Cerita Melahirkan Si Kembar di RSHS Bandung (Bagian 3)
February 16, 2026Di tulisan sebelumnya, "Cerita Melahirkan Si Kembar di RSHS Bandung (Bagian 2)", saya mengakhiri kisah tepat saat momen pulang dari rumah sakit. Ternyata, banyak pembaca yang penasaran dan bertanya, “Sekarang si kembar bagaimana kabarnya?”
Nah, setelah membaca artikel dari Mbak Andiyani Achmad—seorang mindful lifestyle blogger—tentang cara mengatasi kesedihan dan trauma kehilangan, saya terdorong untuk menuliskan kelanjutan cerita melahirkan di RSHS.
Kisah ini telah menjadi bagian dari family & personal journey yang tidak akan pernah saya lupakan. Semoga cerita ini bisa menjawab rasa penasaran teman-teman, sekaligus menjadi catatan berharga dan kenang-kenangan bagi saya dan keluarga.
Hari-Hari Setelah Pulang dari RSHS
Hari-hari awal setelah pulang dari rumah sakit saya lalui dengan menyusui, mengumpulkan ASIP, makan, tidur, menonton, dan membaca buku. Karena luka bekas operasi masih terasa nyeri, saya belum bisa banyak bergerak. Saya hanya bangun saat perlu ke kamar mandi. Selebihnya, saya lebih banyak duduk atau berbaring di kasur. Urusan rumah tangga dan kebutuhan anak-anak dibantu oleh suami dan ibu.
Pada persalinan kedua ini saya tidak mengalami baby blues seperti saat kelahiran pertama. Mungkin tubuh dan pikiran saya sedang berada dalam fase siaga, mengingat masih ada satu bayi lagi yang sedang berjuang. Jadi, tidak ada ruang bagi saya untuk merasa lemah. “Orang tua harus kuat agar anak-anaknya tetap kuat,” mungkin itulah yang terlintas dalam benak saya saat itu. Karena itu, semuanya saya jalani dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, terlebih ada ibu dan suami yang selalu siap membantu.
Kontrol Pasca Melahirkan
Sekitar satu minggu setelah kepulangan saya dari RSHS, saya kembali ke sana untuk kontrol jahitan. Hari itu saya pergi bersama suami menggunakan taksi online, sementara anak-anak tinggal di rumah dengan ibu.
Setelah tiba, saya langsung menuju poli kebidanan dan kandungan untuk memeriksakan kondisi pasca persalinan dan operasi. Alhamdulillah, jahitan saya dinyatakan sudah kering dan tidak ada masalah. Perban pun sudah boleh dilepas, dan saya diminta membersihkan bekas luka setiap kali mandi seperti bagian tubuh lainnya.
Walaupun hasil pemeriksaan menyatakan kondisi saya baik, saya masih kesulitan berjalan dan berpindah posisi, terutama dari duduk atau berbaring ke posisi berdiri. Langkah saya pun masih tertatih. Namun semua itu wajar karena luka masih dalam proses penyembuhan, terutama luka bagian dalam. Saya tetap harus terus berlatih bergerak agar tubuh terbiasa dan pulih kembali.
Kunjungan Pertama ke NICU
Setelah selesai kontrol, saya dan suami menuju ke ruang NICU. Ternyata si tengah masih belum bisa dikunjungi karena sedang dalam pemantauan dokter. Ia baru boleh dijenguk sekitar pukul satu siang.
Akhirnya, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Kami makan di salah satu tempat makan yang berada di gedung Cardiac Center. Entah kenapa, saya baru menyadari keberadaan tempat makan itu setelah sekian bulan wara-wiri di RSHS. Dulu, saat masih kontrol kehamilan, saya selalu membeli nasi Padang di seberang jalan karena tidak tahu tempat makan itu. Padahal, di sana pilihan menunya bervariasi dan rasanya pun enak.
Usai makan, kami salat terlebih dahulu, lalu kembali menuju ruang NICU. Saat tiba, si tengah sudah boleh dikunjungi. Saya meminta suami masuk lebih dahulu karena memang disarankan untuk masuk satu per satu. Entah kenapa, saya merasa belum siap mental untuk masuk. Saya perlu menguatkan hati sebelum melihat kondisi anak saya di dalam sana.
Pertemuan Pertama Dengan Si Tengah
Usai suami saya kembali dari ruang NICU, giliran saya yang masuk. Saya terlebih dahulu mengenakan jubah medis dan penutup kepala, mengganti masker dengan yang baru, mengganti alas kaki dengan sandal khusus, lalu mencuci tangan dengan sabun sebelum memasuki ruangan. Karena pandemi baru mereda, protokolnya masih cukup ketat, meskipun tidak seketat sebelumnya.
Saya berjalan perlahan menghampiri inkubator tempat si tengah dirawat. Ia ditempatkan di ruangan terpisah. Di sana hanya ada dua inkubator, masing-masing berisi seorang bayi dengan ventilator di sampingnya inkubatornya.
Begitu melihat si tengah, hal pertama yang terlintas di benak saya adalah, “Wah, dia ganteng. Hidungnya mancung.” Sungguh pikiran yang terasa begitu acak di tengah situasi seperti itu.
Saat sudah berdiri di samping inkubatornya, saya justru tidak tahu harus berbuat apa. Saya hanya memandanginya. Waktu itu ia sedang tertidur, matanya terpejam, dengan selang terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk berdoa saja.
Sekitar lima belas menit kemudian, saya mengakhiri kunjungan dan berpamitan pada si tengah. Sepanjang berada di sana, saya hanya berbisik pelan atau berbicara dalam hati, berharap ia bisa merasakan dan mendengar kehadiran saya. Ruang NICU sangat sepi, hanya terdengar suara mesin-mesin yang membantu bayi-bayi itu bertahan.
Saya tidak membawa ponsel masuk ke ruang NICU karena khawatir tidak diperbolehkan mengambil foto. Setelah bertanya kepada perawat yang bertugas, ternyata saya diizinkan memotret, asalkan hanya anak saya dan untuk dokumentasi pribadi. Tidak diperkenankan mengambil gambar ruangan atau bayi-bayi lainnya. Kalau datang lagi, saya akan membawa ponsel.
Perawat pun berjanji akan mengirimkan foto melalui WhatsApp. Saya keluar dari ruangan dengan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada rasa lega karena akhirnya bisa melihatnya secara langsung, tetapi juga ada rasa hampa saat harus meninggalkannya kembali di balik pintu dan bunyi mesin-mesin yang asing. Sebagian hati saya tertinggal di sana, di samping inkubator kecil itu.
Operasi yang Kedua
Beberapa hari setelah kunjungan itu, suami menerima pesan dari RSHS bahwa anak kami harus menjalani operasi ulang karena penutup yang dipasang pada diafragmanya sobek. Rasanya hati saya hancur saat membaca kabar itu. Usianya baru beberapa minggu, tetapi sudah harus kembali berhadapan dengan meja operasi.
Tanggal 3 Februari 2023, operasi itu akhirnya dilakukan. Suami yang mendampinginya di rumah sakit. Sementara itu, saya menunggu di rumah bersama si bungsu dan ibu, berusaha tetap tenang meski hati terasa tidak karuan. Saya hanya bisa berdoa dalam diam sambil menanti kabar dari suami.
Syukurlah, operasi berjalan lancar. Kondisinya stabil. Bahkan beberapa hari kemudian, kami diminta mengirimkan ASIP untuk mulai dicoba diberikan kepada si tengah. Rasanya secercah harapan tumbuh di tengah kecemasan yang belum benar-benar hilang. Sejak hari itu, suami rutin mengantarkan ASIP bersama dengan kebutuhan lainnya setiap beberapa hari sekali. Saat itu, ASIP yang saya kumpulkan setiap hari menjadi satu-satunya cara saya tetap terhubung dengannya, meski tidak bisa berada di sisinya.
Firasat Seorang Ibu
Namun harapan itu tidak bertahan lama. Pada suatu sore, 10 Februari 2023, suami mendapat kabar bahwa kondisi si tengah memburuk. Rumah sakit meminta suami segera datang. Saat mendengar itu, entah mengapa hati saya seperti sudah diberi firasat, saya merasa harus bertemu si tengah malam itu juga. Tanpa banyak berpikir, saya memutuskan ikut ke rumah sakit. Si sulung dan si bungsu kembali tinggal di rumah bersama ibu.
Kami tiba di rumah sakit sekitar pukul setengah delapan malam. Meski langkah saya belum sepenuhnya pulih dan masih terasa nyeri, kami berusaha secepat mungkin sampai di ruang NICU. Setibanya di sana, seperti sebelumnya, saya meminta suami masuk lebih dulu. Di dalam, ia bertemu dengan dokter yang sedang memantau kondisi si tengah.
Setelah suami keluar dari ruang NICU, giliran saya yang masuk. Dokter jaga mengajak saya berbicara, menjelaskan kondisi si tengah dan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Intinya, kondisinya sempat drop. Saturasinya turun drastis, dan saat itu ia masih bertahan bernapas dengan bantuan ventilator. Setelah penjelasan itu, dokter meninggalkan saya berdua saja dengan si tengah.
Sekali lagi saya hanya tertegun memandangi wajah si tengah. Tidak ada air mata. Hanya hati yang terasa perih. Seorang perawat menghampiri dan bertanya apakah saya ingin menyentuhnya. Saya mengiyakan, lalu perawat itu membuka lubang kecil di sisi inkubator.
Ketika jari saya menyentuh jemari mungil si tengah, rasanya tak terlukiskan. Itu adalah sentuhan pertama kami. Rasa hangat yang menjalar di dada semakin membuat situasi itu sulit dimengerti. Sampai akhirnya saya berbisik lirih, “Sayang, kalau kamu sudah tidak kuat, kamu boleh menyerah. Mama ikhlas.”
Malam itu saya membawa ponsel, tetapi tak sampai hati untuk mengambil foto. Kondisinya, bagi saya, tidak baik untuk didokumentasikan. Saya hanya menggenggam dan mengelus tangan kecilnya, memperhatikan dadanya yang naik turun dengan berat, seolah untuk bernapas saja ia harus berjuang sekuat tenaga. Saya kembali melantunkan doa-doa dalam hati. Malam itu, saya hanya memohon yang terbaik bagi kami semua.
Setelah cukup lama memandangi wajah mungilnya, saya keluar ruangan dan menghampiri suami. Kami tidak langsung pulang. Kami duduk lama di kursi-kursi depan IGD. Berjaga barangkali ada panggilan darurat lagi. Kami mengisi waktu dengan mengobrol, tetapi tidak dengan nada sedih. Mungkin hati kami sudah perlahan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk sejak saya masih hamil.
Sekitar pukul sepuluh malam kami akhirnya pulang dan tiba di rumah sekitar pukul sebelas. Dalam doa, saya hanya memohon satu hal, apa pun yang akan terjadi, semoga malam ini berlalu tanpa kabar buruk.
Air Mata di Tengah Hujan
Keesokan harinya, suami kembali menerima pesan dari perawat NICU. Bukan kabar buruk, melainkan pesan yang menurut saya terasa janggal. Suami diminta mengirim ASIP karena persediaannya hampir habis. Saya sempat bingung. Setahu saya, si tengah sedang dipuasakan. Entah terjadi kekeliruan atau bagaimana.
Namun kami menurut saja, berharap keajaiban tiba-tiba terjadi dan memang kondisi si tengah membaik sehingga bisa mengkonsumsi ASIP lagi. Sekitar pukul sepuluh pagi, suami berangkat menuju RSHS. Kali ini saya tidak ikut. Saya menunggu di rumah bersama ibu dan anak-anak. Kebetulan hari itu hari Sabtu, sehingga suami dan si sulung libur.
Sesampainya di sana, suami memberi kabar bahwa pesan tersebut memang keliru. Si tengah masih dipuasakan dan kondisinya belum membaik. Bahkan suami diminta tetap berada di sekitar rumah sakit dan tidak diperbolehkan pulang. Ia pun bersiap jika sewaktu-waktu harus menginap.
Menjelang sore, telepon dari suami masuk. Entah mengapa, sebelum mengangkatnya, hati saya sudah dipenuhi firasat buruk. Benar saja. Saat panggilan tersambung, suara suami terdengar serak, diselingi sisa isak tangis. Ia mengabarkan bahwa si tengah telah meninggal dunia.
Sebagai respon dari kabar buruk itu, saya langsung refleks memberi tahu ibu dan bersiap menuju rumah mertua. Saya tidak memberi jeda pada diri saya untuk berduka. Suami mengatakan kakak ipar akan menemani saya ke rumah sakit untuk menjemput si tengah dengan mobilnya, jadi saya diminta datang ke rumah mertua terlebih dahulu. Saya pun memesan taksi online dan segera berangkat. Ibu dan anak-anak akan menyusul ke rumah mertua selepas magrib.
Sore itu hujan turun cukup deras. Saya duduk sendiri di kursi belakang, ditemani deru mesin dan lagu-lagu yang mengalun dari speaker mobil. Titik-titik hujan di kaca jendela memburamkan lampu-lampu kota yang mulai menyala satu demi satu. Di luar, suasana tetap ramai seperti layaknya malam minggu lainnya. Saya memandangi keramaian itu dengan mata nanar.
Saat itulah kesedihan mulai merambati hati. Kehilangan ini, meskipun sudah diantisipasi, tetap saja nyeri sekali. Diiringi lagu-lagu sendu yang mengalun lembut, tangis yang sejak lama saya simpan akhirnya pecah. Air mata jatuh satu demi satu, tanpa bisa saya bendung lagi.
Penutup: Gone from Our Sight, but Never from Our Hearts
Tanggal 11 Februari 2026 kemarin, tepat tiga tahun anak tengah saya meninggal dunia. Tiga tahun telah berlalu, tetapi kenangan itu rasanya tidak pernah benar-benar menjauh. Waktu memang terus berjalan, hari-hari silih berganti, dan kehidupan kembali menemukan ritmenya. Saya kembali tertawa, kembali menjalani peran sebagai ibu bagi anak-anak saya yang lain. Namun, ada satu ruang kecil di hati saya yang akan selalu diisi oleh kenangan tentangnya.
Mungkin dia hanya bersama kami dalam waktu yang singkat. Namun kehadirannya mengajarkan banyak hal, tentang ikhlas yang paling dalam, tentang doa yang paling tulus, dan tentang bagaimana hati seorang ibu mampu mencintai tanpa batas, bahkan ketika harus melepaskan.
Saya tidak lagi menitikkan air mata setiap kali mengingatnya. Kini yang tersisa adalah rindu yang kadang datang diam-diam, terutama saat melihat saudara kembarnya tumbuh sehat di samping saya.
He was gone from our sight, but never from our hearts.
Bandung, 16 Februari 2026
Pukul 20.00 WIB

4 komentar
Bagi ibu yang kehilangan anak bayi atau masih kecil, sungguh akan berbahagia kelak di akhirat
ReplyDeleteMereka akan menunggu keluarganya untuk diajak ke surga
Maasyaa Allah bersabarlah sedikit lagi ya Mbak
Surga sudah disediakan...
Mbaaa, aku cirambaay baca ini😭
ReplyDeleteDirimu sungguh tegar dan bakoh mbaa💪✨
insyaAllah, si kecil nantinya stand by di pintu surga dan kamu sekeluarga bisa reuni bareng di Jannah-Nya
Saya yang baca ndredeg mbak Asri. Momen ketika menerima tlp dan bukan kabar baik itu rasanya kok terlalu familiar di saya. Nggak kebayang gimana dirimu di rumah mendengarnya.
ReplyDeleteIbu yang kehilangan anaknya bukan perkara mudah. Sakitnya pun nggak tanggung².
Semoga dia yang belum sempat pulang ke rumahmu, akan jadi penantimu di surga mbak. Peluk hangat.. 🤗
Ikut sedih membaca kisahnya. Yah, meskipun aku belum memiliki anak. Rasanya, pasti sedih saat buah hati harus pergi. Cah ganteng, menunggu orang tuanya di surga.
ReplyDelete