Naik Ferry ke Singapura Asik Juga...

January 12, 2020


Singapura adalah salah satu destinasi wisata yang asik untuk dikunjungi. Negara kecil ini memiliki banyak tempat wisata menarik yang mengundang para wisatawan untuk singgah. Mulai dari theme park, kebun binatang, botanical garden, aquarium, taman publik, hingga mall-mall besar bagi para pecinta wisata belanja.

Selain tempat wisata yang menarik, kebersihan kota adalah salah satu hal yang membuat saya jatuh cinta ketika pertama kali saya bertandang ke sana. Tidak banyak tersedia tempat sampah di jalanan Singapura, namun kotanya begitu minim sampah.
Jalanannya begitu bersih (Foto 2016)


Berbeda dengan kunjungan pertama kami tahun 2016 yang ditempuh dengan pesawat terbang dari Bandung, kunjungan kedua tahun 2019 ini kami tempuh dengan menggunakan kapal ferry dari Batam. Berbekal tiket promo penyeberangan ferry dari Pelabuhan Sekupang-Harbourfront, pada tanggal 13 November 2019 yang lalu, kami bertiga kembali berkunjung ke Singapura.

Kami membeli tiket  Majestic Fast Ferry dengan harga 200rb/orang untuk perjalanan pulang pergi. Tiket yang kami terima adalah tiket open date. Keuntungan tiket open date adalah kita bisa memilih sendiri tanggal dan jam keberangkatan. Cukup dengan booking via telepon ke counter Majestic Fast Ferry yang ada di pelabuhan keberangkatan.

PELABUHAN SEKUPANG

Tujuan kami ke Singapura hari itu adalah berjumpa dengan kakak ipar dan keluarganya yang sedang berlibur di Singapura. Awalnya kami berencana menginap di Singapura, namun karena jadwal kedatangan kakak ipar diundur, kami pun membatalkan rencana tersebut dan hanya melakukan perjalanan sehari.

Sekitar pukul 06.00 WIB kami sudah sampai di Pelabuhan Sekupang. Kami akan menaiki ferry yang dijadwalkan berangkat pada pukul 07.30 WIB. Setelah memarkir motor, kami pun segera masuk ke dalam gedung pelabuhan.
Pelabuhan Sekupang di pagi hari

Begitu memasuki gedung kami disambut lobi yang terdapat eskalator di depannya. Setelah membaca papan penanda, kami pun naik ke lantai 2 untuk check in di counter Majestic Fast Ferry. Di lantai 2 berjajar toko-toko dan counter-counter yang menjual tiket ferry dengan berbagai variasi jam keberangkatan.
Counter Majestic Fast Ferry

Setelah melakukan check in dan mendapatkan boarding pass, kami pun berkeliling sambil menunggu pintu ke ruang tunggu dibuka untuk jadwal keberangkatan kami. Memang kita tidak bisa langsung masuk ke ruang tunggu keberangkatan seperti di bandara. Penumpang baru diijinkan masuk ke dalam ruang tunggu 45 menit sebelum keberangkatan. Daftar ferry yang penumpangnya bisa masuk ke ruang tunggu bisa dilihat di layar yang ada di dekat pintu masuknya.
Lantai 2 pelabuhan sekupang

Di ujung koridor, dekat dengan toilet dan mushola kami menemukan kids corner, di mana terdapat beberapa mainan untuk anak-anak. Akhirnya kami pun memutuskan untuk menunggu di sana. Yoshi senang bisa naik turun di palang-palang mainan yang ada. Pagi itu pelabuhan cukup sepi karena kami pergi di hari biasa, hanya kami yang bermain di kids corner. Mungkin jika akhir pekan akan lebih ramai di sana.
Kids Corner yang berdekatan dengan toilet dan mushola

Sekitar pukul 6.45 WIB, terdengar panggilan bagi kami untuk masuk ke ruang tunggu. Kami pun segera menuju pintu yang mengarah ke sana. Ternyata setelah melewati pintu, kami turun lagi ke lantai bawah dengan menggunakan eskalator. Di ruang tunggu terdapat kursi-kursi, toilet dan beberapa toko, namun entah kenapa sebagian besar toko di sana tutup. Entah karena masih pagi atau memang sudah tidak beroperasi lagi.
Ruang tunggu keberangkatan

MAJESTIC FAST FERRY

Kapal kami sedikit mengalami keterlambatan. Seharusnya jadwal boarding pukul 7.15 WIB namun hingga pukul 7.30 WIB, yang merupakan jadwal keberangkatan, kapal kami belum juga datang. Baru sekitar 20 menit kemudian kami dipersilahkan untuk masuk ke dalam kapal.
Kapal yang kami naiki

Kapal Majestic Fast Ferry cukup bersih dan nyaman. Apalagi hari itu hanya sedikit penumpang yang naik, sehingga kami leluasa memilih tempat duduk. Kami duduk di kursi-kursi yang dekat dengan jendela. Di jajaran tepi ini hanya ada 3 kursi per baris, cukup untuk kami bertiga, sedangkan di tengah lebih banyak lagi. Untuk hiburan terdapat majalah dan televisi yang menayangkan film. Pagi itu film yang ditayangkan adalah Avengers-Endgame.
Suasana di dalam kapal

Awal perjalanan berjalan lancar. Yoshi asyik melihat kapal-kapal yang melintas di sekitar kapal kami. Namun ternyata kegiatan melihat-lihat kapal itu membuat Yoshi merasa mual dan akhirnya muntah walaupun hanya sedikit, bahkan saya pun merasa mual ketika tidak bersandar ke kursi. Sisa perjalanan kami habiskan dengan duduk diam bersandar ke kursi sambil menonton film.
Hiburan di dalam kapal

IMIGRASI

Sekitar 40 menit setelah keberangkatan, berlabuhlah kapal kami di pelabuhan Harbourfront. Setelah kapal benar-benar berhenti baru kami turun dari kapal dan menuju imigrasi. Ternyata antrian imigrasi tetap panjang meskipun bukan akhir pekan. Kami menunggu sekitar 30 menit untuk sampai di antrian depan.

Sesampainya di depan, saya sedikit kaget ketika seorang petugas wanita mengajak suami berbicara. Saya pikir ada masalah. Ternyata dia hanya melihat kartu kedatangan kami belum terisi lengkap, sehingga beliau meminta kami untuk keluar dari barisan terlebih dahulu dan menuju tempat pengisian.

Saya sudah lupa kolom mana saja yang wajib diisi 3 tahun yang lalu. Untung saja petugasnya menjelaskan kepada kami mana saja yang harus kami isi. Beliau juga menginformasikan kepada kami jika sekarang kartu tersebut bisa diisi secara online, namun untuk informasi yang satu ini belum saya pelajari lebih jauh.

Setelah kartu kami isi dengan lengkap, saya pikir kami harus mengantri lagi dari belakang. Ternyata tidak perlu, petugas mengantar kami maju di antrian terdepan, sehingga kami bisa langsung memproses imigrasi. Tidak ada dokumentasi yang kami ambil selama proses imigrasi ini, karena memang peraturan melarang hal tersebut.

VIVO CITY

Usai semua proses imigrasi, kami turun ke lantai bawah yang terhubung dengan Harbourfront Center. Lalu dari Harbourfront Center kami menuju Vivo City karena kami janji berjumpa dengan kakak di sana. Vivo City ini adalah sebuah mall yang terhubung dengan stasiun MRT dan pelabuhan. Juga merupakan jalur utama untuk menuju ke Pulau Sentosa.

Kami sampai di Vivo City sekitar pukul 11 waktu Singapura. Waktu Singapura ini sama dengan Indonesia bagian tengah, yaitu 1 jam lebih cepat daripada Kota Batam. Begitu masuk yang kami cari pertama adalah tempat makan. Perut kami sudah keroncongan karena sedari pagi hanya diisi roti dan air. Saya teringat 3 tahun lalu pernah makan di sebuah foodcourt yang terletak di lantai bawah. Saya lupa tepatnya lantai berapa, saya hanya ingat lokasinya satu lantai dengan pintu keluar stasiun MRT.

Jika keluar dari stasiun MRT, langsung saja berbelok ke kiri. Berdekatan dengan Burger King dan Mcdonald, ada sebuah foodcourt bernama "Kopitiam". Disana banyak dijual makanan-makanan halal yang telah mendapat sertifikasi dari Majlis Ugama Islam Singapura (Sejenis MUI di Indonesia), harganya pun tergolong murah jika dibandingkan dengan restoran-restoran di lantai atas.

Siang itu saya memesan semangkuk lor mee sedangkan suami dan Yoshi memesan seporsi nasi ayam hainan. Lor mee sendiri mirip dengan lomie yang sering saya makan di Bandung, mie yang disajikan dengan kuah kental berwarna kehitaman. Pada kunjungan sebelumnya saya juga memesan menu ini dan entah kenapa hari itu saya ingin memakannya lagi. Ketika saya masih memesan lor mee, kakak ipar menelepon, mengabarkan bahwa mereka telah sampai di Vivo City, saya menjelaskan lokasi kami, lalu beberapa menit kemudian berjumpalah kami.

Semangkuk lor mee panas

Kami senang bisa berjumpa lagi  setelah lebih dari setahun yang lalu kami berpisah di Bandara Husein Sastranegara. Yoshi pun nampak ceria berjumpa kembali dengan sepupunya, walaupun awalnya mereka malu-malu. Setelah bersapa-sapa kami pun makan sambil mengobrol. Mereka juga ikut memesan makanan karena memang sudah memasuki jam makan siang.

Makan siang usai sudah. Kami pun memutuskan untuk berjalan-jalan di Vivo City terlebih dahulu. Siang itu tujuan utama kami adalah toko mainan dan toko sepatu. Pada setiap lantai di Vivo City terdapat layar informasi yang berisi beraneka macam informasi mengenai mall tersebut. Fasilitas ini sangat membantu bagi para pengunjung yang baru pertama kali datang.

Jika ingin mengetahui lokasi sebuah toko, kita hanya perlu mencarinya, dan akan keluar lokasi serta denah posisi toko tersebut, bahkan kita bisa mencari jalur menuju toko itu dari posisi kita saat itu. Sepertinya saya juga pernah menemukan fasilitas seperti ini di Indonesia, tapi saya lupa di Mall mana.
Duo krucil
(satu-satunya foto di Vivo City hari itu)

Pencarian paling lama adalah di toko Cotton on. Kakak mendapat banyak pesanan sepatu dari teman-temannya di kantor. Keluar dari sana kami membawa 6 pasang sepatu dan salah satunya adalah milik saya. Malah suami yang awalnya ingin membeli sepatu tidak mendapatkan apa-apa.
Borongan sepatu

SENTOSA

Puas berjalan-jalan, kami ragu antara langsung berangkat menuju Garden by The Bay atau mampir ke Pulau Sentosa terlebih dahulu. Namun akhirnya diputuskan untuk pergi ke Pulau Sentosa karena lokasinya lebih dekat. Kami pun naik ke lantai paling atas, ke tempat pemberhentian monorail yang menuju Pulau sentosa.

Untuk menaiki monorail kami membayar 4 dolar singapura per orang. Sebetulnya di tiket tertulis di atas 3 tahun sudah harus membayar. Namun petugasnya berkata tidak perlu, jadilah Yoshi dan sepupunya naik monorail secara gratis. Alhamdulillah.
Tiket Monorail

Menuju pulau sentosa ini lagi-lagi mengingatkan kami pada perjalanan di tahun 2016. Pada saat itu kami menuju Pulau Sentosa melalui Sentosa Broadwalk. Seharusnya di sana terdapat travelator beratap yang bisa digunakan oleh pengunjung. Namun saat itu travelator nya tidak beroperasi, sehingga kami harus berjalan kaki hingga ke Sentosa. Pengalaman yang cukup melelahkan. apalagi dengan menggendong Yoshi yang waktu itu masih berusia 8 bulan. Namun lelah itu terbayar dengan pengalaman yang tak akan terlupakan.

Sentosa Boardwalk (Foto 2016)

Sampai di Sentosa kami berjalan menuju ke bola dunia yang bertuliskan Universal Studio. Kakak ingin mengulang foto di sana, karena menurutnya foto-foto yang lama tidak terlalu bagus. Belum sampai di bola dunia, kami disambut air mancur. Banyak anak-anak bermain di situ, tentu saja Yoshi dan sepupunya juga tergoda untuk bermain, namun acara basah-basah tersebut kami batalkan karena sepupu Yoshi tidak membawa baju ganti. Lalu mereka pun beralih main kejar-kejaran.
Main air

Puas berkejaran kami mampir sejenak ke toko Candylicious. Di sana kakak membeli beberapa permen titipan dan juga untuk dirinya sendiri, sedangkan saya hanya "numpang" mendinginkan badan sejenak. Di luar cuaca cukup terik sehingga AC ruangan begitu dirindukan. Setelah membeli permen kami duduk beristirahat di kursi melingkar yang terletak dibawah pohon-pohon permen. Pohon permen ini adalah salah satu spot foto yang unik dan menarik.

Setelah lelah sedikit berkurang kami melanjutkan lagi perjalanan ke bola dunia. Di sana kami mengambil banyak sekali foto sampai anak-anak melakukan protes kenapa sedari tadi kami terus berfoto. Mendapatkan protes tersebut akhirnya kami akhiri sesi foto sampai di situ.
Pohon permen
Bola dunia sejuta umat 😁

Udara yang panas membuat kami terus-terusan minum. Air di botol yang kami bawa dari rumah pun telah habis. Kami memutuskan untuk berbelanja minuman sambil beristirahat sejenak di swalayan yang ada di sana. Kakak membeli segelas besar lemontea, sedangkan saya cukup puas dengan air mineral 1,5 liter. Sambil duduk di kursi-kursi yang disediakan swalayan kami mengobrol sambil menikmati camilan. Saya membawa bekal dari rumah sehingga tidak membeli cemilan apapun, sedangkan kakak membeli sekantong keripik.

Yoshi pun tidak bisa menahan diri untuk meminta keripik yang dimakan oleh sepupunya. Saya hanya bisa menyuruh dia minum banyak setelah makan keripik dan berdoa dalam hati semoga dia tidak sakit. Liburan memang selalu rawan dengan makanan dan minuman yang menjadi pantangan kami di rumah.

Kami kembali membahas kemana tujuan selanjutnya. Namun ketika melihat jam yang sudah menunjuk lebih dari pukul 3 sore, saya ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan ke Merlion Park dan Garden by The Bay. Yoshi pun nampak mulai mengantuk, jadi saya memutuskan untuk membatalkan perjalanan saya ke sana sehingga kami pun berpisah dengan kakak di Sentosa.

Mereka melanjutkan perjalanan ke Merlion Park dan Garden by The Bay, sedangkan kami kembali menjelajah Pulau Sentosa. Walaupun pertemuan tersebut cukup singkat, namun cukup mengobati kerinduan kami pada mereka.
Lake of dreams
Foto situasi
Patung Merlion Pulau Sentosa
HARBOURFRONT CENTER

Puas berjalan-jalan, kami kembali ke Vivo City. Perut yang lapar dan Yoshi yang sudah tertidur di gendongan memaksa kami untuk mencari tempat untuk duduk. Kami terus berjalan sampai tidak sadar sudah masuk ke dalam Harbourfront Center, memang untuk lantai atas, Vivo City dan Harbourfront Center terhubung menjadi satu.

Akhirnya pilihan kami jatuh pada gerai KFC yang ada di sana. Kami pun memesan makanan dan makan di sana hingga Yoshi terbangun. Setelah Yoshi bangun dan makanan habis, kami memutuskan untuk langsung menuju counter Majestic Fast Ferry, naik Ferry dan kembali ke Batam. Perjalanan pulang berjalan lancar tanpa drama. Sekitar pukul 18.00 WIB kami sudah sampai kembali di rumah.
Kfc Harbourfront Center

You Might Also Like

29 komentar

  1. Singapur selalu seru ya Mba di Kunjungin.

    Wisata ramah anaknya banyak bgt.
    Hampir setiap mall ada playground gratis. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Dan gratis itu kata kunci buat emak-emak hehehehe. Soalnya akomodasi dan biaya hidup disana udh mahal kan 😁

      Delete
  2. Foto foto disana spot nya Instagram able ya...

    ReplyDelete
  3. Seru perjalanannya, kapan2 sharing dong tempat wisata yg wajib dikunjungi ketika ke singapura *yg low budget tapi ya mba, maklum keluarga besar 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku ke Singapura belum pernah masuk yang berbayar juga mbak 😅

      Kapan-kapan kutulis berdasarkan pengalamanku dan cerita teman2ku yak

      Delete
  4. Sentosa ni semacam tempat wajib dikunjungi yak. aku sejak tinggal di batam malah belum pernah lagi ke Singapur. Baca ini jadi pingin lagi. Nabung dulu deh biar bisa ke mana-mana. hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bola dunianya Universal Studio itu semacam spot foto wajib bagi yg berkunjung ke singapura selain patung merlion 😁

      Delete
  5. Seru bgt ya mbk asri jalan2 nya. Cerita yang panjang tapi ga bosenin

    ReplyDelete
  6. Salah satu wishlist perjalananku mbak, pengen nyobain naik kapal ferry, dan pengen ke singapur, hehehe. Foto-foto sama patung merlin dan logo universal studios itu emang salah satu kewajiban sih.
    Moga aja yaa tahun 2026 ini ada kesempatan. Sesekali bosen juga liburan di sekitar sini mulu, hehehe

    ReplyDelete
  7. Oh ini waktu imigrasi SG masih manual dan pasport msh di cap ya mba?

    Aku tuh pernah 1x ke SG pake ferry, tapiiiiii pas kelas 5 SD 🤣🤣🤣🤣. Ga ingett proses naik ferrynya hahahah. Yg aku msh inget cuma Batam masih gersaaaang 🤣. Blm kayak sekarang.

    Kalau ditanya, jujurnya aku LBH tertarik ke Batam, secara udh lamaaaa , dan pengen aja ngeliat Batam yg skr.

    Tapi SG sendiri ga bosenin sih, cuma currency nya aja yg bikin males, makin mahal hahahah

    ReplyDelete
  8. Inilah salah satu keuntungan tinggal di Batam ya Mbak. Bisa sering jalan-jalan ke Singapura. Soalnya Memang dekat. Perjalanan pun hanya 40 menit.Bahkan dari Batam juga terlihat. Saya fokus pada bagian di Singapura tempat sampahnya sedikit, karena sampahnya sedikit. Nah, Nah kalau di Indonesia kan sebagian besar tempat sampahnya banyak karena sampahnya juga banyak. Akibat masih banyak kesadaran warga yang membuang sampah sembarangan.

    ReplyDelete
  9. Seru bgt ya kak ke Singapura naik ferry. Aku pgn bgt tuh naik ferry hanya selemparan batu gt. Mayan ya ga usah repot2 naik pswt. Hanya 200rb udh PP loh ke Sin. Tp emg hny org Batam yg bisa haha.

    Ternyata urusan administrasi imigrasi jg hrs diurus ya. Aku kira hanya dr bandara doank. Dokumen pun hrs diisi lengkap kyk tujuan hingga tempat penginapan. Emg tertib sih Singapura. Kira2 biaya penyeberangan skrg naik ga ya?

    ReplyDelete
  10. Waktu ke Batam beberapa tahun lalu, iparku ngajakin naik Ferry ke Singapura. Katanya deket dan nggak lama. Sayangnya, karena dari Malang emang nggak ada rencana buat ke SGN dan nggak bawa passport juga jadinya batal. hiks.. Iparku, hampir tiap tiga bulan ke SGN mbak, jadi kayak udah biasa bawa Passport ke mana-mana di Batam.

    Sejak saat itu, kalau traveling, kemana-mana passport pasti kubawa. Barangkali aja bisa short escape ke negara tetangga pas lagi deket-deketnya. #ngarep_mode_on :D

    ReplyDelete
  11. mantap naik ferry , belum lama ini ttmn aku dri batam main dia psen sepatu dan aku harus kirim ke sepatu itu ke kepulauan sekupang, pas pengiriman ibu kepala sekolah bilang nnnti neng ibu tlpnn lagi ibu laggi di dalam kapal Ferry ( ini kebetulan apa engga ya )

    ReplyDelete
  12. suka iri deh sama warga pulau batam karena kalau mau ke singapura itu tinggal nyebrang sedikit. hihi. tapi pastinya senang banget ya, mbak bisa ketemuan sama kakak ipar dan jalan-jalan keliling singapura seharian

    ReplyDelete
  13. Lewat jalur laut ke Singapura ternyata sensasinya seru juga ya. Apalagi melihat pemandangan lautnya, dan nuansa di imigrasi yang berbeda dengan jalur udara. Daku pernah dikasih tahu tetangga, katanya asik lewat Batam kalo mau ke Singapura karena lebih dekat, hehe.

    ReplyDelete
  14. Singapur jalur kapal Fery ternyata menarik dan seru juga ya. Kasih pengalaman yang berbeda dari perjalanan mba sebelumnya jalur pesawat.

    Btw, Singapur banyak banget tempat yang bisa disambangi. meski negara ini kecil, tetapi kreatif dan cukup maju, bikin wisatawan betah liburan kesana ya. Bisa jalur laut dan udara, apalagi dari Batam.

    ReplyDelete
  15. Wah, keren banget! 😍 bisa naik ferry ke Singapura, apalagi pelabuhannya terlihat sangat bersih pasti kita jadi betah, dan tiketnya pun termasuk ramah di kantong. Semoga next time bisa liburan bersama keluarga ke Singapura juga, biar bisa merasakan suasana yang berbeda. Aamiin

    ReplyDelete
  16. Yaampun, baca ini aku jadi keinget. Waktu ke Singapura tahun lalu, aku juga ketemu sama 2 ibu dan 2 anaknya lagi jalan-jalan ke Singapura naik ferry gini juga. Kami ketemu di MRT dan mereka katanya mau ke Merlion Park.

    Kebetulan aku juga menuju Marina Bay kan ya, jadi kami jalan bareng. Terus denger mereka cerita, katanya mereka juga pulang pergi aja gitu ke sini dari Batam. Asik banget yaa bisa pergi pulang sehari ini aja, ahaha. Cuma ya gitu ya tantangannya naik ferry ini bisa pusing dan "mabuk laut?".

    Tapi seneng banget sih, seharian gini bisa ketemu dan jalan bareng kakak, plus belanja bareng juga. Jalan-jalannya dapet, temu kangennya dapet, haha. Tapi emang ya, mending ke Sentosa karena udah tinggal nyebrang kalau dari Harbourfront itu.

    ReplyDelete
  17. Kalau dari Batam, emang paling banyak orang ke Singapura naik ferry ya mbak
    Asik juga ya,
    Singapura banyak wisata ramah anak
    Ntar klo dari Bandung, naik pesawat ya
    Ajak yoshi dan Hideki pasti seru

    ReplyDelete
  18. Jadi keinget ngobrol sama mas2 bloger yang tinggal di Batam, dulu sebelum covid kapal ke Singapura masih miring, eh begitu Covid naik dan nggak turun2 lagi. Padahal tu katanya bagi orang Batam nyeberang ke Singapura buat sarapan doank udah biasa dulu, kalau sekarang mikir2 lagi hehe.
    Tapi asyik banget yaa bisa sedekat itu sama Singapura, kyk perbatasan aja tinggal nyeberang.
    Di Singapura minim sampah ya kek di jepang krn kesadaran manusianya buat ngantongin sampah sendiri lalu dibuang kalau dah nemu tong sampah. Termasuk juga pemberlakuan denda yang cukup gede.
    Tapi emang sekali lagi balik ke SDM-nya sih ya.
    Seneng yaaa anak2 persepupuan saling ketemu, ketemunya di negara bagus juga.
    Soal makanan di sana juga lebih concern soal makanan halal, jadi mudah menemukannya tanpa ragu bisa masuk ke resto yang tanda halalnya jelas.
    Btw kalau Cotton On ini di Indonesia nggak ada atau lebih mahal kah mbak harganya? Pada jastip gitu kah temen kantornya kakak ipar? hehe

    ReplyDelete
  19. Salah satu keuntungan tinggal di Batam itu yaa kalau mau main ke Singapura tinggal nyebrang yaa,,,,asyiik bangeet gak usah naik pesawat. Perjalanan menempuh perjalanan laut sambil memandang pemandangan laut lepas berpadu pemandangan kota di SIngapura. Asyiik yaa kak Asri....seru sekali perjalanan ke SIngapura nyaa.

    ReplyDelete
  20. Pasti cost-nya gak sebanyak naik pesawat ya Mbak
    Meski memang agak butuh waktu dan gak secepat pesawat
    Tetapi worth it lah kalau memang berangkat sekeluarga dan mau jalan jalan santai
    Hmm... semoga Singapura tetap berbenah seperti next ini bakalan ketat masuk sana

    ReplyDelete
  21. Wowow, asyiknya nih jalan-jalan di Singapura bareng keluarga ya. Dan pastinya, dengan naif Ferry sensasinya jadi lain. Jadi nambah pengalaman. Aku sendiri, aduh malu, jujur belom pernah naik ferry seumur hidup. Palingan ya perahu wisata aja di Ancol.

    Aamiin, 2026 bisa traveling sekeluarga ke Singapura. Dan pastinya, nanti kudu nyoba juga ya naik Ferry. :D

    ReplyDelete
  22. Seru banget ya Allah, Batam ke Singapur naik feri gini. Ini feri berkecepatan tinggi ya mbak, jarak tempuhnya jadi cepet juga. Ternyata makanan-makanan di sana juga ada sertifikasi halal MUI nya ya. Hmm, asik juga nih kulineran sekeluarga ke Singapura dengan feri. Trus ke Pulau Sentosa destinasi resor yang nggak boleh dilewatkan juga.

    ReplyDelete
  23. Senangnya jalan-jalan ke SIngapura itu banyak destinasi yang ramah anak dan gratis, ngerti banget deh kalau hal seperti ini disukai emak-emak. Secara biaya hidup di sana juga cukup tinggi sih, tapi setidaknya kalau ada yang gratis, ramah anak dan nyaman pula, cukup membantu lho.
    Semoga suatu hari bisa nih travelling ke Singapura. Kalau dari Batam enak ya, tinggal naik Ferry dah sampai deh

    ReplyDelete
  24. Setiap momen perjalanan tuh berharga banget ya Kak.. Berasa banget pas udah umur umur gini.. huhu.. Naik Ferry seperti Kak Achi juga banyak banget hal yang bisa dipelajari, kita jadi bisa ngehargain detail kecil kayak suara mesin kapal, pemandangan selat yang luas, atau obrolan ringan sama teman seperjalanan. Itu yang sering terlupakan kalau cuma buru-buru ke destinasi berikutnya

    ReplyDelete