Lifestyle Ibu di Tengah Ekonomi yang Serba Mahal
Monday, September 07, 2026Kondisi ekonomi sekarang ini membuat sebagian besar lifestyle ibu harus berubah. Banyak ibu yang bingung memikirkan pos pengeluaran keluarga karena pendapatan tetap, sementara harga barang-barang semakin mahal. Jangankan memikirkan skincare, apalagi perawatan ke klinik, untuk makan sehari-hari saja rasanya sudah boros sekali.
Jujur saja, perasaan seperti itu valid dan dialami banyak ibu saat ini. Rasa nyesek setiap kali melihat totalan belanjaan, padahal barang di keranjang cuma sedikit, itu bukan cuma kita yang merasakan. Kita semua sedang berada di perahu yang sama!
Saat dompet rasanya pas-pasan, sementara harga beras sampai minyak goreng malah semakin “meroket”, refleks pertama kita pasti langsung berusaha berhemat. Dan tebak siapa yang biasanya paling pertama mengalah? Yup, kebanyakan adalah para ibu.
“Ya sudahlah, yang penting anak-anak bisa makan bergizi.”
Secara insting sebagai ibu, pemikiran seperti itu memang sangat wajar. Tapi kalau gaya hidup hemat membuat kita stres setiap hari dan merasa “kurang” terus, lama-lama lelah juga, kan?
Nah, biar kita nggak burnout dan tetap bisa bernapas sedikit lega di tengah gempuran harga-harga mahal ini, mari coba atur ulang strateginya pelan-pelan.
Bedakan Needs, Wants, dan Triggers
Sebelum semakin pusing, coba audit ulang pengeluaran selama satu sampai dua bulan terakhir. Bedakan menjadi tiga kategori berikut.
Kebutuhan Dasar (Needs)
Beras, lauk-pauk, tagihan listrik, air, biaya sekolah anak, dan cicilan tetap termasuk dalam kebutuhan dasar. Pos ini memang tidak bisa begitu saja dihilangkan, tetapi masih bisa diefisienkan dengan mencari alternatif yang lebih hemat.
Keinginan (Wants)
Jajan online, langganan streaming yang jarang ditonton, atau membeli barang hanya karena sedang diskon bisa masuk ke kategori ini.
Bukan berarti semua keinginan harus dihapus. Kita tetap boleh membeli sesuatu yang kita sukai, tetapi mungkin perlu lebih selektif dan mempertimbangkan apakah pengeluaran tersebut memang sesuai dengan kondisi keuangan saat ini.
Pengeluaran karena Emosi (Triggers)
Nah, yang satu ini sering kali tidak terasa. Misalnya, scrolling e-commerce saat sedang lelah atau stres karena anak rewel, kemudian tiba-tiba checkout barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Dengan mengenali pemicu pengeluaran seperti ini, kita bisa menutup “kebocoran halus” yang sering kali membuat uang belanja habis sebelum waktunya.
Dapur Hemat tapi Tetap Enak dan Bergizi
Pos dapur memang biasanya cukup banyak menyedot anggaran. Supaya pengeluaran lebih terkontrol, ada beberapa cara yang bisa kita coba.
Terapkan food prep dan meal plan mingguan
Selain menghemat waktu, membuat rencana menu juga bisa membantu mengurangi makanan yang terbuang (food waste) dan mencegah kita terlalu sering membeli bahan makanan secara impulsif.
Tidak harus membuat menu yang rumit. Cukup tentukan beberapa menu untuk satu minggu, lalu buat daftar belanja berdasarkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Setelah itu, belanjalah sesuai daftar dan jumlah yang sudah direncanakan agar menu tetap bisa dibuat tanpa membeli bahan secara berlebihan.
Tidak harus selalu makan daging
Kalau harga daging sapi atau ayam sedang tinggi, kita bisa mengoptimalkan sumber protein lain yang harganya relatif lebih terjangkau, seperti telur, tahu, tempe, dan ikan lokal.
Gizi keluarga tetap bisa terpenuhi tanpa harus selalu mengandalkan bahan makanan yang mahal.
Belanja dengan lebih terencana
Setelah menentukan meal plan dan membuat daftar kebutuhan, kita bisa menyesuaikan waktu serta tempat belanja agar lebih hemat. Untuk bahan makanan yang sering digunakan dan cukup tahan lama, seperti beras, minyak, atau beberapa bumbu dapur, membeli dalam jumlah lebih besar bisa menjadi pilihan jika memang lebih hemat dan sesuai dengan kemampuan penyimpanan di rumah.
Namun, jangan sampai tergoda membeli banyak hanya karena harganya lebih murah. Kalau akhirnya tidak terpakai dan terbuang, penghematannya justru berubah menjadi pemborosan.
Hemat Bukan Berarti Harus Kehilangan Kesenangan
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita sedang berusaha menghemat: hidup tetap perlu dinikmati.
Ketika kondisi keuangan sedang ketat, rasanya semua pengeluaran untuk bersenang-senang harus dihentikan. Tidak boleh jajan, tidak boleh jalan-jalan, tidak boleh membeli sesuatu untuk diri sendiri. Semuanya harus masuk kategori “nanti saja”.
Padahal, kalau terus seperti itu, kita juga bisa merasa lelah. Hemat bukan berarti kita harus menghilangkan semua hal yang membuat hidup terasa menyenangkan.
Yang perlu diubah mungkin bukan kesenangannya, tetapi caranya.
Kalau biasanya ngopi di kafe, sesekali kita bisa membuat kopi sendiri di rumah. Kalau biasanya mengajak keluarga makan di restoran, coba buat acara makan bersama di rumah dengan menu sederhana.
Ingin jalan-jalan? Tidak selalu harus pergi jauh. Taman kota, alun-alun, atau sekadar jalan sore bersama keluarga juga bisa menjadi hiburan.
Begitu juga dengan waktu untuk diri sendiri. Tidak harus selalu berakhir dengan checkout barang atau pergi ke tempat mahal. Membaca buku yang sudah lama tersimpan, menonton film sambil ngemil buatan sendiri, atau menikmati secangkir teh ketika rumah sedang tenang pun sebenarnya sudah cukup.
Yang penting, jangan sampai konsep hidup hemat membuat kita merasa bahwa menikmati hidup adalah sesuatu yang salah.
Kita tetap boleh punya keinginan. Kita tetap boleh membeli sesuatu yang kita sukai. Hanya saja, mungkin sekarang kita perlu lebih selektif dan belajar membedakan antara “aku benar-benar membutuhkannya” dengan “aku sedang ingin merasa lebih baik”.
Sebab, mengatur keuangan bukan tentang membuat hidup menjadi serba tidak boleh. Justru kita sedang belajar mencari cara agar dengan uang yang terbatas, hidup tetap bisa terasa cukup.
Merawat Diri Tetap Penting: Self-Care Versi Hemat
Mendahulukan keluarga bukan berarti kita harus melupakan diri sendiri. Self-care tidak harus berupa perawatan di klinik mahal atau produk skincare yang berlapis-lapis.
Back to basic skincare
Kalau memang ingin menghemat, fokus saja pada kebutuhan dasar perawatan kulit seperti pembersih wajah, pelembap, dan sunscreen. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti semua tren skincare jika kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan.
Rawat diri dengan hal-hal sederhana
Selain skincare dasar, kita juga bisa merawat diri melalui kebiasaan kecil yang tidak membutuhkan banyak biaya. Misalnya, tidur yang cukup, minum air putih, melakukan peregangan ringan, atau menikmati waktu tenang tanpa merasa bersalah.
Merawat diri tidak harus selalu terlihat mewah. Yang penting, kita memberi ruang untuk menjaga tubuh dan pikiran agar tetap punya energi menjalani rutinitas sehari-hari.
Transparansi dan Kolaborasi dengan Pasangan
Masalah keuangan rumah tangga itu tugas tim, bukan beban tunggal ibu.
Di kondisi seperti ini, komunikasi terbuka dengan pasangan menjadi semakin penting. Duduk bersama sambil ngeteh, lihat hitung-hitungan riilnya, lalu sepakati pengeluaran mana yang bisa dihemat bersama-sama.
Jangan sampai ibu merasa harus memikirkan semuanya sendirian.
Ketika kedua pihak memahami kondisi keuangan keluarga, berhemat juga terasa seperti usaha bersama, bukan pengorbanan salah satu pihak saja.
Tetap Semangat, Kamu Sudah Hebat Banget!
Mengarungi kondisi ekonomi yang sedang serba mahal memang membutuhkan ketahanan ekstra. Tapi ingat, mengubah gaya hidup menjadi lebih hemat bukan tanda kita gagal. Justru, itu menunjukkan bahwa kita mampu beradaptasi dengan keadaan.
Kita mungkin tidak bisa mengendalikan harga barang yang terus berubah. Kita juga tidak selalu bisa menambah pemasukan dalam waktu singkat. Tapi kita masih bisa mengatur bagaimana uang yang ada digunakan sebaik mungkin.
Langkah-langkah kecil yang kita lakukan hari ini adalah salah satu bentuk cinta nyata untuk keluarga.
So, give yourself a big hug! Kamu sudah berjuang dengan sangat baik selama ini!
Oh, ya. Kalau kalian ingin membaca tulisan lain terkait lifestyle, terutama lifestyle ibu, kalian bisa mampir ke blog Alienda Sophia. Ada banyak artikel lain yang nggak kalah menarik dan bermanfaat untuk dibaca.


19 komentar
Belanja lebih terencana jadi jalan ninja saga juga untuk bisa bertahan dalam mengatur keuangan post belanja rumah tangga in this economy
ReplyDeleteKalau gak begitu, mana bisa tahan...
Penghasilan suami tetap sementara harga pada naik, kita bisa nombok darimana?
Tapi Alhamdulillah, dengan berbagai tips dari artikel yang dibaca, seperti di artikel ini, banyak membantu untuk saling menguatkan
Khususnya ekonomi pas-pasan seperti saya. Kalau manteman yang keturunan sultan, gak masalah sih ya...
Kerasa banget yang kegencet kaum menengah, kena efek inflasi. Saya masih belanja harian sih Mbak, karena rumah dekat pasar. Alhamdulilah di Malang harga bahan pokok tergolong murah, cuma kalau ayam/telur yang fluktuatif.
ReplyDeleteUntuk perawatan wajah bisa juga dengan memanfaatkan bahan dapur, misalnya maskeran berbahan tomat.
Memang in this ekonomi kita harus pintar - pintar mengatur keuangan nih, tapi semakin kita niat berhemat, semakin besar juga godaan yang datang, dan anehnya tiap kita udah batasi kebetuhan bulan ini tau tau ada aja muncul iklan barang yang menarik, atau yang slama ini kita butuhkan, memang semesta ini ngga mendukung buta kita berhemat, hahaha
ReplyDeletetapi kadang e Commerce juga jadi penyelamat, suatu hari kacamta patah, setelah konsul sama optik ternyata kalo beli bisa ke harga 1 jutaan, eeehhh gataunya di sofi ada kacamata yang 30rb an, jadi ya udah gass aja beli di sofi, toh cuma kacamata baca doang, hahah
Nah bener ini mba klo sedang jenuh dan membutuhkan metime rasanya membaca kembali koleksi buku yang kita punya bisa jadi salah satu solusinya karena kadang kita juga lupa alur ceritanya saking banyaknya buku yang kita baca,,,
ReplyDeleteLiat2 barang di ecommerce memang cukup menggoda dan rasanya memasukkan barang yang kita ingin ke keranjang aja itu sudah salah satu self healing buatku mba meskipun gak tau juga kapan bakal di co karena setelahnya aku bakal cek lagi kira2 ini barang beneran aku butuhkan atau tidak hehe,,,hal2 receh kayak gini kadang memang bisa jadi pengibur di tengah kesumpekan hahaha
Ah aku suka banget nih postingannya meski gak terlalu panjang tapi isinya to the point semua. Selama ini kaya byk post yang rasanya cuma trigger di aku.
ReplyDeleteTapi aku sekarang malah males food prep mba, aku benar2 belanja secukupnya. Dulu suka nyetok makanan di kulkas sampe beli kulkas gede. Skrg malah belanja per 2 hari tp pesen sayurannya pake free delivery jd gak perlu kemana2. Kalo bener2 hbs baru aku belanja lagi. Pengalaman pake food prep malah gak kemasak sampe pd layu. Khilaf doank sih.
Trs utk skincare aku sepakat skrg cm pake basic aja sesuai kebutuhan dan bener2 nunggu habis baru beli lagi. Secukupnya aja
Pembagian needs, wants, dan triggers itu gampang banget dipraktikkan, terutama bagian scrolling e-commerce pas lagi capek, itu "kebocoran halus" yang sering nggak sadar. Poin soal keuangan itu tugas tim bareng pasangan juga penting banget. Tulisannya hangat dan membumi!
ReplyDeleteNah, ini memang penting dilakukan, berhemat bukan berarti pelit kan? Apalagi untuk kebutuhan dasar dan rumah tangga yang memang harus ada. Jangan sampai kita terlalu berhemat malah hidup jadi kayak menderita sekali, padahal kita punya kemampuan keuangan yang lebih untuk itu.
ReplyDeleteNah ini beda antara kebutuhan dan keinginan beda-beda tipis tapi dampaknya lumayan. Sebagai perempuan yang umumnya menjadi menteri keuangan memang harus putar otak dan memperhitungkan banyak hal.
ReplyDeleteSelalu ada aja caranya yang penting sudah berusaha mengelola keuangan dengan bijak
Yang perlu diwaspadai adanya 'bocor halus' nah kalau diskusi pengelolaan keuangan in biasanya aku diskusi juga dengan pak suami jadi pusingnya dibagi bareng wkwkwk
Gaya hidup ga harus ekstrem berubah yang penting bisa disiasati tanpa mengorbankan kesenangan lainnya
Ternyata perlu diwaspadai juga ya ketika emosi lagi memuncak, biar sabar-sabar gitu jangan sampai main klak-klik eh checkout terus bayar, nah dah, berabe urusannya membeli barang bukan yang benar-benar lagi urgent banget. Jadinya perlu kewarasan dan kesadaran diri juga ya Kak, dengan cerdas mengatur emosi
ReplyDeleteYa ampun Makk... i feel you. Pas baca bagian "siapa yang paling pertama mengalah", rasanya kayak tertampar sendiri. Bener banget kalau ibu-ibu tuh sering banget mikirin anak dulu, sampai kadang lupa kalau diri sendiri juga butuh waras di tengah harga-harga yang makin gila ini.
ReplyDeleteMemang food prep sama milah-milah pos pengeluaran tadi relatable parah sih. Ternyata hemat itu nggak harus bikin sengsara ya, asal kuncinya bisa pinter nyari celah dan komunikasi sama pasangan biar nggak stres sendirian.
Ngerasain juga kok harga barang2 yang semakin naik saat ini.. sedihnya, karena ini sangat berefek ke orang2 menengah ke bawah. Mereka yang paling merasakan saat 100k tidak lagi sama nilainya 😢.
ReplyDeleteIkut campur di kebijakan pemerintah ga mungkin, jadi yang bisa aku lakuin cuma memilah membuat budget pengeluaran dan pemasukan baru supaya semua pos tetap bisa berjalan. Mungkin ada barang2 yang harus diturunkan budgetnya , tapi setidaknya aku ga bakal ngorbanin kebutuhan basic.
Meal prep dan menu mingguan tetep dibuat. Karena ini membantu banget untuk track budget makan. Jadi ketauan habis berapa, bahan makanan ini bisa tahan sampai kapan dll.
Dan untungnya suamiku tipe yang kalau makan ga rewel. Aku masak 1 menu pun dia oke aja. Krn biasanya aku lebih suka mencampur sayur dan protein dalam 1 menu mba. Supaya cepet dan hemat.
Ada kaaaan suami yang ga terima menu cuma 1 macam. Harus komplit. Iya Kalau dia mau nambahin budget makan. Kalau ga, mending diem deh .
Akupun ga selalu makan daging. Malah sebenarnya kami lebih suka telur. Kalau telur memang ga bisa sedikit beli. Pasti selalu banyak. Jadi budget telur itu selalu paling tinggi di rumahku. Aku fokus memenuhi kebutuhan protein dari telur soalnya
Semoga ya mba, kondisi bisa makin membaik. Pemerintah bisa sadar akhirnya untuk fokus ke rakyat. Bukan ke kantong pribadi doang.
Sesekali akupun lebih memilih untuk beli gofood, karena kadang juga mikirin kasian driver2 di luar yang mungkin menunggu pelanggan.
Personal shopper untuk belanja pasar dan kebutuhan bulanan aku masih pakai . Walau sebenarnya bisa belanja sendiri, tapi setidaknya ini cara yg bisa aku pakai utk membantu orang2 di sekitarku tetap ada pemasukan.
Walau cuma kecil, tapi setidaknya kita bisa membantu sedikit ke orang2 sekitar ,ditengah ekonomi yang ga mudah
Menjadi ibu di tengah kondisi ekonomi yang serba mahal gini emang bukan sekadar soal mengatur pengeluaran ya mbak Asri, tapi juga bagaimana menentukan mana yang benar-benar penting dan mana yang sebenarnya cuma “keinginan yang sedang menyamar jadi kebutuhan”.
ReplyDeleteMenariknya, sering kali ibu justru menjadi orang yang paling jago mencari jalan tengah: kebutuhan keluarga tetap terpenuhi, tapi pengeluaran tetap dijaga.
Dari sini aku jadi ingat, mengatur rumah tangga itu sebenarnya mirip mengelola negara. Bedanya, kalau defisit rumah tangga ya tinggal pusing sendiri, nggak bisa cetak uang. Alias ngutang kanan kiri. Itu pun kalo dikasih haha.
In this economy tugas ibu memang semakin bertambah. Menghadapai kenaikan harga yang ugal-ugalan memang diperlukan trik agar anggaran cukup, gizi keluarga terpenuhi tapi keebutuhan ibu tidak selalu jadi nomor sekian. Kalau saya menyiasati dengan menanam sayur sendiri mba, kebetulan memang sambil berkebun, sekalian menghijaukan pekarangan rumah, jadi nyang beli hanya ikan dan sebangsanya. Karena untuk menekan pengeluaran memang tidak mudah apalagi harga BBM dan gas benar-benar di luar nurul. untuk ngopi juga sering di rumah, belajar meracik kopi ala-ala bareng ibu-ibu lain, jadi we time sekalian bertukar cerita. Ikhtiarmengurangi tingkat stres berjamaah he...he...
ReplyDeleteAkh iya bener mbak. Teman-teman ku yang sudah menikah dan punya anak, banyak bercerita bahwa pengeluaran sekarang itu membengkak bahkan sekelas untuk beli kebutuhan dasar dan pokok. Ada beberapa nyebut "udah down grade, tapi tetap nyesek. Tabungan makin tiris." Ya mau gimana minyak goreng dan beras aja udah meroket.
ReplyDeleteTapi di sisi lain, banyak yang mulai ngulik pangan lokal, nanam tanaman di halaman, sebenernya nggak harus nasi terus sih. Kita bisa ganti karbohidrat. Minyak goreng pun bisa di minimalisir penggunaannya. Dan food preparation juga bantu nih bikin semua bahan jadi lebih optimal kemasak semua nggak ada yang kebuang. Kudu ekstra smart emang ya. Terpenting harus bisa bedain antara kebutuhan sama kei gimana sih. Ini basic yang nggak bisa di skip.
Kalau saya lebih ke well prepared mbak. Karena suka OVT kalau tau² ada aja yang kurenggg. Makanya siasatnya bikin weekly menu. Jadi kalau ke pasar pun belanja nggak tiap hari, apalagi untuk lauk aku biasanya pakai food prep untuk 6 menu lauk terus masukin ke freezer.
ReplyDeleteDi tengah ekonomi yg gujang ganjing. Sebisa mungkin nggak buang² makanan dan tenaga. Jadi tenaga sama waktu bisa dialokasikan untuk self care juga..🥲🥹
Tosss! Sama sama mumet ahhaaha
ReplyDeleteYa gpp, klo bisa cari yg lebih hemat, cari ya mbak. Apalagi soal lifestyle. Yang penting fokus bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Fokus ke kebutuhan primer. Bismillah, semoga semuanya lekas membaik
Mumet ya mbaaakk. Kerasa deh, in this corrupt government era, uang 100 ribu bahkan nggak ada harga dirinya.
ReplyDeleteAku sih sama ya, yang penting anak2 no 1, sekolah no 1, gizi mereka no 1. Kalau ortunya banyak2in aja dah puasa wkwk. Aku dan suami malah cuma makan 2x aja kalau pas nggak puasa, soalnya emang lagi diet =)) Mayan lha hemat beras =)) Tapi kalau buat anak2 kudu makan banyak :D
Selain itu, paling strateginya memang memangkas apa yang perlu dipangkas. Misal dulu seminggu sekali ngemall, sekarang paling dua mingguan atau tiga mingguan. Dulu sering ngopi, sekarang yaa pas bisa aja, untung juga karena udah U mulai kurang2in kopi dan biasanyak minum air putih aja :D
Meski begitu tetep jangan sampai stress. Intinya berhemat tapi tetep mencari hiburan. Kalau aku sih mencoba jalani hobi biar hepi :D
Semoga ekonomi kita semua menguat terus ya Kak Achi. supaya kita bisa semakin banyak sedekah tanpa perlu takut apa apa.. bisa nyukupin semua kebutuhan keluarga juga
ReplyDeleteTidak semua keinginan harus dihilangkan saat berhemat. Iya sih benar. Kadang karena terlalu berhemat kita jadi lupa untuk mengisi tangki kebahagiaan dari beli yang diinginkan. Beli sekali dengan kondisi keuangan sudah aman, gak masalah seharusnya.
ReplyDeleteUntuk protein, benar banget, kalau saya lebih suka milih ikan dan tempe sebagai alternatif.