Naik Kereta Bersama Balita




Kereta api adalah moda transportasi yang banyak ditemukan di berbagai negara. Di Indonesia sendiri, kereta api juga menjadi salah satu alternatif transportasi yang banyak digunakan masyarakat. Kereta api di Indonesia berada di bawah naungan PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Dulu kondisinya begitu memprihatinkan, namun saat ini sudah jauh lebih baik.


Saya ingat saat kereta api di Indonesia belum sebagus sekarang. Ketika masih banyak pedagang keluar masuk kereta dengan bebas. Ketika penumpang bisa masuk meskipun kursi sudah penuh, berdiri berdempetan di lorong sampai naik diatas kereta pun bisa. Waktu SD berapa kali saya menempuh perjalanan Malang-Surabaya menaiki gerbong ekonomi yang penuh sesak. Sampai kami membawa koran untuk duduk di lorong kereta bersama para sepupu dan teramat bahagia ketika kereta mulai sepi dan kami mendapat kursi kosong. Atau saat menjelang malam lampu di gerbong belum juga dinyalakan. Sehingga kami bergelap-gelap di dalam gerbong yang sesak. Memang pengalaman saya berkereta lebih banyak menaiki kelas ekonomi jarak dekat.

Pertama kalinya saya naik kereta kelas bisnis adalah tahun 2015 ketika saya mudik ke Malang dari Bandung. Saya yang saat itu hamil 4 bulan, lebih memilih naik kereta daripada pesawat terbang. Meskipun membutuhkan waktu lebih lama (15-16 jam), namun saya merasa lebih tenang menempuh perjalanan darat daripada udara. Kereta yang saya naiki adalah kereta Malabar yang berangkat dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Malang. Saat itu, kereta api sudah jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Pengalaman kedua saya berkereta Bandung-Malang adalah tahun 2018, ketika Yoshi sudah berusia 2 tahun. Perjalanan kami saat itu dalam rangka libur kemerdekaan dan Idul Adha. Berbeda dengan perjalanan pertama, di perjalanan kedua ini kami naik kereta Malabar dari stasiun Kiaracondong (Sebelumnya dari Stasiun Bandung), karena lokasinya lebih dekat dengan rumah. Naik kereta saat ini jauh lebih tertib jika dibandingkan dulu. Penumpang bisa mencetak sendiri boarding pass di mesin-mesin yang ada di dekat pintu masuk. Setelah itu tinggal menunggu di ruang tunggu luar hingga saatnya masuk ke ruang tunggu dalam, atau yang biasa di sebut peron (Sesungguhnya saya belum paham betul apa yang dimaksud peron). Pengantar hanya boleh sampai ruang tunggu luar, tidak bisa lagi mengantar hingga naik gerbong seperti dulu. Stasiun Kiaracondong cenderung sepi jika dibandingkan Stasiun Bandung karena memang bukan stasiun utama.


Stasiun Kiaracondong

Kami memutuskan naik kereta agar Yoshi yang saat itu menyukai kereta bisa merasakan seperti apa rasanya naik kereta sesungguhnya. Sambil menunggu kereta yang kami naiki datang, dia puas melihat-lihat kereta lain yang datang dan pergi. Tentu saja perlu pengawasan ekstra karena tidak ada pagar pembatas dari kursi tunggu ke jalur rel kereta.


Ruang tunggu dalam

Untuk perjalanan Bandung - Malang kami naik kelas bisnis. Kursi kelas bisnis sandarannya bisa digeser. Sehingga penumpang bisa memilih menghadap ke arah depan atau belakang kereta. Ini menguntungkan jika kalian pergi dengan 4 orang personil, sehingga kalian berempat bisa duduk berhadapan. Yoshi senang sekali begitu kami naik ke dalam karena itu adalah pengalaman pertamanya naik kereta. 5 jam pertama berjalan mulus. Dia terus mengoceh ini itu, naik-naik ke kursi dan makan kue yang kami bawa dari rumah. Ketika penjualan makanan datang, kami membeli 2 nasi goreng untuk saya dan suami serta 1 nasi ayam untuk Yoshi. Setelah makan malam, sekitar pukul 8 malam Yoshi pun tertidur.

Drama dimulai ketika kira-kira setelah 1 jam dia tidur, dia terbangun karena kaget mendengar pengumuman kereta. Memang pada usia itu tidurnya masih sering kaget, belum senyenyak sekarang. 2 jam setelahnya dia masih tenang. Makan cemilan dan minum susu, lalu berjalan-jalan di koridor. Menjelang tengah malam barulah dia mulai gelisah dan merengek-rengek minta turun (Alhamdulillah tidak sampai menangis). Akhirnya saya pijat-pijat dada dan punggungnya dengan minyak. Setelah dipijat dia mulai tenang. Lalu sekitar pukul 1 dini hari dia tertidur sampai jam 7 pagi, tanpa terbangun sekalipun. Sebuah rekor diusianya saat itu, yang seringkali terbangun hampir tiap jam.

Senang rasanya karena anak tertidur pulas, namun saya tidak kuat menahan kepala Yoshi di pangkuan saya. Akhirnya saya letakkan kepalanya di kursi dan saya pun duduk di lantai bawah kursi yang cukup lebar. Ternyata dingin sekali. Sandal yang saya jadikan alas duduk tidak membantu sama sekali. Saya menyesal tidak menyewa bantal. Itulah salah satu kelemahan gerbong kelas bisnis. AC centralnya sering kali terlalu dingin. Karena tidak bisa tidur, saya pun memilih untuk menonton drama korea di handphone (Kereta api Malabar dilengkapi stopkontak, sehingga memudahkan untuk mengisi ulang baterai). Jadi untuk kalian yang naik kelas bisnis bersama balita, sebaiknya membawa alas duduk. Siapa tau mengalami situasi seperti yang saya alami.

Belajar dari pengalaman saat berangkat, untuk perjalanan pulang saya memutuskan untuk naik kelas eksekutif. Benar saja kursi kelas eksekutif lebih lebar dan empuk jika dibandingkan dengan kursi kelas bisnis. Kursi kelas eksekutif pun bisa direbahkan seperti kursi bus malam atau kursi pesawat, serta terdapat sandaran kaki yang membuat perjalanan semakin nyaman. Jika membawa balita memang lebih baik naik kelas eksekutif. Terbukti ketika naik kelas eksekutif, saya kuat memangku kepala yoshi hingga pagi. Padahal saat naik kelas bisnis, saya sudah pegal hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Selain itu di kelas eksekutif penumpang tidak perlu menyewa bantal dan selimut, karena kedua sudah menjadi fasilitas yang kita dapatkan dengan cuma-cuma. Selain itu kami juga mendapat makan malam gratis. Namun sepertinya untuk makan malam gratis ini tidak selalu didapatkan pada kelas eksekutif.


Gerbong kelas Eksekutif. Disetiap kursi tersedia majalah dan kantong plastik hitam. Mungkin untuk sampah atau muntah

Perjalanan Malang-Bandung pun terlewati tanpa ada drama yang berarti. Saya memilih kursi berjajar dengan suami. Ternyata duduk berjajar lebih mudah daripada duduk depan belakang. Dari jam 8 malam sampai jam setengah 4 pagi Yoshi tertidur pulas. Lalu rebahan sampai sekitar pukul 5 pagi. Setelahnya dia sibuk bermain mobil, baca buku, menggoda papanya, makan kue dan lain-lain.


Yoshi dan papa

Begitulah pengalaman pertama saya membawa batita menempuh perjalanan jauh naik kereta api. Lelah tapi seru! Intinya agar anak tidak terlalu bosan ketika perjalanan jauh, jangan lupa membawa mainan, buku, makanan dan minuman kesukaan anak. Jangan lupa pula membawa obat-obatan yang biasa dipakai anak, sebagai pertolongan pertama jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan. Selamat berjalan-jalan.

*****
Tulisan ini sebagai lanjutan kolaborasi saya bersama sesama #emakpejalan yaitu Ainun Jafar. Pengalaman berjalan-jalannya yang sudah mendunia dan konsistensi menulisnya membuat saya kagum, karena itu saya terima dengan senang hati ajakan kolaborasinya. Tema yang kita angkat minggu ini adalah Kereta. Tema apa yang akan kami angkat berikutnya? Tunggu minggu depan ya!

Comments

  1. Dulu aku sering banget liat kereta di Indonesia yang tumpah ruah penumpamgnya di TV waktu kecil, ternyata beneran seperti itu ya.

    Alhamdulillah kalau skg perkerata-apian di negara kita udah makin bagus ya. Jadi pengen cobain juga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum pernahkah naik kereta di Indonesia?

      Iya dulu ngeri banget naik kereta itu

      Delete

Post a comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Menginap di Hotel Berbintang (Keraton Jimbaran Resort and Spa)

Berburu Seafood sampai ke Ujung Pulau

Naik Ferry ke Singapura Asik Juga...