbalik.
Aku hendak melangkah maju, ingin ikut bersamanya. Namun, Brama segera menahan tanganku. “Nggak, Dara. Tetap di sini,” katanya tegas.
“Tapi—”
“Kalau kamu ikut, Arin bisa makin emosi,” potong Brama cepat. “Percayakan ini padaku. Aku akan cari dia bersama Rendy, Alif, dan Rina. Kami akan bagi tugas.”
Brama menoleh ke Tata yang berdiri tak jauh dariku. “Tata, temani Dara, ya.”
Aku menggigit bibir, tak tahu harus berkata apa. Brama menatapku dengan pandangan serius. “Aku janji akan membawa Arin kembali.”
Aku hanya bisa mengangguk lemah, tanpa kata.
Brama menepuk bahuku sekilas sebelum berlari keluar vila bersama Rina, langkahnya tergesa-gesa.
Tata menuntunku ke dalam kamar. “Kamu istirahat dulu, ya. Arin pasti ketemu,” katanya lembut.
Aku hanya bisa duduk di kasur memeluk lututku, mencoba menahan tangis yang semakin sulit kukendalikan.
Aku terdiam, menunduk, menatap lantai kamar yang dingin. Suara tawa teman-teman di halaman masih terdengar samar. Rasanya begitu kontras dengan kekacauan di dalam dadaku.
*****
Malam semakin larut ketika aku mendengar suara langkah kaki dari luar vila. Aku bangkit dari dudukku di teras samping, bergegas menuju gerbang.
Tatapanku langsung tertuju pada sosok Arin yang berjalan masuk bersama Rina dan Rendy. Wajahnya sembap, matanya bengkak. Brama dan Alif menyusul di belakangnya.
Tanpa pikir panjang, aku berlari menghampirinya. “Arin…”
Arin berhenti beberapa langkah di depanku. Kami saling menatap, dan untuk beberapa saat, dunia terasa berhenti. Suara obrolan teman-teman lain di halaman belakang vila seolah menghilang, digantikan oleh detak jantungku yang menggema di telinga.
“Maaf,” kataku, suaraku bergetar. “Aku nggak pernah bermaksud menyakiti kamu. Aku cuma… aku cuma bingung harus bagaimana. Lagipula aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Brama.”
Arin menghela napas panjang. Tatapannya lurus menembus mataku, seolah mencari kebenaran di dalamnya. “Aku nggak marah karena kamu suka Brama. Aku marah karena kamu nggak cerita apa-apa. Aku merasa bodoh, Dara. Seperti kamu nggak percaya sama aku. Padahal kita sudah lama sahabatan.”
Kata-katanya menusuk. Aku mengangguk lemah, air mataku jatuh semakin deras. “Aku salah. Aku jahat,” bisikku dengan suara serak. Lalu, mendadak aku tersadar pada sesuatu yang janggal. “Tapi… aku nggak pernah bilang kalau aku suka Brama.” Aku menambahkan sambil terisak.
Arin terdiam. Ada kilatan emosi yang tak bisa kuartikan di matanya. Perlahan, ia menarikku ke dalam pelukannya. “Kamu nggak jahat. Kamu cuma bodoh. Kamu bahkan nggak sadar perasaanmu sendiri,” bisiknya pelan di telingaku. Ada nada menggoda pada ucapannya.
Aku tertawa kecil di antara isakku. “Iya, aku memang bodoh. Maafkan sahabatmu yang bodoh ini.”
Brama, Rendy, Alif, Rina, dan Tata hanya berdiri diam, memandangi kami berdua dari kejauhan tanpa berkata apa-apa. Aku pun tak tahu apa yang telah dikatakan Brama dan yang lainnya kepada Arin. Tapi saat itu, dalam dekapan Arin, aku merasa beban di dadaku perlahan mulai mereda. Persahabatanku terselamatkan.
*****
Malam terakhir kami di sana, langit pegunungan tampak gelap pekat, hanya diterangi kerlap-kerlip bintang yang samar. Di halaman belakang vila, sekali lagi aku duduk melingkar bersama teman-teman sekelas di sekitar api unggun. Bara api menjilat-jilat udara malam, sementara sisa jagung dan marshmallow ditusukkan pada ranting kayu kecil, dipanggang di atas nyala api.
Di sampingku, Arin duduk berdekatan dengan Tata dan Rani. Tawa dan canda teman-teman kami memenuhi udara, mencairkan suasana yang sempat tegang hari sebelumnya. Aku menarik napas panjang, merasakan udara dingin menyusup melalui jaket tebal yang kupakai.
Di sisi lain, aku melihat Brama merapatkan jaketnya dan menunduk. Sebatang ranting di tangannya ia gunakan untuk menyibakkan bara api. Sesaat, matanya bertemu dengan mataku. Sepasang mata itu seolah berkata, "Aku masih di sini, menunggu apapun keputusanmu.”
Tiba-tiba, Arin berbisik di telingaku, “Nggak ada yang mau kamu bilang ke Brama? Kayaknya dia masih berharap.”
Aku terkejut dan hanya bisa menatap Arin tanpa kata.
“Aku baik-baik aja. Tapi dari kejadian kemarin, harusnya kamu belajar kalau kejujuran itu penting dalam hubungan apa pun.” Arin tersenyum tulus ke arahku. Sebuah isyarat bahwa apa pun yang terjadi, persahabatan kami masih utuh.
Tiba-tiba, Rendy berdiri dan bertepuk tangan, menarik perhatian semua orang. Semua mata kini tertuju padanya, menanti kejutan apa yang akan datang—setelah malam sebelumnya Brama yang memberi kejutan.
“Karena ini malam terakhir kita di sini, juga perpisahan kelas, rasanya nggak afdol kalau kita nggak nyanyi bareng-bareng, ya,” kata Rendy, tersenyum lebar.
Brama segera mengambil gitar yang tergeletak di sebelahnya. “Mau nyanyi apa, Ren?”
Rendy berpikir sejenak, lalu menjentikkan jari. “Lagu yang pas buat malam ini, kayaknya ‘Arti Sahabat’ dari Nidji. Gimana, teman-teman?”
Suara tepuk tangan bergemuruh, menyetujui usulannya.
Brama mulai memetik senar gitar, menciptakan denting pertama yang mengalun lembut. Tak lama kemudian, suara merdu Rendy mengisi malam itu, menyatu dengan harmoni gitar dan tawa kecil teman-teman di sekelilingnya.
“Tak mudah untuk kita
Hadapi perbedaan yang berarti
Tak mudah untuk kita
Lewati rintangan silih berganti.”
Satu per satu dari kami mulai berdiri dan bertepuk tangan sambil ikut bernyanyi. Beberapa malah berjoget dan melompat-lompat, melebur dalam euforia malam terakhir ini.
“Engkau masih berdiri
Kita masih di sini
Tunjukkan pada dunia
Arti sahabat.”
Di tengah lagu, Arin bergeser mendekatiku. Ia menggenggam tanganku erat. “Maaf ya, kemarin aku langsung emosi tanpa bertanya apa-apa sama kamu,” ucapnya pelan, hampir tenggelam dalam riuhnya nyanyian.
Aku menoleh dan mengeratkan genggaman kami. “Terima kasih sudah mau mengerti. Terima kasih untuk selalu jadi sahabat terbaikku.”
“Engkau teman sehati
Kita teman sejati
Hadapilah dunia
Genggam tanganku.”
Lagu pun berakhir. Tepuk tangan bergema hingga ke pucuk-pucuk pepohonan yang membentengi vila. Tawa riang dan seruan kegembiraan masih terdengar, memenuhi udara malam yang semakin dingin.
Aku menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Masa remaja yang penuh cerita, canda, dan air mata masih membentang panjang di depan kami. Malam ini mungkin akan segera berlalu, tapi kenangan ini akan tetap terjaga—seperti nyala api unggun yang perlahan meredup, namun bara hangatnya tak benar-benar padam.
*****
Catatan:
Cerpen ini adalah salah satu cerita dari kumcer berjudul PLAYLIST yang tayang di situs GWP (Gramedia Writing Project). Baru ada empat cerpen dari sepuluh cerpen yang rencana saya tulis.

3 komentar
Ya Allah seru bangettt bacanya mbak. Berasa kayak balik ke masa muda lagiii.. zamannya masih suka ngincer cewek dari sekolah laen buat jadi cem-ceman, walaupun endingnya selalu mengenaskan, hahahaha.
ReplyDeleteAwalnya agak kesel si sama karakter Brama, karena ya plinplannya itu. Tp menjelang akhir, angkat topi juga karena ia bisa bersikap gentle dan mengupayakan komunikasi dengan Arin.
Duh, manteppp mbak ceritanya. Akupun mauu lho nulis cem begini :(
Bagus banget, huhu. Ceritanya sederhana, tapi mengalir banget sampai bisa bikin terhanyut. Padahal udah tau kalau ini cinta masa remaja, tapi kayak seru ajaa gitu baca sampai selesai, ahaha.
ReplyDeleteTerus aku suka karena gak ada yang jahat gimana gimana gitu. Emang begitulah ya hal-hal yang berhubungan dengan perasaan. Belajar untuk jujur karena kejujuran itu bisa menghindarkan dari kesalahpahaman dan drama drama yang bisa terjadi. asik
Ciee Brama... Ciee Dara...
ReplyDeleteAh Dara, sosok yang mungkin ada di sekitar kita. Bingung, takut dan nge-blank mau bilang apa kepada sohib yang ternyata naksir cowok yang sama.
Syukurnya persahabatan Arin dan Dara bisa diselamatkan dengan ciamik. Dan jadinya pas jadian sama Brama, bukan Fren makan Fren kan, hehe.
Lanjutin kak Asri cerpennya. Kalau bisa mah jadiin novel remaja aja atuh. Tipikal seperti ini kerap dicari kan ya