Pesona Desa Punten Kota Wisata Batu



Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai taulanku

Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai

Mendengar lagu itu ingatan saya otomatis melayang pada sebuah desa penuh pesona yang telah menjadi tempat tinggal keluarga saya selama belasan tahun (2002-sekarang). Desa tersebut bernama Desa Punten. Kepindahan saya ke desa ini dikerenakan ibu saya yang di mutasi kerja ke Wilayah Kota Batu. Tepatnya Kecamatan Bumiaji dan kebetulan kantor pertamanya berlokasi di Desa Punten ini.


Desa Punten terletak di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur. Desa Punten adalah salah satu desa yang cukup maju di Kota Batu. Kehidupan di desa ini terbilang ramai jika dibandingkan desa sekitarnya. Mungkin karena terdapat hotel berbintang (Salah satu yang terbesar adalah Hotel Purnama) dan penginapan-penginapan lain yang menjadi akomodasi wisatawan saat liburan. Mencari tempat makan pun mudah disini, mulai dari restoran hingga warung tenda bisa ditemukan di sepanjang Jalan Raya Punten ini, salah satunya yang terkenal adalah Waroeng Bamboe Lesehan Sidomulyo. Walaupun tertulis Sidomulyo di namanya, yang merupakan desa tetangga dari Desa Punten, namun secara lokasi tempat makan ini masih berada di wilayah Desa Punten.

Lokasi Desa Punten ini berdekatan dengan Taman Rekreasi Selecta dan Coban Talun yang terletak di Desa Tulungrejo, salah satu desa yang juga berbatasan langsung dengan desa Punten. Alam yang subur serta dekat dengan lokasi wisata unggulan Kota Batu pada masanya (sebelum Jatim Park Group ada), sepertinya menjadi pendorong Desa Punten ini bisa lebih maju dibanding desa lainnya. Apalagi sejak beberapa tahun lalu Desa Punten juga mulai mengembangkan wisatanya sendiri, salah satunya adalah Kampung Wisata Kungkuk, dimana pengunjung bisa menikmati hutan pinus sambil melakukan  outbound, berkuda, memetik buah dan lain sebagainya.


Kampung Wisata Kungkuk
Sumber : Instagram @kampungkungkuk
Penduduk Desa Punten sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Adapun jenis tanaman yang paling banyak dibudidayakan di wilayah ini adalah apel, jeruk, bunga dan tanaman hias serta sayuran. Berjalan-jalan menikmati perkebunan adalah hal yang paling saya sukai. Berbincang dengan petani selalu terasa seru. Tak jarang saya pulang membawa buah tangan, mulai dari buah apel, jeruk, sayuran hingga bibit tanaman.


Bibit Jeruk dan Green House

Kebun bunga mawar
Kebun sayuran dan tanaman hias

Selain tanahnya yang subur, di desa ini juga banyak terdapat mata air yang dikelola masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian. Dulu ketika kami baru pindah, tarif air disana sama setiap bulannya. Bahkan tarifnya sangat murah jika dibandingkan ketika kami masih tinggal di Kota Malang. Sekitar tahun 2010 mulai dipasang meteran air di masing-masing rumah, namun tetap saja tarifnya masih sangat terjangkau jika dibandingkan dengan di Kota. Apalagi air disana langsung dari sumbernya, sehingga terasa begitu segar. Belum terkontaminasi kaporit dan lain sebagainya.



Sungai dekat rumah. Air sungainya jernih dan dingin

Hawa dingin, udara yang masih minim polusi, lingkungan yang tenang serta pemandangan alam yang indah adalah hal yang selalu saya rindukan dari tempat ini. Apalagi dulu di rumah kontrakan kami yang pertama, dari teras luar terpampang pemandangan Gunung Panderman dan Kota Batu di kejauhan. Jika malam tiba, pemandangan tersebut berubah menjadi lautan lampu yang berkelap-kelip indah. Seperti kelip bintang di langit malam yang dihamparkan di bumi. Sungguh indah.


Pemandangan Gunung Panderman dan Kota Batu dari ketinggian
Jalan-jalan pagi

Tempat yang paling saya rindukan dari desa ini adalah lapangan bola yang terletak di belakang Balai Desa. Lapangan bola ini biasa digunakan untuk sholat id. Ratusan warga akan datang kesana untuk melakukan sholat berjamaah di pagi hari saat lebaran tiba. Pemandangan pegunungan yang terlihat jelas dari lapangan bola ini menambah rasa syukur setiap kali kami sholat disana. Rindu sekali. Berkumpul bersama keluarga dalam damainya suasana desa. Semoga setelah pandemi Covid-19 ini berlalu saya, suami dan anak bisa mudik kembali ke Desa Punten. Desa dengan pesona alam yang menyejukkan hati dan pikiran.


Balai Desa Punten

Lapangan sepak bola di belakang Balai Desa
(sumber : instagram @arykusumaeka)

*****

Tulisan ini sebagai lanjutan kolaborasi saya bersama sesama #emakpejalan yaitu Ainun Jafar. Pengalaman berjalan-jalannya yang sudah mendunia dan konsistensi menulisnya membuat saya kagum, karena itu saya terima dengan senang hati ajakan kolaborasinya. Tema yang kita angkat minggu ini adalah Desa. Tema apa yang akan kami angkat berikutnya? Tunggu minggu depan ya!

Comments

  1. Aku ngebayangin tinggal di tempat seperti ini pasti menenangkan banget yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya tenang banget. Makanya dl kalo liburan aku males kmn2. Udh berasa nginap di vila aja. Hehehe

      Delete
  2. Ya ampon :' ijo royo-royonya bikin fresh mata :')

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Menginap di Hotel Berbintang (Keraton Jimbaran Resort and Spa)

Berburu Seafood sampai ke Ujung Pulau