Cerita Melahirkan Si Kembar di RSHS Bandung (Bagian 1)

June 30, 2025


Buat saya, Januari bukan sekadar awal tahun. Ia adalah bulan penuh cerita dan keajaiban—karena ketiga anak saya lahir di bulan ini. Iya, ketiganya!

Anak pertama lahir di minggu keempat Januari, pada usia kandungan 38 minggu, melalui persalinan pervaginam. Sementara si kembar—anak kedua dan ketiga—lahir di minggu ketiga Januari, pada usia kandungan 37 minggu, lewat operasi caesar.

Kalau saja kelahiran adik-adiknya bisa ditunda hingga minggu ke-38, mungkin saya punya kesempatan untuk menyamakan tanggal lahir mereka dengan kakaknya. Tapi sayangnya, operasi tidak bisa ditunda lagi. Jadwal sudah ditentukan oleh rumah sakit, dan harapan itu pun harus saya relakan. Lagipula, keselamatan mereka adalah yang utama.

Baca juga: Drama Hamil Kembar di Usia 30-an

Nah, di tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman melahirkan untuk kedua kalinya, yang tentu sangat berbeda dengan persalinan pertama, karena kali ini saya harus menjalani operasi caesar.

Dua tahun berlalu, tapi ingatannya masih hangat. Sebelum semua detailnya memudar, saya ingin mengajak kalian ikut merasakan perjalanan itu. Yuk, simak kisahnya sampai selesai!

Minggu, 15 Januari 2023
(Persiapan Sebelum ke Rumah Sakit)

Hari itu, pagi-pagi sekali saya sudah menuju Stasiun Kiaracondong untuk menjemput Ibu. Beliau datang ke Bandung untuk menemani saya melahirkan, sekaligus membantu saya selama masa pemulihan nanti.

Sejak awal kehamilan—tepatnya usai mudik—saya memang sudah meminta Ibu untuk menemani saya selama sebulan penuh. Saya ingin didampingi lebih lama karena saat anak pertama lahir, Ibu hanya bisa bersama saya selama dua hari satu malam. Waktu itu Ibu masih bekerja dan belum bisa mengambil cuti panjang.

Saat meminta Ibu datang, saya belum tahu kalau ternyata saya hamil anak kembar. Belum tahu juga kalau salah satu janin mengalami kelainan, dan belum tahu kalau saya harus menjalani persalinan secara caesar. Siapa sangka, semua itu membuat kehadiran Ibu menjadi benar-benar penting. Pasca-operasi tentu membutuhkan waktu pemulihan yang tidak sebentar.

Baca juga: Mudik Berdua dengan Anak Saat Hamil Muda

Kedatangan Ibu kali ini bisa dibilang cukup mendadak, karena informasi dari rumah sakit pun datang secara tiba-tiba. Jumat sore saya mendapat telepon dari dokter PPDS di RSHS. Dokter menyampaikan bahwa saya harus langsung rawat inap pada hari Senin, untuk persiapan operasi yang dijadwalkan hari Selasa atau Rabu.

Sebelumnya, saya mendapat informasi bahwa Senin depan saya hanya akan kontrol seperti biasa, karena jadwal operasi saya belum dipastikan. Katanya, jadwal baru akan ditentukan setelah pertemuan hari Kamis. Ternyata, dari hasil pertemuan tersebut, saya sudah harus rawat inap Senin pagi. Rasanya campur aduk, antara lega karena akhirnya mendapat kepastian, tapi juga panik karena merasa belum siap.

Begitu mendapat kabar tersebut, hal pertama yang saya lakukan adalah menelepon Ibu, menanyakan apakah beliau ingin datang sebelum atau sesudah operasi. Ibu memilih datang sebelum, jadi malam itu juga saya langsung memesan tiket kereta. Ibu berangkat Sabtu sore dan tiba di Bandung Minggu pagi.

Setelah menjemput Ibu, saya mengajaknya mampir ke rumah Mama mertua. Selain untuk silaturahmi, saya juga ingin meminta doa dan restu dari keluarga demi kelancaran operasi esok hari. Usai dari sana, kami pulang dan saya melanjutkan persiapan yang sempat tertunda.

Malam itu, hati saya rasanya campur aduk, tidak sabar, takut, bersemangat, cemas semua bercampur jadi satu.

Senin, 16 Januari 2023
(Check-in Rumah Sakit)

Senin pagi, sekitar pukul 8, kami semua bersiap meninggalkan rumah untuk beberapa hari. Tas, koper, ransel, semuanya sudah rapi di ruang tamu. Suasananya seperti mau pergi liburan. Sayangnya, “liburan” kali ini bukan ke hotel, melainkan ke rumah sakit.

Suami dan anak pertama saya berangkat lebih dulu ke rumah Mama dengan motor. Si sulung akan menginap di rumah neneknya selama saya di rumah sakit. Ini pertama kali dalam hidupnya dia menginap tanpa saya dan papanya.

Setelah mereka pergi, saya dan Ibu berangkat ke rumah sakit menggunakan taksi online. Kami memilih lewat tol agar lebih cepat sampai, karena sudah dijadwalkan bertemu dengan dokter anak dan dokter bedah anak yang akan menangani bayi-bayi saya setelah lahir.

Sesampainya di rumah sakit, saya langsung menuju poli fetomaternal. Namun, saya diminta ke poli anak terlebih dahulu untuk bertemu dua dokter spesialis yang sudah ditunjuk. Dalam pertemuan itu, mereka menjelaskan tindakan-tindakan medis yang akan dilakukan kepada bayi saya yang mengalami hernia diafragma. Selain memberikan edukasi, mereka juga terlihat berusaha menguatkan saya. Saya sangat mengapresiasi dukungan mereka. Saya benar-benar terharu.

Setelah pertemuan dengan dokter selesai, saya kembali ke poli fetomaternal untuk menjalani pemeriksaan USG dan CTG. Selagi saya diperiksa, suami mengurus proses rawat inap di bagian kasir, sementara Ibu menunggu dengan sabar di ruang tunggu. Rasanya semua bergerak cepat hari itu.

Poliklinik Fetometernal RSHS
(Sumber: Dokumntasi Pribadi)

Usai pemeriksaan, saya menjalani tes swab Covid-19. Ini pertama kalinya saya diswab, dan ternyata, ya… benar saja, tidak nyaman! Tapi Alhamdulillah, hasilnya negatif.

Saat memilih kamar, kami sempat bingung. Suami sebenarnya sudah menyampaikan kepada petugas bahwa kami ingin naik kelas ke kamar VIP. Namun, petugas menyarankan agar kami tetap memilih kamar kelas 1, dengan alasan bahwa di kamar VIP tidak diperbolehkan rooming-in dengan bayi. Akhirnya, kami pun menerima kamar kelas 1 sesuai dengan fasilitas BPJS.

Kamar kelas 1 yang saya tempati berada di ruang Alamanda. Kamar ini terdiri dari dua tempat tidur yang dipisahkan tirai, dan satu kamar mandi bersama. Saat saya datang, tempat tidur sebelah masih kosong, jadi saya masih leluasa beraktivitas tanpa perlu menutup tirai. Meski begitu, tetap saja tidak sepenuhnya nyaman, karena di lorong depan kamar terdapat ruang jaga untuk dokter PPDS dan bidan.

Kamar Kelas 1 di Ruang Alamanda
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Sore harinya, datang pasien yang menempati tempat tidur sebelah. Suami dan Ibu mulai tampak tidak nyaman—bingung harus duduk di mana, salat di mana, bahkan menutup tirai pun terasa sumpek, karena menurut saya ruang di balik tirai itu sempit sekali. Belum lagi memikirkan di mana mereka akan tidur malam nanti. Ditambah lagi, kloset yang bermasalah, jet shower yang bocor, serta wastafel yang tidak mengeluarkan air membuat suasana semakin tidak nyaman. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk meminta pindah ke kamar VIP di Paviliun Parahyangan.

Kami tak masalah meskipun kamar VIP tidak memungkinkan untuk rooming-in dengan bayi, karena saya sadar bayi-bayi saya nanti akan membutuhkan pemantauan khusus setelah lahir.

Setelah melalui proses yang cukup panjang dan dibantu banyak pihak, usai Magrib, saya dijemput menggunakan kursi roda oleh tenaga kesehatan dari Paviliun Parahyangan dan dipindahkan ke kamar VIP.

Kamar itu ukurannya kurang lebih sama dengan kamar kelas 1 sebelumnya, tapi di dalamnya hanya ada satu tempat tidur. Gedung ini merupakan bangunan lama, jadi desain interiornya pun terkesan jadul. Meski begitu, ruangannya bersih dan masih layak digunakan.

Kamar VIP Paviliun Parahyangan
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Di depan tempat tidur terdapat TV, meja, dan lemari. Di bagian bawah lemari, ada kulkas kecil. Di sisi kiri tempat tidur, bersebelahan dengan pintu masuk, terdapat lemari penyimpanan dan meja kecil yang bisa digeser-geser. Sementara di sisi kanan, ada sofa yang posisinya bersebelahan langsung dengan kamar mandi. Di depan kamar mandi, terdapat meja makan lengkap dengan empat kursi.

Baca juga: The Anmon Resort, Staycation Seru di Teepee ala Indian

Di kamar ini, akhirnya kami merasa jauh lebih nyaman. Kami bisa beraktivitas dengan lebih leluasa tanpa merasa sungkan terhadap orang lain. Tidak ada lagi kebingungan mencari tempat duduk, tempat salat, atau khawatir mengganggu privasi pasien lain. Rasanya lega sekali bisa bergerak bebas tanpa harus dibatasi tirai atau menyesuaikan diri dengan kondisi kamar bersama.

Saya dan Ibu bisa beristirahat lebih tenang, sementara suami juga punya ruang untuk bersiap dan membantu keperluan tanpa canggung. Kamar ini mungkin sederhana, tapi suasananya jauh lebih mendukung untuk menghadapi hari-hari penting yang akan datang.

Tak lama setelah berpindah kamar, saya dikunjungi oleh petugas dapur—atau mungkin ahli gizi—yang menanyakan apakah saya ingin makan malam berat atau hanya cemilan. Karena saya sudah makan sore tadi di kamar sebelumnya, saya memilih cemilan saja. Saya juga meminta agar cemilan diantarkan di atas jam 9 malam, sebagai makanan penutup sebelum mulai puasa.

Selain itu, mereka juga menanyakan pilihan menu makanan dan cemilan untuk beberapa hari ke depan. Ada beberapa pilihan yang disiapkan, dan saya pun memilih yang kira-kira cocok di lidah.

Malam itu, sebelum tidur, dokter jaga sempat datang memeriksa kondisi saya sekali lagi. Setelah semuanya dirasa aman dan tak ada keluhan berarti, saya akhirnya bisa sedikit bernapas lega.

Cemilan Malam
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Saya menutup hari itu dengan menyantap cemilan hangat yang disajikan—semangkuk bubur sumsum gula merah dan sebutir telur rebus. Favorit saya sejak dulu, dan malam itu terasa lebih nikmat, seolah menjadi penghibur kecil sebelum hari besar esok tiba.

Selasa, 17 Januari 2023
(Hari Operasi dan Kelahiran Si Kembar)

Hari itu saya bangun salat Subuh tepat waktu, meskipun semalam sulit tidur karena harus bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Ya, perut yang semakin membesar membuat keinginan itu makin sulit ditahan, apalagi di malam hari.

Sejak tengah malam, saya sudah mulai berpuasa sesuai arahan dari tenaga kesehatan. Untungnya, saya sempat menyantap camilan dan meneguk sebotol air mineral sebelumnya, jadi pagi itu saya tidak merasa terlalu lapar.

Usai mandi pagi dengan air dingin—karena kamar VIP di RSHS memang tidak menyediakan air hangat—saya kembali ke tempat tidur dan mencoba bersantai. Jadwal operasi belum ditentukan secara pasti, hanya disebutkan akan dilakukan pagi hari. Saya diminta bersiap sebelum pukul 8. Dan benar saja, sekitar pukul 8, petugas datang menjemput saya dengan kursi roda menuju ruang operasi.

Sesampainya di depan ruang operasi, saya diminta berganti pakaian dan dipindahkan dari kursi roda ke tempat tidur dorong. Sampai di titik itu, suami dan Ibu masih bisa menemani saya. Tapi setelahnya, saya hanya didampingi oleh dokter dan perawat hingga masuk ke ruang operasi.

Persiapan Masuk Ruang Operasi
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Sebelum masuk ke ruang operasi, dokter yang memimpin operasi hari itu memperkenalkan diri, begitu juga dengan dokter anestesi yang akan mendampingi saya di dalam ruangan. Suami juga diminta menandatangani beberapa berkas, termasuk persetujuan untuk tindakan steril yang akan dilakukan bersamaan dengan operasi caesar.

Begitu masuk kamar operasi yang terlintas di pikiran saya adalah "Jadul sekali ruangannya." Tidak seperti yang biasa saya lihat di film-film. Malah cenderung mengingatkan saya pada SMA saya dulu di Malang. Sungguh pikiran yang tidak penting menjelang operasi, bukan? Tapi memang sevisual itu saya.

Baca juga: Tanpa Jarum, Tanpa Trauma: Pengalaman Khitan di Mahir Sunat

Beberapa saat setelah masuk, saya dipindahkan ke tempat tidur operasi dan diminta mengambil posisi untuk proses pembiusan. Untungnya, sebelumnya saya sempat mendapat cerita dan tips dari seorang kenalan yang juga dokter tentang prosedur di ruang operasi. Jadi saat proses dijalankan, saya sudah siap dan tidak merasa sakit sedikit pun, bahkan meskipun harus dibius dua kali karena bius pertama belum membuat kaki saya benar-benar mati rasa.

Setelah itu saya sempat merasa mual, efek dari obat bius. Saya langsung menginformasikan ke dokter anestesi yang berada di sisi kepala saya. Beliau pun menyuntikkan obat, dan seketika rasa mual itu hilang. Terima kasih untuk Bu Dokter Gigi cantik yang sudah membekali saya dengan berbagai saran sebelumnya—sangat membantu.

Tak lama setelah rasa mual mereda, kedua bayi saya akhirnya lahir. Bayi pertama tidak menangis sekencang bayi kedua karena kondisi kesehatannya memang berbeda. Tapi melihat keduanya, hati saya langsung terasa hangat, meskipun tubuh saya menggigil hebat karena dingin. Dokter anestesi pun terus mengajak saya berbincang—mungkin supaya saya tidak tertidur. Jujur saja, saya memang mulai mengantuk, mungkin karena efek obat bius.

Namun saat tindakan medis mulai dilakukan pada bayi pertama, saya tidak sanggup melihat. Saya memilih memusatkan perhatian pada bayi kedua, meskipun pandangan saya kabur tanpa kacamata. Kami memang tidak melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), karena keduanya harus segera mendapat penanganan medis.

Selama proses penjahitan, dokter yang bertugas beberapa kali mencoba mengajak saya mengobrol. Sayangnya, saya tidak bisa mendengar dengan jelas karena suara-suara alat medis yang ramai di dalam ruangan. Oh ya, dokter yang menjahit bukanlah dokter yang sebelumnya memperkenalkan diri sebagai penanggung jawab di ruang depan tadi. Dokter yang mengoperasi saya seorang perempuan, yang sampai saat ini saya tidak tahu siapa namanya.

Sekitar pukul 11 siang, seluruh proses selesai. Saya dipindahkan ke ruang pemulihan, meninggalkan kedua bayi yang masih berada di ruang operasi. Di ruang pemulihan, saya masih menggigil hebat. Obat sudah disuntikkan melalui infus, bahkan alat pemanas pun sudah ditambahkan satu lagi selain yang dibawa dari ruang operasi. Tapi kondisi saya belum juga membaik.

Akhirnya saya tertidur dalam kondisi setengah sadar karena masih menggigil. Rasa dingin itu baru mereda menjelang pukul 1 siang. Setelah itu, saya dipindahkan kembali ke kamar rawat. Saat tiba, kamar masih sepi—suami dan Ibu belum ada. Jadi saya beristirahat sendirian.

Tak lama kemudian, mereka datang. Ibu baru saja kembali dari ruang perina (Ruang Anthurium) setelah mengurus bayi kedua, sementara suami baru keluar dari NICU, usai menemani bayi pertama.

Suami lalu menghubungi adik ipar dan memintanya untuk datang ke rumah sakit dan membawa pulang ari-ari ke rumah Mama. Mama sudah memberi tahu bahwa ari-ari sebaiknya dikuburkan di rumahnya saja, seperti halnya dengan cucu-cucu yang lain. Seluruh proses dan keperluannya akan diurus oleh Mama.

Usai ari-ari kedua bayi dijemput, sampai sore hari suami masih sibuk bolak-balik membeli perlengkapan bayi. Ternyata ada beberapa barang yang belum saya persiapkan atau jumlahnya kurang. Saya lupa bahwa saya akan melahirkan dua bayi, dan artinya semua kebutuhan seperti sabun, tisu basah, pakaian, dan perlengkapan lainnya juga harus disiapkan dalam jumlah dua kali lipat.

Dua Gelang Biru untuk Dua Bayi Hebat
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Untungnya, di sekitar rumah sakit banyak toko yang menjual perlengkapan ibu dan bayi, jadi suami tidak perlu pergi terlalu jauh. Hanya saja, tetap melelahkan karena ia harus bolak-balik ke toko, ruang perina, NICU, dan kamar rawat saya.

Penutup: Alhamdulillah Semua Berjalan Lancar

Hari itu saya tutup dengan perasaan lega karena akhirnya berhasil melalui proses melahirkan dengan sehat dan selamat. Tapi juga tetap merasa nyeri di bekas jahitan, dan deg-degan menunggu kabar dari ruang perawatan. Kedua bayi saya masih dalam pemantauan dokter. Meskipun bayi kedua tampak sehat, ia lahir dengan kondisi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), dan tetap perlu pengawasan.

Sampai di sini dulu cerita saya tentang proses persalinan dari persiapan hingga bayi-bayi lahir. Hari-hari berikutnya—hari ketiga, keempat dan kelima—akan saya lanjutkan kisahnya di postingan selanjutnya. Tiga hari lainnya di rumah sakit juga masih penuh dengan cerita, harapan, dan tantangan baru. Terima kasih sudah membaca sejauh ini, semoga kisah ini bisa menjadi pengingat bahwa setiap proses melahirkan punya perjuangan dan keajaibannya sendiri.


You Might Also Like

23 komentar

  1. Wow, lahiran kembar! Sekarang bagaimana keadaan mereka, sehat2 aja kan ya?
    Awalnya bingung kok ada camilan malam lalu ooh iya kan besoknya kau operasi dan kudu puasa, jadi camilan bisa diibaratkan menu 'sahur' ya.

    Kalau pakai BPJS dan naik ke kelas VIP bayarnya banyak kah, Mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang satu sudah berpulang Mbak Avi 😊

      BPJS waktu itu kalau naik kelas bayar 60% dari total biaya. Tapi hanya dari biaya ibunya. Anak-anak full cover dari BPJS. Jadi mereka nggak ikut naik kelas. Makanya semua masih diurusin sendiri kalau untuk bayi-bayi. Kalau untuk aku udah tinggal tiduran aja semua diurusin pihak RS.

      Delete
  2. Ngiring bingaahh, ka Aciii..
    MashaAllaa..
    Perasaan ibu baru memang random yaa.. tapi positively, ka Aci happy.

    Happy mom...raise happy child.

    Semoga si kembar tumbuh menjadi ananda sholih/sholihaa... sehat sehat selalu dan senantiasa dilindungi Allaah subhanahu wa ta'ala.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, ikut hepi membaca cerita kelahiran si kembar, seru-seru sedap ya ceritanya. Semoga ananda selalu dalam lindungan AllahSWT dan tumbuh sehat, cerdas, memabwa kebahagiaan untuk keluarga

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah kedua baby akhirnya bisa lahir dengan selamat meskipun memang perlu penanganan lebih lanjut untuk keduanya...
    memang mba kalo dirumah sakit itu yang kita perlukan adalah kenyamanan dan ketenangan hati kalo merasa di kamar tdk nyaman karena harus berbagai ruangan dan fasilitas yg ada masalah lebih baik kita memilih kamar yang lain karena kita memang perlu banget kenyamanan tersebut demi mendukung pemulihan kesehatan kita nantinya

    ReplyDelete
  5. MasyaAllah watabarokallah.. ikut merasakan ketegangan dalam proses melahirkan cesar di tulisan ini dan juga kelegaan setelah endingnya lancar dan selamat ibu dan bayi kembarnya. Ini juga mengingatkan pada proses kelahiran anak ke-4 di keluarga kami yang qodarullah mengharuskan di-cesar pas masa covid-19 belum mereda, jadi pengalamannya hampir sama di mana kita harus swab dulu sebelum proses opname dan juga prosedural lainnya, bedanya putri bungsu kami bukan kembar.. hehe

    ReplyDelete
  6. Ikut berbahagia dengan hadirnya buah hati kembarnya. Terima kasih ya sudah melewati prosesnya dengan baik.

    Membayangkan prosesnya dan bisa melihat buah hati, rasa lega terasa sekali saat membacanya.

    Anw, ternyata visual juga ya, sama denganku dan aku malah gagal fokus tadi baca bubur dengan gula metah langsung oengen hihi. Sukaa.

    ReplyDelete
  7. Jadi dokter bilang lahiran sesar karena bayi kembar, gitu Mbak? Lalu baru tahu kalau hamil kembar di usia kandungan berapa?
    Melahirkan memang deg-degan yaa apalagi kalau operasi. Beberapa teman yang habis SC juga cerita kalau pasca operasi badannya menggigil.
    Ditunggu cerita selanjutnya.

    ReplyDelete
  8. oh teh asri teh ornng malang, ya RSHS mah emng identikk bangunan jadul aku kalau nengok paling pusing k RSHS , ya ceudeum gitu suana nya teh hehe. Sekali lagi selamat ya teh atas kelahiran kembarnya, Insya Allah menjdi anak yang menjadi kebanggaan tth beserta kelluarga

    ReplyDelete
  9. Masya Allah ketiga buah hati Mbak Asri lahirnya sama di bulan Januari. Dan kalau pas operasinya, maka bisa saja tanggalnya sama, ya.
    Dan mengikuti cerita Mbak Asri saat akan melahirkan si kembar. Sampai persiapan ke rumah sakit, ada drama sedikit soal kamar, sampai akhirnya melahirkan dua anak yang hebat. selalu sehat terus si kembar, Mbak Asri

    ReplyDelete
  10. Ikut senang dengan proses lahiran Kak Asri berjalan lancar, ada kisah-kisah seru, terlebih ini nikmat ya mendapat anugerah indah dari Allah yaitu anak kembar.
    Sehat-sehat buat keluarganya Mbak Asri ya.

    ReplyDelete
  11. wah bisa pas banget ya, mbak semua anaknya lahir bulan Januari jadi bisa barengan syukurannya. Penasaran gimana kabar si kembar sekarang kayaknya sudah mau 3 tahun ya, Mbak. Trus ternyata tahun 2023 masih dites covid juga pas masuk rumah sakit nggak terasa banget ternyata kita sudah 3 tahun lepas dari covid

    ReplyDelete
  12. Aku nggak kebayang Mbak pas lahiran kalau anak kembar tuh. Kalau ngelihat beberapa teman yang berpengalaman dan baca dari ceritanya mbak Asri, justru aku feels Amazing. Betapa elastisnya rahim wanita ya.. 😅

    Aku baru tahu kalau posisi operasi caesar yang terjadwal tuh seperti itu. Dulu aku juga c-section, cuma nggak ada camilan malamnya. Posisi masuk RS jam 1 malam dan operasinya jam 5 pagi.

    Semoga sehat2 ya buat kalian semua. 🥰🥰

    ReplyDelete
  13. ya ampun membacanya membuatku juga jadi deg-degaan mbak. Alhamdulillah semuanya lahir dengan selamat ya mbak. Nano-nano rasanya pasti saat itu antara hepi, khawatir dan lelah. Sehat-sehat ya anak kembar

    ReplyDelete
  14. Seneng bgt kalo ada ibunda di samping kita pas jelang kelahiran si kecil ya kak. Apalagi ini kembar. Udah pasti khawatir bgt nih ibunda dan keluarga. Kalo ditemani org tersayang di kondisi kritis gini emg lbh lega sih. Banyak doa dan dukungan bikin operasi bs lancar. Smg si kecil mkn sehat ya kak. Nggak terasa sbntr lagi si kembar udh berusia 2 tahun ya kak. Happy bday buat si kecil ya kak Aci.

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah proses kelahiran si kembar bisa berlangsung dengan selamat walaupun memang bayinya agak kurang beratnya tapi yang penting selamat. Dan saya senang kita ini di dokumentasikan dalam blog supaya bisa dibagikan dan dibaca kepada banyak orang yang mungkin memiliki kondisi yang sama yaitu anak kembar biasanya bisa sangat berguna pada suatu saat nanti dan bisa dibaca sih gambar ketika sudah pada bisa nanti kan

    ReplyDelete
  16. Mbak, saya jadi inget almarhum ibu saya...beliau selalu mendampingi saat saya melahirkan. Setia dan sabar nungguin saya. Ya Allah jadi sedih niih inget ibu saya.

    Itu ruang vip kenapa jadi bayi gak bisa gabung sama ibunya ya? Kirain kalau vip kan spesial layanan jadi adek bayi bisa sama ibunya.
    Gimana skrg kabar adek kembarnya mba? Semoga sehat² selalu yaa semuanya , mba Asrie juga sehat selalu.

    ReplyDelete
  17. Mbaaakk maaf agak ngikik, masih merhatiin ruangan operasi sebelum operasi hihi. Keseringan nonton drakor atau drama jepang tema medis yang ruang operasinya canggih nih yaa? =))

    Emang nggak nyaman banget keknya dibius ya mbak, sampai mual gitu, Untungnya ada kyk peredanya yaa. Mungkin beberapa pasien lain juga ada yang mengalami gejala serupa sehingga gercep penanganannya ya.
    Alhamdulillah ya dua baby selamat, ari2nya juga ditanam di rumah nenek semua.

    BTW aku kepoh mbak, pas minta pindah kamar karena kamar sebelumnya kurang nyaman tu ada penambahan harga nggak? Kan kesalahan di pihak RS gitu krn fasilitasnya yang rusak?

    ReplyDelete
  18. Keren sekali, salut banget sama mba yang berjuang melahirkan anak kembar, pastinya lebih effort sekali ya mba. Sungguh perjuangan seorang ibu itu menginspirasi banget.

    Iya ya, buat di bius kadang ada beberapa yang terasa malah nggak nyaman. Selalu bersyukur kalau dapat dokter dan perawat yang beneran membantu pasien secara maksimal.

    Gimana kabar si kembar saat ini? Semoga keduanya sehat-sehat ya mba.

    ReplyDelete
  19. T-T aah gak kuat aku bacanya
    Jadi ikut flashback..
    Gak terasa udah mau dua tahun berlalu
    Peluk hangat Kak Achi.. Semoga Allah lapangkan selalu hatinya..

    ReplyDelete
  20. Alhamdulillah, lancar persalinannya ya.. persiapannya pun panjang tapi demi menunjang proses persalinan dengan lancar.. tak terasa si kembar sebentar lagi dua tahun usianya ya Mbak..

    ReplyDelete