Kenangan Masa Kecil di Jalan Muharto, Malang

Thursday, September 03, 2026


Setelah membaca tulisan salah satu blogger Cianjur yang juga seorang kreator digital Cianjur tentang rumah masa kecil, saya jadi teringat pada rumah masa kecil saya di Malang, tepatnya di Jalan Muharto Gang Permadi.

Ada sesuatu yang menarik dari kenangan tentang rumah masa kecil. Kadang-kadang, kita tidak benar-benar merindukan bangunannya, melainkan kehidupan yang pernah berlangsung di dalamnya. Orang-orang yang tinggal di sekitar rumah, teman-teman sepermainan, tetangga yang kita temui setiap hari, hingga hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa saja. Semuanya menjadi bagian dari kenangan yang baru terasa berharga setelah kita dewasa.

Begitu pula dengan rumah masa kecil saya di Jalan Muharto. Rumah itu sekarang sudah bukan milik keluarga kami. Keluarga kami sudah pindah dari sana sekitar tahun 2001 atau 2002. Setelah itu, rumah tersebut sempat disewakan sebelum akhirnya dijual.

Bangunannya pun telah berubah dibandingkan dengan yang saya ingat. Namun, setiap kali berkunjung ke sana, selalu ada sedikit rasa rindu yang muncul. Bukan rasa kehilangan yang berlebihan, melainkan perasaan senang karena masih bisa melihat tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan saya.

Saat melewati rumah itu, saya biasanya juga bercerita kepada si sulung, “Ini dulu rumah Mama.”

Saya senang bisa bercerita tentang tempat saya tumbuh, menunjukkan lokasinya secara langsung, dan berbagi sedikit kenangan masa kecil dengannya. Mungkin bagi anak saya, rumah itu hanyalah bangunan biasa. Namun, bagi saya, tempat tersebut menyimpan cerita tentang masa kecil yang tidak bisa diulang.


Rumah di Gang Permadi, Dekat dengan Pemakaman

Rumah yang dahulu kami tempati berada di Gang Permadi, Jalan Muharto, Malang. Letaknya cukup dekat dengan jalan raya utama. Jika dihitung dari jalan raya, rumah kami merupakan rumah kedua, tepat di belakang rumah canggah (buyutnya ibu saya) yang berdiri di pinggir jalan.

Gang Permadi sendiri tidak terlalu sempit. Jalan masuknya masih bisa dilewati satu mobil sehingga akses menuju rumah-rumah warga cukup leluasa. Tantangannya hanya jalan yang menurun setelah gerbang. Jadi, kami harus berhati-hati saat melewatinya.

Satu hal yang cukup khas dari lokasi rumah masa kecil saya adalah letaknya yang dekat dengan pemakaman. Pintu masuk Gang Permadi persis bersebelahan dengan salah satu pintu masuk TPU Kutobedah. Keberadaan pemakaman tersebut pun menjadi salah satu penanda lokasi yang mudah diingat.

Meski begitu, rumah saya tidak berhadapan langsung dengan area pemakaman. Letak rumah kami lebih rendah, sedangkan pemakaman berada di atas. Tepat di depan rumah, ada perengan yang ditanami berbagai tanaman. Ada pohon pisang, pepaya, talas dan lain sebagainya.

Kalian tahu perengan? Istilah ini biasa saya gunakan untuk menyebut tanah miring di antara dua area yang berbeda ketinggian, semacam lereng kecil. Perbedaan ketinggian antara rumah saya dan area pemakaman di atasnya mungkin sekitar 10 meter.

Jadi, saat saya keluar rumah, yang tampak bukanlah area pemakaman, melainkan perengan yang tampak rimbun. Itulah yang membuat saya tidak merasa takut meskipun tinggal di dekat pemakaman. Makamnya tidak terlihat secara langsung dari rumah. Hehehe…

Lucunya, saat masih duduk di bangku sekolah dasar, saya dan teman-teman terkadang melewati pinggiran pemakaman ketika pulang sekolah. Entah kenapa kami memilih jalan itu. Kalau diingat sekarang, saya sendiri tidak tahu apa alasannya.

Namanya juga anak-anak. Kadang-kadang, kita melakukan sesuatu begitu saja tanpa memikirkan alasannya. Baru setelah dewasa, hal-hal seperti itu terasa lucu ketika diingat kembali.

Di samping perengan, ada lahan kosong yang kami gunakan sebagai lapangan. Tempat itu menjadi lokasi bermain sekaligus tempat menyelenggarakan berbagai kegiatan, seperti lomba peringatan kemerdekaan, pengajian, dan acara lainnya.

Nah, lapangan inilah yang berbatasan langsung dengan area pemakaman di bagian bawah, yang posisinya sejajar dengan rumah saya. Di depan makam tersebut tidak ada rumah warga. Hanya ada beberapa rumah yang berdiri di pinggir sungai, tepat di bantaran sungai yang posisinya lebih rendah dari jalan dan makam. Saya tidak tahu pasti status rumah-rumah itu, tetapi sampai sekarang masih berdiri di sana.

Sementara itu, rumah saya tidak berbatasan langsung dengan sungai. Jaraknya masih cukup jauh karena letaknya lebih dekat dengan jalan raya utama.

Ketika saya masih SD, sebagian lapangan tersebut dibangun menjadi musala. Saat itu, bapak saya menjabat sebagai ketua RT sehingga orang tua saya ikut sibuk mengurus perizinan dan pembangunan musala dari awal hingga selesai.

Ada cerita unik lain yang saya ingat dari pembangunan musala tersebut. Rumah tetangga yang paling dekat dengan musala, tepat di depannya, merupakan satu-satunya rumah warga non-Muslim di kampung kami.

Meski berbeda agama, kami hidup rukun tanpa mempermasalahkan perbedaan tersebut. Warga kampung kami juga berasal dari suku yang beragam. Seingat saya, ada yang bersuku Jawa, Madura, dan Sunda.

Latar belakang pekerjaan warga pun bermacam-macam, mulai dari pegawai kantoran, PNS, pedagang pasar, hingga sopir angkot. Namun, perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi saya dan teman-teman untuk bermain bersama. Saat itu, kami tidak pernah memedulikan status sosial satu sama lain.

Bagi kami yang masih anak-anak, teman bermain ya teman bermain saja. Tidak terpikir untuk membedakan seseorang berdasarkan pekerjaan orang tuanya, suku, ataupun agama.


Tinggal di Tengah-Tengah Keluarga Besar

Rumah masa kecil saya merupakan rumah nenek yang diberikan kepada ibu saya. Seingat saya, nenek juga mendapatkan rumah itu dari buyut. Sementara itu, rumah buyut berada di seberang, tepatnya di Gang 5B.

Oh, ya. Saya tidak pernah bertemu dengan nenek dari ibu karena beliau sudah meninggal sejak ibu saya masih remaja.

Kalau diingat-ingat, keluarga besar saya memang banyak yang tinggal di sepanjang Jalan Muharto. Ada rumah nenek, rumah buyut, rumah canggah, rumah adik-adik buyut beserta anak cucunya, dan masih banyak lagi.

Rumah-rumah itu memang tidak berada di satu kawasan yang persis sama, tetapi sebagian besar masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Ada yang tinggal di Gang Permadi, Gang 5, Gang 7, dan beberapa tempat lain di sekitarnya.

Karena adik buyut saya ada belasan, keluarga besar saya benar-benar besar. Hehehe…

Salah satu hal menyenangkan dari tinggal dikelilingi keluarga besar adalah saya tidak pernah merasa kesepian. Hubungan saya dengan mereka juga baik. Kalau sedang ingin bermain, selain dengan tetangga, saya juga biasa mendatangi rumah saudara yang seumuran, lalu kami bisa bermain bersama.

Mungkin bagi sebagian orang, tinggal berdekatan dengan keluarga besar bisa terasa merepotkan. Namun, bagi saya yang tumbuh dalam lingkungan seperti itu, keberadaan mereka justru menjadi bagian menyenangkan dari masa kecil.


Tinggal di Jalan Muharto hingga Kelas Dua SMP

Saya tinggal di rumah tersebut sampai kelas dua SMP. Setelah itu, orang tua saya pindah ke Batu. Namun, saya tidak langsung ikut tinggal bersama mereka.

Selama kelas tiga SMP, saya tinggal di rumah buyut. Baru setelah masuk SMA, saya ikut tinggal bersama orang tua di Batu, meskipun sekolah saya masih berada di Malang.

Dengan begitu, masa kecil hingga awal remaja saya banyak dihabiskan di kawasan Jalan Muharto. Bahkan setelah keluarga kami pindah, hubungan saya dengan lingkungan tersebut tidak langsung terputus karena masih ada rumah buyut dan banyak saudara yang tinggal di sekitarnya.

Perpindahan tempat tinggal tentu membuat keseharian saya berubah. Namun, Jalan Muharto tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak bisa begitu saja saya lupakan.

Ada banyak kenangan yang mungkin tidak lagi saya ingat secara terperinci. Maklum, sudah cukup lama berlalu. Akan tetapi, saya masih mengingat lingkungan tempat saya tumbuh, rumah-rumah keluarga yang berdekatan, serta orang-orang yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ketika masih tinggal di sana, mungkin saya tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti tempat itu akan menjadi sesuatu yang saya kenang. Saat itu, semuanya terasa biasa saja. Rumah, tetangga, teman bermain, dan keluarga yang bisa dikunjungi kapan saja merupakan bagian dari keseharian saya.

Baru setelah dewasa, saya menyadari bahwa hal-hal sederhana seperti itulah yang ternyata meninggalkan kesan cukup dalam.


Jalan Muharto dan Kenangan Baiknya

Saya tahu Jalan Muharto tak jarang dipandang dengan citra yang kurang baik. Kawasan ini juga kerap dikaitkan dengan berbagai persoalan sosial atau pemberitaan yang kurang menyenangkan.

Namun, pengalaman pribadi saya justru menyimpan banyak kenangan baik. Saya tumbuh di lingkungan dengan tetangga-tetangga yang guyup, teman-teman yang menyenangkan, serta keluarga besar yang hangat.

Bagi saya yang masih anak-anak saat itu, Jalan Muharto hanyalah tempat tinggal dengan segala keseharian yang biasa saya jalani. Ada rumah, tetangga, teman bermain, musala, dan berbagai tempat yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saya menjalani masa kecil di sana tanpa pernah memikirkan bagaimana orang lain memandang kawasan tersebut.

Mungkin ini memang sudut pandang saya sebagai anak. Saya tidak tahu persis bagaimana orang tua saya memandang kehidupan di sana. Bisa jadi, ada pengalaman atau pertimbangan yang tidak saya ketahui ketika itu.

Namun, sejauh yang saya lihat, hubungan orang tua saya dengan para tetangga maupun keluarga besar juga baik-baik saja. Bahkan, hubungan tersebut tetap terjaga sampai sekarang.

Hal ini membuat saya menyadari bahwa citra sebuah kawasan tidak selalu sama dengan pengalaman setiap orang yang tinggal di dalamnya.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua orang memiliki pengalaman yang sama dengan saya. Setiap keluarga tentu punya cerita masing-masing. Sebuah wilayah juga tidak mungkin sepenuhnya bebas dari persoalan.

Namun, di balik citra yang melekat pada suatu kawasan, ada kehidupan sehari-hari yang mungkin tidak terlihat dari luar. Ada orang-orang yang membesarkan anak, mencari nafkah, menjalin pertemanan, dan membangun hubungan baik dengan tetangga mereka.

Pengalaman saya di Jalan Muharto adalah salah satunya.

Saya tidak menutup mata terhadap kemungkinan adanya persoalan di lingkungan tempat saya tumbuh. Hanya saja, ketika mengingat masa kecil saya di sana, yang lebih banyak muncul justru hal-hal baik.

Setidaknya, itulah pengalaman yang saya rasakan dan kenangan yang masih saya simpan hingga sekarang.


Kembali Berkunjung dan Merawat Kenangan

Meskipun sudah puluhan tahun tidak tinggal di Jalan Muharto, saya masih sesekali berkunjung ke sana. Saudara-saudara saya masih banyak yang tinggal di kawasan tersebut sehingga saya tetap memiliki alasan untuk kembali.

Bulan Juli lalu, misalnya, saya mengunjungi TPU Kutobedah untuk berziarah ke makam keluarga.

Bagi saya, rumah itu tidak harus tetap sama seperti dahulu agar bisa menyimpan kenangan. Bangunannya boleh berubah, kepemilikannya boleh berganti, dan lingkungan di sekitarnya pun mungkin sudah mengalami banyak perubahan. Namun, pengalaman yang pernah saya lalui di sana tetap menjadi bagian dari hidup saya.

Saya juga senang masih bisa menunjukkan rumah tersebut kepada si sulung dan bercerita bahwa di sanalah saya pernah tumbuh. Ada sesuatu yang menyenangkan ketika bisa memperlihatkan secara langsung tempat-tempat yang selama ini hanya bisa diceritakan kepada anak.

Mungkin suatu hari nanti, cerita sederhana itu akan menjadi bagian dari kenangannya tentang masa kecil saya. Ia mungkin tidak akan mengingat semua detail yang saya ceritakan, tetapi setidaknya ia tahu bahwa sebelum menjadi Mama seperti sekarang, saya juga pernah tumbuh di sebuah rumah di Gang Permadi, Jalan Muharto.

Untuk Jalan Muharto dan Gang Permadi, terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Ada banyak hal yang telah berubah sejak saya meninggalkannya, tetapi kenangan baik tentang tempat itu akan selalu punya ruang tersendiri dalam ingatan saya.


You Might Also Like

0 komentar