Kupu-Kupu Biru

October 25, 2020


"Aku ingin tidur dan tak pernah terbangun lagi," ucap Yara sambil menatap kosong ke arah jalan raya yang ramai dengan kendaraan. Jalan Gatot Subroto memang selalu ramai. Apalagi saat malam minggu seperti sekarang ini.


Tadi sore Yara mengirimkan pesan kepadaku. Meminta bertemu di warung tenda favorit kami. Kupikir dia ingin makan seafood kesukaannya. Tapi ternyata dia tidak memesan apapun selain secangkir teh panas yang tak kunjung diminumnya.


"Kenapa?" tanyaku tak mengerti. Obrolan absurd memang sudah menjadi menu utama di setiap perjumpaan kami. Namun tetap saja kalimatnya tadi membuatku tergugah untuk bertanya.


"Aku lelah berkelana. Aku rindu penciptaku. Semoga dia segera memanggilku kembali." Masih dengan mata menerawang Yara menjawab pertanyaanku.


Ketika Yara mengatakan itu, aku menyadari kantung matanya yang semakin tebal, juga kulit wajahnya yang memucat. Tidak seperti biasanya, hari ini dia datang menemuiku tanpa riasan sedikitpun. Kelelahan itu tampak nyata dalam sorot matanya.


"Minum dulu," kataku sambil menyodorkan teh manis pesanannya yang mulai menghangat. Namun dia hanya menatap cangkir itu. Lalu kembali melamun. Menatap jauh entah ke mana.


*****


Hari ini Yara kembali mengajak bertemu. Kali ini kami membuat janji di sebuah kedai kopi langganan kami. Wangi kopi yang memenuhi udara begitu membius, bercampur dengan aroma kakao yang menguar dari cangkir mungil di depan Yara. Cangkir yang tak kunjung disentuh oleh pemiliknya.


Seperti biasa jika Yara berkata "Aku ingin bercerita." Itu artinya aku akan diam sampai dia mulai berbicara. Menunggu kata-kata absurd keluar dari mulutnya. Kadang perkataannya terlalu aneh untuk dicerna, tapi aku selalu senang mendengar ceritanya.


"Kamu tahu? Aku adalah agen yang dikirim penciptaku ke dunia ini. Tentu kamu tahu. Aku sudah berulang kali menceritakannya padamu." Begitulah dia membuka percakapan kami malam ini. Lalu jeda panjang dan menggantung muncul. 


Yara memandang ke jalanan di luar kedai kopi yang hanya dibatasi jendela kaca lebar. Aku tidak tahu apakah dia sedang memperhatikan para pejalan kaki yang lewat, atau hanya melamun seperti yang sering dia lakukan akhir-akhir ini. Selama dia diam aku menghabiskan makananku. Perutku lapar. Aku membutuhkan energi untuk menemaninya malam ini. Aku yakin malam ini akan menjadi malam yang panjang.


"Aku benar-benar lelah, Taka." Yara berbicara lagi. Aku menyesap kopiku untuk membasahi kerongkongan yang mulai kering.


"Sejak gagal dalam misi utamaku 10 tahun yang lalu, kehidupanku di bumi menjadi berantakan. Keluarga, percintaan, pekerjaan, semuanya kacau!" Dia melanjutkan ceritanya dan ditutup dengan desah napas panjang. Aku hanya diam menatapnya.


"Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya, tubuhku ini hanya cangkang. Penampilan cantikku ini hanya tipuan. Aku sudah muak dengan semua kepalsuan ini. Cangkang ini juga terasa semakin membebani. Lagipula misiku telah gagal. Untuk apa lagi aku berlama-lama di bumi?" Dia bertanya, tapi aku yakin pertanyaan itu bukan untukku. Pertanyaan itu dilontarkan bukan untuk dijawab. Dia hanya butuh aku untuk mendengar keluh kesahnya. Jadi aku tetap diam tanpa kata.


Kuperhatikan wajahnya dalam-dalam. Malam ini sekali lagi dia datang tanpa riasan. Meskipun begitu dia tetap mempesona. Yara memang cantik. Matanya yang bulat dihiasi bulu mata lentik. Hidungnya yang mancung berpadu indah dengan bibir tipis, juga dagu lancipnya. Kulit wajahnya putih bersih tanpa setitik pun noda bekas jerawat di sana. Pria manapun pasti terpesona melihatnya. Termasuk aku. Dulu.


*****


"Lihat itu, Taka! Gadis itu cantik sekali." Randi, sahabatku menunjuk ke arah kerumunan mahasiswa baru yang sedang melakukan daftar ulang. Aku pun menengok ke arah yang ditunjuknya, dan menemukan sosok yang disebutnya. Seorang gadis dengan wajah bak bidadari yang sering muncul dalam mimpi-mimpi liarku.


Dia mengenakan celana putih dengan blus berwarna baby blue. Rambutnya yang panjang dan ikal tergerai indah hingga sepanjang punggungnya. Sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu terselip manis menahan sisi depan rambutnya agar tidak terjatuh. Tubuhnya yang tinggi membuatnya semakin menonjol di antara para pendaftar baru itu.


Seperti terhipnotis aku berjalan ke arahnya. Randi berusaha menahanku, tapi daya tarik gadis itu terus menarikku seperti magnet. Tanpa sadar aku sudah berdiri di hadapannya yang menatapku dengan wajah bingung. Aku tidak tahu seperti apa ekspresiku saat itu, yang aku sadari hanya tiba-tiba tanganku terulur ke arahnya.


"Halo! Namaku Taka. Aku mahasiswa jurusan Arsitektur angkatan 2004. Boleh tahu siapa namamu?" Kalimat itu seperti meluncur begitu saja dari mulutku.


Gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri, lalu kembali menatapku, masih dengan wajah kebingungan. Berbagai sorakan dari sekitarku bergaung seperti bebunyian di dalam gua. Bahkan aku mendengar ada yang menyebutku gila. Aku yakin itu suara Randi.


"Kakak bicara dengan saya?" tanyanya kemudian. Dia masih belum menyambut tanganku yang terulur.


"Iya, kamu. Boleh aku tahu siapa namamu?" Aku mengulang pertanyaanku sekali lagi. Tanganku belum menyerah dari posisinya.


"Namaku Yara. Aku mahasiswa baru di jurusan Arsitektur. Mohon bimbingannya senior," jawabnya sambil menyambut jabat tanganku. Kontan suara-suara di sekitarku semakin riuh. Seperti segerombolan lebah yang hendak pulang ke sarangnya.


Begitulah aku mengenal Yara, sang gadis cantik idola kampus. Aku masih tidak mengerti kenapa aku senekat itu mengajaknya berkenalan di perjumpaan pertama kami. Aku yang mendapat julukan "lelaki tampan namun dingin" dari para gadis seharusnya tidak melakukan hal memalukan seperti itu. Namun magnet yang menarikku hari itu terlalu kuat, bahkan medan magnet di antara kami tarik menarik dengan lebih kuat setiap harinya.


Tidak ada hari yang aku lewati tanpa Yara. Setidaknya kami makan bersama sekali dalam sehari. Kami juga sering menonton atau ke toko buku berdua. Kadang kami hanya menghabiskan waktu mengerjakan tugas bersama. Rumahku sudah seperti rumah baginya, begitu juga sebaliknya. Orang tuaku sangat menyukai Yara, dan sepertinya orang tua Yara pun menyukaiku.


Aku pernah menyalahartikan kedekatan kami sebagai ketertarikan antara pria dan wanita, namun ternyata aku salah. Ketika pada suatu hari seorang temanku mendeklarasikan diri sebagai pacar Yara, hatiku benar-benar hancur. Aku mulai menarik diri. Akan tetapi lagi-lagi medan magnet itu menarikku mendekat pada Yara. 


Aku tak bisa menjauhinya. Setiap kali dia memanggilku aku akan selalu datang padanya. Setiap kali dia menghampiriku, aku tak pernah menolak kehadirannya. Begitulah tahun demi tahun berlalu. Kami tetap saling tarik menarik tanpa lelah. Meskipun perasaanku yang terdalam tak pernah sampai kepadanya, rasa itu masih terus ada.


*****


Tut… Tut... Tut…


Bunyi alarm membawaku kembali dari tidur lelapku. Ku raih ponsel dari nakas di samping tempat tidur untuk mematikan bunyinya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 5 pagi. Saatnya mandi dan salat subuh. Sebelum menuju kamar mandi, seperti biasa aku terlebih dahulu mengecek pesan atau panggilan telepon yang masuk. Ada beberapa pesan yang masuk dan salah satunya dari Yara.


Taka, akhirnya Dia memanggilku.


Ku baca pesan singkat itu. Aku penasaran apalagi maksud Yara kali ini. Namun aku tahan rasa penasaran itu karena merasa masih terlalu pagi untuk meneleponnya. Kuletakkan kembali ponselku di atas nakas, lalu beranjak ke kamar mandi. Guyuran air hangat sedikit meredam rasa penasaran yang terus menggangguku.


*****


Aku telah menghabiskan sarapanku, semangkuk buah-buahan segar favoritku. Masih ada 30 menit sebelum waktuku berangkat ke kantor. Kuambil ponselku dan kuhubungi nomor Yara. Namun panggilanku tak kunjung mendapat jawaban. Aku mencoba sekali lagi, dan akhirnya ku dengar suara dari ear phone yang aku kenakan.


"Halo, nak Taka." Suara itu adalah suara ibu Yara.


"Halo, Tante." Aku balik menyapanya. Namun aku merasa ada yang aneh dari nada suaranya.


"Yara menghilang." Ibu Yara kembali berbicara. Disusul suara isak tangis yang begitu pilu.


"Apa maksudnya, Tante? Saya ke rumah sana sekarang." Aku matikan sambungan telepon itu. Bergegas memakai sepatu, mengambil ransel dan kunci mobil, lalu berlari ke tempat parkir.


Kupacu mobilku dengan kecepatan maksimal yang diperbolehkan di jalanan Kota Kembang ini. Aku sampai di rumah Yara dalam waktu 30 menit. Ibunya menyambutku dengan air mata berlinang. Dia tersedu-sedu di bahuku hampir 30 menit dalam posisi masih berdiri di pintu depan. Untunglah aku sudah mengambil cuti hari ini. Aku harus menemukan dimana Yara berada. Mungkin pesannya semalam bisa menjadi petunjuk bagiku.


*****


Kupandangi tubuh yang telah dibungkus kafan di hadapanku. Tubuh itu adalah tubuh Yara, gadis cantik yang selama ini selalu menemani hari-hariku, juga mengisi relung-relung jiwaku yang kosong. Ruangan itu penuh dengan isak tangis, baik dari kerabat maupun teman-teman Yara yang datang.


Kulihat ibu Yara pun masih menangis di sudut ruangan. Di sampingnya duduk seorang wanita yang aku kenal sebagai tante Yara, adik dari ibunya. Semalam Yara ditemukan di sebuah taman kota, tergeletak tak bernyawa. Aku teringat pembicaraanku dan Yara pada suatu hari di taman itu.


"Taka, di taman ini lah aku pertama kali turun ke Bumi. Nanti ketika aku dipanggil, lewat taman ini jugalah aku akan pergi. Di sini portal menuju Sang Penciptaku berada." Begitulah dia bercerita tentang asal usulnya.


Mengingat semua percakapan absurd kami selama ini membuat kesedihanku sirna. Aku tak lagi menganggap sosok berbalut kafan itu sebagai Yara. "Tubuh ini hanya cangkang." Begitu katanya. Dan hari ini aku ingin sekali mempercayai semua percakapan kami. Bahwa dia tidak mati. Suatu hari dia akan kembali dengan misi yang lain lagi.


*****


Aku menatap pusara yang bertuliskan nama Yara di atasnya. Bunga segar masih memenuhi rumputnya. Para pelayat, termasuk ibu Yara, baru saja pergi meninggalkan area pemakaman. Aku berdiri seorang diri di sana, ketika kulihat seekor kupu-kupu berwarna biru yang cantik hinggap di atas batu nisannya.


"Kamu tahu arti namaku, Taka? Yara itu artinya kupu-kupu. Karena itu aku cantik seperti kupu-kupu." Aku kembali teringat celoteh Yara pada suatu hari yang cerah di taman rumahku. Tanpa terasa mataku yang sedari kemarin kering mendadak basah oleh air mata. Aku tak sanggup lagi menahan isak tangisku.


Kupu-kupu biru itu terbang. Mungkin terkejut mendengar isakku. Namun dia tak pergi jauh. Dia bertengger di bahuku. Aku meliriknya, lalu kudengar sebuah suara.


"Jangan sedih, Taka. Ini aku. Aku pasti datang lagi ke Bumi dan menemukanmu." Itu suara Yara. Aku yakin. Sangat yakin. Ketika suara itu berhenti. Kupu-kupu biru itu pun lenyap menjadi serpihan cahaya.


***


Cerita pendek ini pernah saya ikut sertakan dalam lomba menulis yang diselenggarakan oleh Sigikata. Lomba tersebut bertema "Bercerita Cinta". Meskipun hanya berhasil masuk dalam 50 besar, namun saya tidak berkecil hati. Saya akan terus berkarya hingga akhirnya karya saya menjadi lebih baik lagi. Bagi yang membaca karya saya ini, mohon berikan kritik dan saran yang membangun di kolom komentar. Terima kasih 😉

You Might Also Like

6 komentar

  1. Keren mbaaa.. baca cerpen ini tuh kyk ada aura2 cerpen kompas.. Mantuull..👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiihh...

      Aku malah belum pernah baca cerpen-cerpen kompas

      Delete
  2. meski endingnya sedih tapi tetap berisi harapan. Keren!

    ReplyDelete