Sungai Ayung Punya Cerita

September 20, 2020



Cerita ini hanya fiktif. Ditulis dalam rangka bosan di rumah dan rindu jalan-jalan. Juga mengenang perjalan saya kesana bertahun-tahun yang lalu bersama rekan-rekan kerja di Bali.


***


“Jangan melamun!” kata seseorang sambil menepuk bahuku. Aku menoleh dan mendapati seorang pria berusia sekitar 40 tahun berdiri di belakangku. Beliau adalah Pak Budi, salah satu traveller senior yang tergabung di komunitas kami.


“Saya tidak melamun, Pak,” jawabku sambil tersipu malu. Entah kenapa aku merasa malu, seolah-olah Pak Budi memergokiku melakukan kesalahan.


Sedari tadi aku memang sedang mengamati  para panitia acara di meja resepsionis. Sebetulnya ada satu orang yang menarik perhatianku di antara mereka. Seseorang yang selama ini hanya kukagumi dari kejauhan. Seseorang yang selalu aku tinggal kabur setiap kali dia berada di sekitarku. Aku belum cukup berani berinteraksi dengannya. Aku takut perasaanku diketahuinya. Karena ini rahasia. Hanya aku dan Tuhan yang tahu tentang rahasia ini. Jadi aku panik ketika tiba-tiba Pak Budi menyapaku yang sedang asyik memandanginya.


“Baiklah kalau tidak melamun.” Pak Budi menimpali sambil menarik kursi kosong di sampingku dan duduk dengan santai di sana. “Apakah kamu sudah dapat tim untuk rafting nanti?” Pak Budi mengajukan pertanyaan sambil menyuapkan potongan pisang keju terakhir ke dalam mulutnya.


Beberapa menit yang lalu, saat sampai di pos keberangkatan ini, kami disambut oleh pihak pengelola. Mereka mempersilahkan kami menikmati teh manis hangat dan pisang keju yang sudah tersedia di meja panjang di tengah ruang kedatangan. Perut lapar dan udara dingin menjadi kombinasi sempurna yang membuat teh hangat dan pisang goreng keju itu terasa begitu nikmat.


Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Pak Budi karena beliau beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil pisang keju lagi. Aku kembali mengamati sekitar. Taman dan pohon-pohon rindang menghiasi pos keberangkatan ini. Kursi-kursi dan meja-meja lain, yang serupa dengan tempatku duduk, tersebar di antara taman dan pepohonan. Helm pengaman, pelampung dan dayung ditata rapi pada satu sudut ruang kedatangan, di depan kamar mandi dan ruang-ruang ganti. Ruang-ruang ganti itu sekarang penuh dengan peserta yang berganti pakaian.


"Sampai dimana tadi? Sudah ada tim atau belum?" Pak Budi kembali duduk di kursinya.


"Belum, Pak. Saya belum mencari tim untuk nanti." Aku menjawab singkat.


“Jika belum ada teman, bagaimana kalau kamu bergabung dengan tim saya saja? Satu perahu karet biasanya diisi enam orang dan satu pemandu, kebetulan kami masih lima orang. Butuh satu orang lagi.” Pak Budi menjelaskan.


Aku berpikir sejenak, lalu mengiyakan ajakan itu. Beliau pun menyebutkan siapa saja yang akan bergabung bersama kami. Ada Pak Kadek dan Pak Edi, mereka berdua hampir seumuran dengan Pak Budi. Lalu ada Dika serta Roy yang masih berstatus mahasiswa. Mereka semua juga para traveller yang tergabung dalam komunitas kami. Hari ini adalah agenda bulanan komunitas. Setiap bulan, minimal sekali, semua anggota berkumpul dan mengadakan perjalanan bersama seperti ini.


“Jadi saya satu-satunya perempuan di tim kita, Pak?" Saya bertanya untuk memastikan.


"Iya. Tidak masalah, kan?" Pak Budi bertanya balik.


"Tentu saja tidak. Malah senang saya tidak perlu mendayung terlalu kuat.” Aku menjawab dengan sedikit bercanda. Kupamerkan cengiran lebar ke arah Pak Budi.

***

Perjalanan turun ke sungai sedikit berat. Tangga batu yang terjal dan berlumut membuatku beberapa kali hampir terpeleset. Hingga akhirnya aku memutuskan melepas alas kakiku yang hanya berupa sendal jepit itu. Saat hampir sampai di tepi sungai, tangga itu semakin licin.


"Hati-hati!” Seseorang menangkap lengan atasku saat aku nyaris tergelincir di tiga anak tangga terakhir. Tanpa membalikkan badan, aku sudah tahu siapa yang menolongku. Suara itu sudah sangat familiar di telingaku. Jadi sedari tadi dia di belakangku?


Tangan itu tak kunjung melepaskan pegangannya di lengan kananku sampai kami berdua menapak di tanah datar di tepi sungai. Jangan ditanya bagaimana perasaanku. Aku ingin sekali menengok ke belakang, tapi nyaliku ciut. Aku hanya mendengar bunyi langkah kakinya yang berjalan tepat di belakangku.


"Terima kasih," ucapku lirih saat akhirnya genggaman itu lepas dari lenganku. Aku memberanikan diri berbalik menatap sang penolongku. Dugaanku benar. Rama lah yang menolongku. Jantungku berdegup kencang demi melihat pujaan hati berdiri di hadapanku.


"Sama-sama. Aku melihatmu hampir terpeleset berkali-kali, tapi yang terakhir tadi nyaris membuatmu terjungkal. Jadi aku membantumu. Hati-hati, ya." Rama tersenyum manis ke arahku, lalu beranjak pergi menemui teman-teman yang lain. Aku berdiri terpaku di tempatku.


"Ana. Ayo bersiap-siap!" Teriakan Pak Budi membuat kesadaranku kembali, dan aku pun bergegas menghampiri beliau.


Hari ini rombongan kami terbagi dalam tiga tim. Saat semua tim sudah sampai di tepi sungai, pemandu masing-masing tim memberikan pengarahan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keselamatan selama rafting. Pengenalan alat-alat yang digunakan; seperti jaket pelampung, dayung, perahu karet; posisi duduk di atas perahu; cara mendayung; cara menyelamatkan diri jika perahu terbalik; bagaimana menolong teman yang terjatuh; dan beberapa hal lain yang tak lagi aku perhatikan.


Perhatianku teralihkan pada sosok Rama yang sedang mengenakan alat-alat keselamatan diri. Dia tampak menjulang di antara peserta-peserta lainnya. Jaket pelampung menutupi kaos abu-abu gelap yang dikenakannya, membuatnya terlihat semakin atletis. Helm pengaman yang dipakainya sesaat sebelum pemandu kami menyelesaikan arahannya, menutup bagian atas rambutnya yang bergaya spike.


"Kak Ana, jaketnya tidak dipakai?" Dika yang berdiri disampingku mengingatkan. Lagi-lagi aku gelagapan karena takut ketahuan memandangi Rama, dan segera memakai jaket pelampung serta helmku.


Setelah pengarahan selesai, kami berdoa bersama dan mulai naik ke perahu karet. Beberapa menit kemudian perahu karet kami sudah menari-nari di tengah arus sungai yang deras. Aku melihat perahu yang dinaiki Rama berada tepat di depan perahuku. Tentu saja aku ingin satu perahu dengan Rama, tetapi itu tidak mungkin. Seperti biasa, para panitia selalu berkumpul menjadi satu. Mungkin lain kali aku harus menjadi panitia bersamanya.


Sungai yang kami lalui ini adalah Sungai Ayung. Salah satu sungai yang menjadi destinasi favorit untuk melakukan aktivitas rafting di Bali. Arusnya tidak terlalu deras, sehingga cukup aman untuk para pemula sepertiku. Di sisi kiri dan kanan sungai berdiri tebing-tebing tinggi yang di beberapa tempat diukir dengan indah, hasil karya para seniman Ubud. Pepohonan rindang di sepanjang tepi sungai menambah kesejukan siang ini. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata. Bunyi-bunyian yang berasal dari suara serangga pohon dan kicau burung menambah syahdu suasana. Aku terhipnotis oleh keindahan alam yang belum pernah aku temukan sebelumnya.


Setelah perjalanan sekitar satu jam, itu hanya perkiraanku karena aku tidak memakai jam tangan, kami mencapai sebuah tempat dimana airnya tidak terlalu berarus. Permukaan airnya hampir tenang seperti kolam. Pada satu sisi terdapat sebuah air terjun kecil, dimana beberapa wisatawan dari rombongan lain asyik berfoto. 


“Bagi yang ingin berenang atau berfoto-foto saya persilahkan. Kita istirahat sejenak di sini.” Pemandu kami memberikan instruksi.


Tak menunggu lama, Dika dan Roy langsung loncat ke dalam air yang tampaknya tidak terlalu dalam. Mereka berenang kesana kemari, bergabung dengan teman-teman yang lain. Beberapa dari mereka menuju air terjun dan mengguyur badannya dengan air yang jatuh dengan deras itu. 


Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka dari atas perahu karet. Tiba-tiba aku merasakan ada yang menabrak tanganku yang menggantung di tepi perahu. Aku melongok ke arah sungai di sampingku dan mendapati Rama berenang di sana. Tiba-tiba dia meraih kedua telapak tanganku yang berpegangan di tepi perahu dan menggenggamnya. 


“Dingin dan pucat sekali tanganmu. Kamu baik-baik saja?” Rama bertanya sambil menatap dalam ke arah mataku.


Aku terdiam. Otakku tak mampu merangkai kata-kata. Aku hanya memperhatikan mata indah yang dihiasi alis tebal dan bulu mata yang lentik itu. Menyadari aku yang tampak gugup, Rama segera melepaskan jemariku.


“Maaf," katanya singkat. "Ayo ikut berenang!” Rama mengedipkan sebelah mata untuk mencairkan kecanggungan yang sesaat terbentuk di antara kami. Aku hanya menggeleng. Dia membalas dengan mengernyitkan dahinya.


“Aku tidak bisa berenang,” jawabku kemudian.


Rama melihatku dengan tatapan tidak percaya. Kami hanya saling berpandangan seperti itu selama beberapa detik, sampai salah satu temannya berenang mendekat dan menariknya pergi. Dia meronta tapi tarikan itu terlalu kuat. Akhirnya dia pun menyerah. Dia berenang menjauh sambil melambaikan tangan dan tersenyum kecil ke arahku. Jantungku berdebar. Rasanya tubuhku meleleh dan melebur kedalam air sungai yang dingin itu. Berenang pergi mengejar sosok lelaki yang semakin menawan hatiku.

***

“Awas pohon! Merunduk!” Aku mendengar teriakan dari pemandu kami.


Tiba-tiba sekitarku menjadi gelap. Dadaku terasa berat. Aku tidak bisa bernafas. Badanku seperti terseret ke dalam pusaran yang terus berputar.  Setelah sadar, ternyata aku berada di dalam air. Sisi kanan kepalaku terasa panas dan berdenyut. Sepertinya aku menghantam pohon dan jatuh ke sungai.


Aku berusaha naik ke permukaan tapi tidak bisa. Arus sungai semakin menenggelamkanku dalam derasnya. Aku panik dan terus menggapai-gapai. Air masuk kedalam mulut dan hidungku. Aku mulai kehilangan kesadaran sekali lagi. Tapi aku masih merasa ketika ada seseorang yang menarik tubuhku. Beberapa saat kemudian dinginnya tanah terasa di punggungku. Napasku masih berat dan tenggorokanku penuh air. Aku juga belum bisa membuka mata karena rasa sakit di pelipis kananku.


“Ana, kamu baik-baik saja? Kamu bisa mendengarku?” Ada nada panik dalam suara itu. 


Aku berusaha membuka mata. Samar-samar aku melihat Rama bersimpuh di sampingku. Air masih menetes dari rambut dan bajunya yang basah kuyup. Seketika aku sampai pada sebuah kesimpulan, Rama yang menarik dan menyelamatkanku dari dalam sungai. 


Kesadaranku mulai berkumpul. Aku terbatuk-batuk mengeluarkan air dari rongga dadaku. Aku bangkit dan berusaha duduk. Rama membantu dengan menahan sikuku. Sekali lagi aku terbatuk-batuk keras, lalu tanpa aku sadari air mata menetes dari sudut mataku, dan tak berapa lama berubah menjadi isakan-isakan kecil. 


Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Antara terkejut, sakit, dan lega bercampur menjadi satu. Menyadari aku mulai menangis, Rama mengelus rambutku serta menepuk-nepuk bahuku. Tampak sekali dia berusaha menenangkanku. Akhirnya aku hanya diam dan menangis di hadapannya. 


Nyaman rasanya diperlakukan seperti ini. Aku berharap waktu berhenti dan aku bisa menikmati saat-saat ini selamanya. Namun kemudian aku menarik diri ketika menyadari banyak mata yang menatap kami berdua. Aku berpindah posisi, lalu duduk diam menyandarkan diri ke dinding tebing yang berdiri kokoh di sepanjang tepi sungai. Tubuhku masih sedikit gemetar, tapi sakit di pelipis kananku sudah berkurang.


“Minum dulu, Ana.” Pak Budi memberiku sebotol air mineral ketika aku sudah sedikit tenang. Aku mengambilnya dan langsung meneguk habis semua isinya. Aku merasa sangat haus setelah kejadian mengejutkan ini. Setelah rasa haus itu hilang, aku kembali diam di tempatku. Rama masih duduk di sampingku dan terus memandang cemas ke arahku. Aku berusaha tak mengacuhkannya meski hatiku sangat bahagia melihatnya begitu mencemaskanku.


“Apakah kita sudah bisa melanjutkan perjalanan sekarang? Hari sudah semakin sore. Kita harus sampai sebelum gelap.” Pemandu kami bertanya kepadaku setelah kami berhenti di sana sekitar 30 menit. Aku melihat rekan satu timku menunggu di pinggir sungai, bersama dengan beberapa panitia yang satu perahu dengan Rama, juga pemandu mereka. Mereka semua menatap iba ke arahku.


“Aku rasa aku sudah cukup kuat.” Aku bangkit dari tempat dudukku. Aku tidak enak membuat semua orang tertahan di sini karenaku.


“Kamu yakin?” Rama bertanya sembari membantuku berdiri. Aku hanya mengangguk dan memakai kembali perlengkapanku. Aku berusaha tampak tenang agar mereka berhenti menatapku seperti itu, dan menyakinkan diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja.


“Ayo berangkat!” Aku berkata singkat sambil tersenyum simpul ke arah semua orang. Mereka juga ikut tersenyum dan menyemangatiku sebagai balasannya. Perjalanan kami belum berakhir, dan seperti kata pemanduku, kami harus sampai sebelum gelap.

***

Setelah mengarungi sungai sepanjang kurang lebih 13 km dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam, akhirnya kami sampai di stopping point. Di tempat ini disediakan restoran, bale-bale untuk istirahat, ruang ganti, kamar mandi dengan air hangat, dan handuk gratis. Kami datang paling akhir karena adanya insiden tadi. Peserta yang lain sebagian besar sudah menikmati makan sore dengan menu buffet yang telah disediakan di restoran tepi sungai tersebut.


Aku beristirahat sejenak di bale-bale yang ada di sepanjang tepi sungai, ditemani Rama dan Pak Budi. Sejak insiden tadi, aku merasa Rama terus membuntutiku. Bahkan di sisa perjalanan setelah insiden tadi,  dia bertukar perahu dengan salah satu anggota timku. Mungkin dia mengkhawatirkan aku. Jujur saja, perhatiannya ini membuat harapanku melambung. Aku jadi berpikir bahwa mungkin saja perasaanku selama ini tidak bertepuk sebelah tangan.


Kami bertiga berbincang-bincang sejenak, lalu angin sore berhembus membawa udara dingin. Kami pun memutuskan untuk bubar dan bergegas mandi karena baju basah yang menempel di tubuh kami semakin terasa dingin. Begitu masuk kamar mandi dan merasakan air hangat, tubuhku rasanya begitu rileks. Ketegangan yang sempat menggelayutiku semenjak insiden tadi perlahan lenyap.


Selepas mandi aku bergabung di restoran dengan para peserta yang lain. Perutku sudah sejak tadi mengeluarkan bunyi-bunyian karena lapar dan meminta untuk diisi. Rafting tadi cukup menguras energi, belum lagi ditambah hal tidak terduga yang membuat adrenalin mengalir deras, rasanya aku bisa melahap habis seekor sapi saking laparnya.


“Mau minum?” Tiba-tiba sebotol air mineral disodorkan di hadapanku. Mau tak mau aku mendongak dari piring dan makanan yang sedari tadi menyita perhatianku. Ternyata Rama.


“Boleh. Terima kasih.” Aku menjawab singkat dan mengambil botol air mineral dari tangannya. Sepertinya dia memperhatikan bahwa aku hanya mengambil makanan dan belum mengambil air minum.


“Bagaimana kepalamu? Masih sakit?” Rama bertanya dengan ekspresi khawatir yang masih sama seperti saat dia menolongku dari dalam sungai. Dia menarik kursi kosong di depanku, meletakkan makanannya di meja, lalu duduk diam sambil menatapku. Sekali lagi jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya. Alis mata lebat dan bulu mata lentik itu kembali menggodaku.


“Sepertinya sudah membaik. Hanya sedikit nyeri jika ditekan,” jawabku dengan salah tingkah. Aku meraba pelipis kananku untuk memastikan. Tapi sepertinya Rama langsung percaya dengan kata-kataku dan mulai melahap isi piringnya. Sejenak kami terdiam dan sibuk dengan makanan masing-masing. Aku pun begitu. Rasa lapar ini tidak bisa ditahan lagi.


"Sampai di Denpasar nanti aku antar ke rumah sakit, ya." Rama membuka percakapan kembali ketika makanan di piringnya sudah habis. Piringku pun sudah kosong karena aku makan lebih dulu daripada Rama.


"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Kalau besok ada efek samping, baru aku ke rumah sakit." Aku menjawab dengan santai dan memperlihatkan padanya bahwa aku baik-baik saja.


"Baiklah. Besok kamu bisa menghubungiku jika butuh bantuan. Aku siap membantu kapan pun dibutuhkan." Rama berkata dengan mantap.


"Semoga aku tidak perlu meminta bantuanmu, yang berarti aku sehat-sehat saja sampai besok dan seterusnya." Ku sunggingkan senyum termanisku, dan aku melihat rona merah di pipinya. Lalu dia membuang muka. Menggemaskan sekali. Hatiku kembali berbunga-bunga. Ini percakapan panjang pertama kami setelah tiga tahun aku mengenal dan mengaguminya. Apa dia juga menyukaiku?


"Aku permisi sebentar, ya." Rama berpamitan dan membawa pergi piring kotornya. Aku duduk diam menghabiskan semangka dan melon sambil menatap sungai di depanku. Mendadak nyeri di kepalaku kembali menyerang dengan cukup hebat. Aku menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir sakitnya.


Beberapa menit kemudian, lampu restoran yang tadinya sudah menyala karena hari mulai gelap tiba-tiba mati. Meski restoran ini berkonsep semi terbuka, minimnya cahaya membuat suasana menjadi remang-remang. Aku menoleh kesana kemari. Bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi sambil terus menahan nyeri di kepalaku.


Lalu aku melihat seseorang mendekat dengan cahaya lilin di tangannya. Semakin dekat semakin jelas terlihat bahwa dia adalah Rama, dan lilin-lilin itu bertengger di atas sebuah kue yang cantik. Siapa yang berulang tahun? Aku yakin hari ini bukan hari ulang tahunku. Sejenak wajah Rama yang dihiasi cahaya lilin membuatku lupa akan sakit kepalaku.


Rama berhenti tepat di hadapanku. Aku pun berdiri dari tempat dudukku. Lalu lampu menyala lagi. Aku terkejut membaca ucapan yang ada di kue itu. Bukan. Memang bukan ucapan ulang tahun. Teman-teman yang berdiri di belakangnya pun tidak menyanyikan lagu ulang tahun untukku.


"Will you marry me, Ana?" Rama mengucapkan kalimat yang ada di kue itu. Semua orang di sekitar kami menatap penasaran menunggu jawabanku. Aku terkejut, bingung, sekaligus sangat senang. Namun tubuhku terasa limbung. Sakit kepalaku semakin menjadi. Pak Budi yang berdiri di sampingku membantuku duduk kembali.


"Kamu baik-baik saja, Ana?" Rama buru-buru meletakkan kuenya di atas meja. Sekali lagi dia tampak cemas.


"I do, Rama. I do. Aku mau menikah denganmu." Aku menjawab sambil gemetar. Dengan berat ku sunggingkan senyum untuknya. Tepuk tangan riuh menggema di udara. Wajah cemas Rama berubah menjadi senyum cerah. Namun kemudian kesadaranku hilang.


"Ana! Ana! Ana!" Suara itu terus menggema di alam bawah sadarku. Ah, pasti Rama cemas lagi.






You Might Also Like

2 komentar

  1. Aaaahhh... I am melted. So sweet banget siihh Rama ini.

    Jadi ingat pernah rafting di sini juga tapi syukurnya gak ada adegan-adegan nabrak pohon dan jatuh ke sungai. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha... Tapi terlalu khayal endingnya. Perlu diedit lagi tampaknya hehehe

      Seru ya rafting. Kangen jadinya

      Delete