Menikmati Festival Kuliner Tempoe Doeloe di Summarecon Mall Bandung
Monday, August 31, 2026Sudah lama rasanya kami tidak jalan-jalan ke festival kuliner. Jadi ketika kakak ipar mengajak ke Festival Kuliner Bandung di Summarecon Mall Bandung pada tanggal 30 Agustus 2026, kami pun memutuskan untuk ikut. Apalagi acaranya mengusung tema Bandung Tempoe Doeloe, jadi lumayan penasaran juga ingin melihat seperti apa suasananya.
Kami berangkat dari rumah sekitar pukul setengah sebelas pagi. Kali ini kami mencoba rute yang belum pernah kami gunakan sebelumnya. Dari rumah, kami masuk melalui Tol Buah Batu, kemudian langsung menuju akses tol Summarecon.
Biasanya kalau pergi ke Summarecon Mall Bandung, kami lewat jalur non-tol. Jadi ini pertama kalinya kami mencoba rute tersebut. Ternyata cukup praktis juga karena kami bisa langsung menuju kawasan Summarecon tanpa harus melewati jalanan Kota Bandung. Waktu tempuhnya juga lebih cepat karena bebas macet.
Sesampainya di sana, kami langsung mencari area festival kuliner. Karena belum tahu persis lokasinya, kami sempat bertanya kepada petugas keamanan. Setelah mendapat petunjuk, kami pun langsung meluncur ke area festival.
Seperti apa cerita kami di acara Festival Kuliner Bandung bertajuk Bandung Tempoe Doeloe itu? Yuk, baca sampai selesai.
Keliling Festival Kuliner Bandung
Sebelum membeli makanan, kami berkeliling terlebih dahulu melihat-lihat gerai yang ada. Festival seperti ini memang paling enak kalau tidak langsung membeli makanan begitu datang. Muter dulu, lihat-lihat pilihan, baru menentukan mau makan apa.
![]() |
| Gerbang masuk area Festival Kuliner (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Apalagi kalau membawa anak-anak, dengan pilihan sebanyak ini, biarkan mereka memilih lebih dulu. Di festival ini ada makanan berat, camilan, minuman, sampai berbagai jajanan yang sebagian besar memang Bandung banget, seperti cimol, bola ubi, batagor, dan lain sebagainya.
Setelah berkeliling, si sulung mulai menentukan pilihan setelah melihat penjual ayam sambal ijo. Sayangnya saya tidak terlalu ingat nama gerainya. Harganya Rp25.000 untuk satu porsi dan kami diminta menunggu kurang lebih 20 menit.
Sementara menunggu ayam matang, kami mencari camilan. Kali ini si sulung melihat ice cream rolls dan langsung ingin mencoba. Pilihannya jatuh pada rasa cream and cookies dengan harga Rp35.000.
![]() |
| Ice cream rolls dan antriannya yang lama (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Masalahnya, antreannya lumayan panjang. Dan tentu saja, mengantre di area terbuka saat siang bolong itu panaasss…
Kami pun harus sabar menunggu sekitar 20 menit sampai es krim pesanan kami selesai dibuat. Setelah itu, saya mengantar si sulung kembali ke tempat papanya duduk. Ternyata di sana ada Uwa bersama anak dan cucunya. Senang rasanya bisa bertemu dan mengobrol sejenak.
![]() |
| Gerai lomie yang saya pengin namanya Mie Tiga (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Setelah mengobrol beberapa saat, saya pergi sejenak untuk mengambil ayam pesanan si sulung dan melihat-lihat makanan apa yang bisa saya pesan untuk diri sendiri. Sempat tertarik dengan lomie karena sudah lama tidak makan menu itu. Namun, setelah melihat porsinya yang menurut saya cukup sedikit untuk harga yang ditawarkan, akhirnya saya mengurungkan niat.
Usai mengambil ayam, saya kembali ke tempat duduk dan giliran suami yang berkeliling mencari makanan. Begitulah kalau jalan-jalan bersama anak di tempat seperti ini. Satu orang jaga anak, satu orang antre makanan. Kalau sudah selesai, gantian.
Sebetulnya di meja-meja saya lihat ada QR code, tapi saya tidak mencoba itu untuk apa. Mungkin untuk memesan makanan, ya. Saya baru sadar menjelang pulang soalnya hahaha..
![]() |
| Ada tempat duduk dengan atap dan terbuka (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Akhirnya suami membeli cuanki sambal ijo, yang kalau tidak salah harganya sekitar Rp30.000. Setelah itu dia menikmati makanannya bersama si sulung. Sementara itu saya masih bingung mau makan apa.
Tak lama kemudian, si bungsu meminta kentang goreng. Kebetulan di dekat tempat kami duduk ada gerai yang menjual hotdog. Saya pun sekalian membeli hotdog dan kentang goreng dengan harga sekitar Rp45.000.
Masuk Mall untuk Salat dan Istirahat
Setelah semua makanan habis, kami pamit kepada Uwa untuk beranjak lebih dulu. Kami berencana masuk ke dalam mall untuk salat zuhur sekaligus menunggu kakak ipar dan keponakan. Memang dari awal kami sudah janjian akan bertemu di Summarecon.
Sebelum salat, kami sempat mampir ke Miniso. Niatnya cuma cuci mata, melihat barang-barang lucu yang ada di sana. Tapi tentu saja anak-anak punya agenda sendiri.
Mereka malah tertarik bermain block plastik. Ya sudah, akhirnya kami biarkan mereka bermain sebentar, sembari saya dan suami bergantian berkeliling untuk melihat-lihat.
![]() |
| Asyik bermain (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Setelah anak-anak puas bermain, kami naik ke lantai dua untuk salat. Kebetulan saya tidak salat, jadi saya menunggu bersama si bungsu di Toys City. Ada track Hot Wheels yang bisa digunakan secara gratis di sana. Si bungsu pun langsung betah bermain.
Begitu suami dan si sulung selesai salat, kami turun lagi untuk mencari kopi. Kami berkeliling mencari gerai Fore. Setelah ketemu, kami langsung masuk memesan satu cafe latte seharga Rp29.000.
Kursi di Fore penuh, padahal kami masih harus menunggu antrian sekitar lima belas menit. Agar anak-anak tidak bosan dan mengganggu sirkulasi pengunjung lain, saya mengajak mereka membeli donat di J.CO. Kami membeli tiga buah donat dengan harga Rp33.000.
Sayangnya, tempat duduk di dalam J.CO juga penuh. Kami keluar dan mencari tempat duduk di area outdoor. Ternyata, di luar juga sama saja. Akhirnya kami dapat duduk di tepian kolam ikan.
![]() |
| Makan donat sambil lihat ikan (sumber: dokumentasi pribadi) |
Sambil menikmati kopi dan donat, kami mengobrol sejenak ditemani ikan yang berenang ke sana kemari. Apalagi di area ini banyak tanaman, jadi terasa lebih teduh.
Setelah donat dan kopi habis, kami mendapat kabar dari kakak ipar bahwa mereka sudah berada di area festival kuliner. Kami pun kembali ke festival untuk bertemu mereka.
Jajan Lagi untuk Camilan Sore
Begitu sampai di festival dan bertemu keluarga kakak ipar, hal pertama yang saya cari bukan makanan, tapi air minum. Haus sekali rasanya. Dua botol air yang kami bawa dari rumah sudah habis. Akhirnya saya membeli air mineral lagi.
Setelah rasa haus teratasi, ternyata muncul masalah berikutnya. Si sulung merasa lapar lagi. Akhirnya saya dan si sulung kembali berkeliling mencari makanan.
Kalau saya sebenarnya sudah tahu ingin membeli apa. Dari tadi siang saya sudah mengincar Leker Gajahan, jadi kali ini tinggal mencari gerainya.
Sambil berjalan ke arah gerai leker, Si sulung melihat gerai Chizzin Pizza dan dia memutuskan untuk membeli itu saja. Saya pun memesan satu pizza varian original cheese dengan harga Rp25.000.
![]() |
| Gerai Chizzin Pizza yang paling kanan (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Sembari menunggu pizzanya dibuat, si sulung menemani saya membeli leker. Karena beberapa varian sudah tersedia, saya memilih yang sudah jadi saja supaya tidak perlu menunggu terlalu lama. Saya membeli leker pisang original, pisang cokelat, dan pisang keju.
Minimal pembelian leker adalah lima buah. Harga leker yang saya pilih kalau tidak salah mulai dari Rp9.800 sampai Rp11.000 per buah. Ada banyak pilihan rasa lainnya, tetapi beberapa harus menunggu dibuat dan harganya sepertinya juga sedikit lebih mahal.
![]() |
| Gerai Leker Gajahan (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Setelah leker didapat dan pizza si sulung selesai, kami kembali ke tempat duduk untuk menikmati camilan sore bersama-sama.
Rencana Sewa Sepeda yang Batal
Sambil makan dan mengobrol, kami berencana merealisasikan keinginan untuk menyewa sepeda di Taman Sumringah Summarecon Bandung. Si sulung dan keponakan tertua langsung bersemangat.
Para laki-laki pun salat asar terlebih dahulu sebelum kami menuju taman. Sementara itu, saya dan kakak ipar yang sama-sama sedang berhalangan meneruskan obrolan sambil menjaga kedua bungsu kami.
Sambil menunggu, saya dan kakak ipar mengecek jadwal sewa sepeda. Ternyata waktunya cukup mepet. Kalau tidak salah, layanan sewanya hanya sampai pukul 17.00 WIB. Kami tidak yakin apakah itu batas terakhir menyewa atau sepeda sudah harus dikembalikan.
Tak lama kemudian, para laki-laki kembali dari salat. Namun, waktu sudah lewat pukul empat sore. Artinya, kalau kami tetap memaksakan pergi ke taman, waktu yang tersisa tidak akan banyak. Daripada buru-buru dan akhirnya tidak bisa menikmati, kami pun memutuskan membatalkan rencana tersebut dan menggantinya di lain hari.
Kami pun kembali mengobrol. Sampai akhirnya sekitar pukul lima sore, saya sekeluarga pamit pulang lebih dulu. Si bungsu sudah mulai rewel dan tidak kondusif untuk berada di tempat umum lagi.
Festival Kuliner dan Keuangan Keluarga
Kalau dihitung-hitung, ternyata lumayan juga uang yang keluar hari itu. Kalau untuk belanja bahan mentah, setidaknya bisa untuk makan satu minggu hehehe…
Di sinilah saya merasa bahwa mengatur keuangan keluarga memang penting. Harus ada anggaran tersendiri untuk hiburan agar tidak mengganggu pos pengeluaran lainnya. Selain itu harus pintar memilah hiburan apa yang dipilih agar sesuai budget.
Untuk festival kuliner seperti ini, harganya memang cenderung lebih mahal dibandingkan makan di dalam mall atau membeli makanan langsung di toko/restoran aslinya. Apalagi beberapa makanan juga porsinya terasa cukup kecil untuk harga yang ditawarkan.
![]() |
| Beberapa gerai lainnya (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Misalnya saya sempat melihat lomie ayam yang dibanderol dengan harga Rp35.000 tapi porsinya hanya satu mangkuk cup kecil. Ada juga minuman seperti jeruk peras atau es cendol yang harganya sekitar tiga puluh ribuan. Kemudian air mineral ukuran 600 ml pun dijual dengan harga Rp9.000.
Sebagai perbandingan, harga air mineral di dalam mall, biasanya saya dapatkan dengan harga sekitar Rp5.000, sedangkan di minimarket tentu lebih murah lagi. Hahaha…
Memang sih, namanya juga festival. Ada biaya penyelenggaraan, sewa tempat, dan berbagai hal lainnya. Jadi wajar kalau harga makanan di festival tidak bisa disamakan begitu saja dengan harga makanan aslinya. Belum lagi di festival makanan seperti ini, kita bisa mencoba berbagai jenis makanan sekaligus hanya dari satu tempat.
Penutup: Seru, tapi Tidak Perlu Terlalu Sering
Bagaimanapun, hari itu menyenangkan, baik untuk saya, suami, maupun anak-anak. Kami senang bisa bermain, jajan, cuci mata, dan berkumpul dengan keluarga.
Buat saya, justru berkumpul bersama keluarga yang membuat kunjungan ke Festival Kuliner Bandung kali ini terasa berkesan.
Soal makanannya? lumayan, lha. Walaupun secara harga, jujur, agak overprice buat saya.
Hanya saja, kalau ditanya apakah saya ingin sering-sering datang ke festival kuliner seperti ini? Sepertinya tidak.
Dalam kondisi seperti sekarang, menjaga keuangan keluarga tetap penting seperti yang sering diingatkan oleh lifestyle blogger Madura. Jalan-jalan dan jajan boleh, menikmati waktu bersama keluarga di luar rumah juga boleh, tapi tetap perlu tahu batasnya.
In this economy, kalau ada yang lebih murah dan nyaman, buat apa bayar mahal. Ya, kan?
Kalau kalian penasaran ingin merasakan sendiri suasananya, Festival Kuliner Bandung ini masih berlangsung sampai tanggal 27 September 2026. Jadi, masih cukup banyak waktu untuk datang. Jangan lupa siapkan budget jajannya.











23 komentar
Nyari surabi, nyari colenak nyari apalagi ya di Festival Kuliner Bandung sana... Mumpung ada waktu sampai akhir minggu di bulan September kan ya...
ReplyDeleteSetuju in this economy, jalan gak harus ngabisin uang tabungan. Saya dan suami menularkan kepada anak, kalau selalu bawa bekal baik itu camilan, makanan maupun minuman. Lebih kenyang, lebih sehat dan sesuai permintaan anak dan suami pastinya (seperti dalam hal bumbu yang banyak banget yang kami batasi)
Me time bareng keluarga memang perlu. Tapi pertimbangkan juga keuangannya ya... Perhatikan kondisi keuangan bukan gaya hidup atau lifestyle yang hanya karena ingin dilihat orang saja
Aku salfok sama leker gajahan yg disebutkan tadi,,,setahuku leker gajahan ini asli solo mbaa dah dari tahun 60an sptnya kalo gak salah yaa ..keren ihh dah sampai bandung segala hehe...
ReplyDeleteTapi bener sie mba klo di festival kuliner kayak gini memang harus siapin dana lebih karena biasanya memang lebih mahal...aku pernah sekali juga dateng ke festival kuliner dan setelah ditotal2 harga jajanan yg kita beli jadi pengen nangis hahaha tapi ya udah yaa anggep aja pengalaman "berharga" :)
Ini aneka kuliner endeuss markindes ya Mbaaa
ReplyDeleteLokasinya juga ciamik, hanya sajaaaaa sebagaimana festival kuliner pada umumnya, harga yg ditawarkan memang bikin shocked kecil :)
Samaaaa kayak di Surabaya juga gitu.
Seporsi mie legendaris bisa banget dibanderol 70 ribu, padahal isinya secimit dan pakai mangkok sterefoam.
Menghadeh pokoknya
Waaah masih sampe 27 sept yaaa? Soalnya 25 sept - 27 sept aku ke bandung mbaaa. Oke, coba kalau sempat mau deh lihat2 festivalnya. 😍. Tapi sebenarnya ke bandung itu pun memang mau WISKUL doang 😄.
ReplyDeleteIya sih, kalau ke tempat begini, enaknya tuh lihat2 dulu, stand apa aja yg ada. Baru setelah itu milih. Tapi memang harga pastinya lebih mahal kalau festival. Cuma kalau enak sih, gapapa lah yaa 😅. Sebelnya itu udahlah mahal tp ga enak atau sekedar so so 🤣.
Dah lamaaa ih ga makan ice cream rolls 😄. Jadi pengen
Tapi leker Gajahan juga kliatan menggoda 🤤
Aku dah lamaaa banget ga datang ke acara festival kuliner gini mba. Kayaknya trakhir datang ke festival mie Nusantara di kelapa gading. Sukaa sih kalau ke festival makanan.
Jadi bisa milih makanan Macam2, walaupun kadang lapar mata doang 🤣
Ada tiga hal yang menyenangkan di dunia ini, yaitu: jalan-jalan, makan-makan, dan selalu bersama keluarga. Mau ke tempat manapun, selama 3 hal itu dilakukan, pastinya asyik. Dan, beruntung juga ada tempat yang bisa memfasilitasi. Toh, tidak semua daerah ada sentra tempat makan seperti di tulisan ini. Contohnya, daerah di Planet Mars sana, mana ada tempat makannya. Ya 'kan?
ReplyDeleteSaya sebenarnya suka acara festival kuliner kayak gini mbak. Apalagi kalau temanya makanan tempoe doeloe. Maka saya pasti mencari makanan yang sudah jarang dijual dan kebetulan ada dijual saat festival. Tapi memang itu... harus sabar antre. jadinya tidak terlalu banyak makanan yang bisa dinikmati. Terus harganya juga memang lebih mahal. Makanya saya setuju. ke festival kuliner menyenangkan, tapi ga bisa sering-sering hehehe
ReplyDeleteemang sih ya, kalau udah bawa anak-anak ke festival kuliner tuh tantangannya ekstra banget juga. Harus sabar ngantre di tengah cuaca panas, belum lagi bagi tugas jaga anak sama pasangan biar bisa gantian beli makan.
ReplyDeleteSoal harga makanan di acara begitu emang suka bikin ngelus dada sih. Bener banget, lumayan overprice kalau dibanding porsinya. Tapi ya dibayar sama momen ngumpul bareng keluarga yang hangat.
Namanya jalan-jalan liburan apalagi pastinya sekalian jajan juga, jadinya ga terasa malah banyak dana yang dikeluarkan. Jadinya memang perlu disediakan bujet khusus ya Kak, agar suasana liburan halan²nya tetap seru, pas jajan kulinernya pun juga ga merasa bersalah
ReplyDeletefestival kuliner ini memang rentan bikin dompet jadi kempes ya, mbak soalnya kadang mau nyoba semua yang ada di berbagai stand yang ada. Makanya memang penting banget nih buat menahan diri kalau ada festival kuliner atau bikin anggaran tersendiri buat kulineran biar nggak mengganggu keuangan rumah tangga
ReplyDeleteHarganya cukup wow yaa, apa karena sewa tempatnya juga lumayan mihil? Yang bikin shock itu beli lekker minimal 5
ReplyDeleteKalau mudik ke ngalam coba beli crepes di taman slamet mbak, enakk (intermezzo dulu)
Tapi yang bikin bingung, katanya Bandung tempo dulu, tapi yang dijual makanan modern (Seperti pizza). Hmmmmmmm
Aku malah senyum baca bagian satu orang jaga anak, satu orang antre makanan, terus gantian. 😄
ReplyDeleteMemang kalau sudah jalan bareng keluarga, agenda makannya kadang jadi semacam kerja tim ya mbak Asri.
Belum selesai satu pesanan, anak sudah minta yang lain. Ah yang penting mereka happy.
Bagian makan donat sambil lihat ikan juga terasa sederhana tapi justru jadi momen yang enak. Kadang bukan makanan atau festivalnya yang paling diingat, tapi kejadian kecil di sela-sela jalan itu.
Dan menurutku keputusan batal sewa sepeda juga relatable banget—daripada dipaksakan buru-buru cuma karena sudah direncanakan, mending disimpan buat lain waktu. 😁
Ini kalo ke FesKul suka mirip-mirip mbak. Hehehe.. Satu jaga anak, satu pesen makan. Tapi kalau di aku biasanya suami yang cari meja aku yang pesenin makanannya, karena biasanya dia udah bilang mau beli apa di FesKul. hehehe.. :D
ReplyDeleteTapi aku kalau ke FesKul emang jarang banget mbak, karena beberapa kali datang ke FesKul harga makanannya emang lumayan mahal dengan porsi yang kecil. Makanya kalau ke sana emang niat hati cuma mau ngemil aja. Dan, setahuku yang pernah bantu-bantu di stand FesKul, biaya mahal itu karena yang pasang stand kudu bayar ke penyelenggara eventnya. :(
Panjang juga yaaa, masa berlangsung nya Festival Kuliner Bandung di Summarecon Mall Bandung ini, sampe 27 September. Oalah, aku sempat berekspektasi beneran all in makanan jadul, ternyata nggak juga, banyak makanan kekinian nya.
ReplyDeleteItulah yang kadang aku heran, kenapa festival kuliner harganya over price, padahal biar lebih laris manis dan di gandrungi, baiknya lebih bersahabat dengan kantong. Tapi gapapa sesekali wajarlah yaaa, apalagi jadi momen meet up sama keluarga juga. Semoga penyelenggara memikirkan jangan pasang harga kemahalan, soalnya festival kalau lebih terjangkau akan makin di sukai maklum in this economy yaaa. Kalau bisa hemat, janganlah boros hehee.
Wah seru pisan ini sih Kak. Tapi jauh beut ya. Musti ada budget khusus sih ini kalau mau jajan puas ke festival kuliner. Masih ada waktu ya sampai akhir bulan ini
ReplyDeleteKalo keinget abis ngluarin duit sekian buat jajan, auto mules yaakk..
ReplyDeleteTapi pas jajannya maah.. seneng.
Suka gituu.. kalo sampe rumah baruu nyadar, "Kita tadi jajan lumayan banyak juga loo.."
Hihihi.. apalagi di acara Festival Kuliner begini kan yaa.. harganya bisa dibilang "mau gak mau pasti belii..."
Tertarriikk sama ice cream rolls.
Pas banget sama Bandung yang vanaass... mashaAllah~
Aku paling suka deh kalau ada festival kulineran gitu, bisa puas2 jajan, walau sekarang makanku dikurang2in haha, tapi masih bisa diakalin dengan beliin anak2 ntar bisa icip2 wkwk :D
ReplyDeleteIya sih kadang harganya dinaikin yaa, tapi ada juga yang kasi gimmick2 atau diskonan gitu, pinter2 pilih tenant aja. Tapi emang bener, kan nggak sering juga jajan di festival, jadi gpp untuk hari itu puas2in jajan =))
Kalau JCo sih kyknya emang harganya segitu ya mbak di gerai dan di hari biasa.
Kalau pizza dan leker wah anak2ku juga suka tuh, apalagi lekker. Pizza-nya bukan brand besar yang biasa kita kenal yaaa jadi harganya cukup ramah kantong tapi rasanya tak kalah enak yaa.
Wah yang lagi di Bandung bisa banget nih ya mampir ke Festival Kuliner Bandung, mirip-mirip kayak festival jajan di Blok M. Tapi kalau dilihat-lihat, sepertinya bawa budget 100 ribu enggak cukup melihat tadi untuk harga makanannya overprice, terlebih jika doyan jajan. Wah bisa auto kalap itu mah ya, hehehe
ReplyDeleteDatang ke acara festival kuliner itu seru. Apalagi klo ada temanya, misalnya tema kuliner jadul. Tapi memang harganya mahal sih ya, overpriced. Boncos klo terlalu sering
ReplyDeleteMenarik banget membaca pengalaman festival kuliner dari sudut pandang keluarga. Ternyata selain soal makanan, ada juga cerita tentang mengatur anak, berbagi peran dengan pasangan, bertemu keluarga, sampai belajar menyesuaikan rencana dengan kondisi di lapangan. Bagian penutupnya juga ngena, hiburan boleh, jajan boleh, tapi tetap harus tahu batas dan menyesuaikan dengan kondisi keuangan. Setuju banget
ReplyDeletedari berbagai kuliner yang ada, ada satu yang cukup penasaran karena belum pernah mencobanya yaitu ice cream gulung, terbilang menarik karena proses pembuatannya biasanya bisa dilihat dari awal dan biasanya bercampur dengan varian buah tentunya. di bali sepertinya belum ketemu sih
ReplyDeleteBaru kali ini dengar makanan bernama Leker Kak. Sejenis roti ya kalau diihat dari fotonya?
ReplyDeleteBanyak juga jenis makanan yang bisa dicoba di Festival Kuliner Bandung ya Kak. Memang di ekonomi sekarang perlu merencanakan batas anggaran untuk kegiatan semacam ini agar tidak Boncos.
Terima Kasih ya Kak.
Sayangnya ga ada foto ayam cabe ijonya ya mbak, padahal saya penasaran bingit, hihihi. Soalnya diantara sekian banyak pilihan sambal, entah kenapa sambal cabe ijo tuh selalu ada di top tier saya. Enak, gurih, dan gak terlalu kepedesan.
ReplyDeleteSy sama istri suka kebalik kalo di acara festival makanan begini. istri laper mata, saya kenyang mata. Jadi kadang istri mah abis muterin tuh segala dibeli, tapi gak dimakan. Saya abis muter malah gak kepengen beli apa-apaan wkwkwk
Dilihat dari harga sih memang cukup tinggi, ya, meskipun tidak sampai miliaran. Tapi, selama kita sanggup dan punya yang lain, belanja makanan atau minuman di festival semacam itu, nggak masalah, sih. Yeng penting anak-anak senang. Kalau mereka sudah senang, mudah-mudahan rezekinya juga akan makin senang hinggap dan menetap.
ReplyDelete