Dari Panasnya Lembur Pakuan ke Dinginnya Tangkuban Perahu
Monday, August 17, 2026Tanggal 22 April 2026 lalu, saya mengajak ibu yang sedang berkunjung ke Bandung untuk jalan-jalan. Kali ini kami pergi bersama si bungsu, mama mertua, dan uwa, kakaknya mama. Sementara si sulung tidak ikut karena harus sekolah.
Karena suami sedang bekerja dan saya sendiri tidak bisa menyetir, kami memutuskan untuk menyewa driver. Kebetulan driver yang kami gunakan adalah tetangga mama yang sudah beberapa kali mengantar kami bepergian. Jadi, meskipun perjalanan kali ini cukup jauh, rasanya tetap santai karena sudah kenal dengan orangnya.
Sebenarnya kami tidak punya rencana yang benar-benar pasti hari itu. Ibu ingin pergi ke Lembur Pakuan di Subang. Sementara saya merasa perjalanan ke sana terlalu jauh dari Bandung dan sempat berpikir untuk mengajak semuanya jalan-jalan ke Lembang saja.
Kami berangkat dari rumah sekitar pukul setengah tujuh pagi tanpa rencana yang matang. Bebas saja mau ke mana, yang penting jalan-jalan. Setelah menjemput uwa dan mama ke rumah masing-masing, mobil pun melaju menuju Lembang.
Namun, entah bagaimana ceritanya. Setelah mengobrol sepanjang perjalanan menuju Lembang, kami malah memutuskan untuk meneruskan perjalanan sampai ke Lembur Pakuan.
Pertama Kali Jalan-Jalan ke Subang
Akhirnya perjalanan hari itu menjadi pengalaman pertama saya mengunjungi Subang. Ternyata perjalanan menuju Lembur Pakuan cukup menyenangkan karena pemandangan di sepanjang jalan begitu indah.
Salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah perkebunan teh. Hari itu juga menjadi hari pertama saya melihat kebun teh secara langsung, bukan dari foto atau video. Melihat hamparan kebun teh dari dalam mobil ternyata menyenangkan juga, apalagi kalau bisa turun dan berjalan di sana, pasti lebih seru. Mungkin lain kali saya harus mengagendakan jalan-jalan ke kebun teh.
Perjalanan yang tadinya saya pikir akan terasa jauh ternyata tidak begitu karena terdistraksi oleh keindahan di sepanjang jalan. Selain pemandangan yang indah, jalur ke Subang juga bersih, rapi dan mulus.
Begitu masuk ke kota Subang, kami hendak mencari makan lebih dulu. Sedari pagi kami semua belum makan berat. Namun setelah berputar-putar di kota dan tidak kunjung menemukan tempat yang cocok, akhirnya kami langsung menuju Lembur Pakuan.
Makan di Lembur Pakuan Saat Cuaca Terik
Kami sampai di Lembur pakuan sekitar pukul sebelas siang. Begitu sampai, cuaca yang cukup terik langsung menyambut. Karena tadi gagal menemukan tempat makan, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum menjelajah lebih jauh.
Kami makan di salah satu warung nasi timbel yang ada di sana. Warungnya sederhana dan harga makanannya cukup murah. Untuk rasa, menurut saya biasa saja. Tidak bisa dibilang istimewa, tetapi cukup untuk mengisi perut yang sudah lapar.
Kami juga menumpang salat di tempat makan tersebut. Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan menuju area persawahan.
Oh ya, pada ada kunjungan kami hari itu, masuk ke kawasan Lembur Pakuan masih gratis. Namun, saya kurang tahu apakah sekarang masih demikian atau sudah ada perubahan peraturan.
Salah satu hal yang menurut saya cukup membantu adalah hari itu pengunjung boleh membawa kendaraan sampai ke area persawahan. Jadi kami tidak perlu berjalan kaki jauh, apalagi sambil membawa si bungsu. Di sana juga tersedia area parkir meskipun kecil.
Saat itu kami datang di hari biasa, bukan akhir pekan. Kabarnya kalau akhir pekan mobil tidak boleh masuk kawasan dan hanya boleh parkir di depan. Namun saya kurang yakin dengan informasi ini. Adakah dari kalian yang pernah berkunjung ke Lembur Pakuan di akhir pekan? Mungkin bisa berbagi cerita di sini.
Bersantai di Tengah Persawahan Lembur Pakuan
Perjalanan dari gerbang depan menuju area persawahan membutuhkan waktu sekitar lima menit saja dengan menggunakan mobil. Tidak terlalu jauh sebetulnya, tapi kalau berjalan kaki di tengah terik matahari lumayan juga.
Sesampainya di area persawahan, kami langsung menuju salah satu saung yang kosong dan membuka camilan serta es campur yang sebelumnya dibeli di dekat warung makan. Kami duduk santai di sana sambil makan, mengobrol, dan menikmati suasana. Tentu saja, tidak lupa berfoto-foto.
Meskipun cuaca cukup panas, suasana pedesaan dengan hamparan hijau sawah tetap terasa menyenangkan. Apalagi saat semilir angin berhembus. Lumayan mengurangi rasa gerah yang kami rasakan dan menambah syahdu suasana.
Bagi saya, kegiatan sederhana seperti duduk di saung, menikmati makanan ringan, mengobrol bersama keluarga, dan sesekali mengambil foto pun sudah menjadi salah satu bentuk outdoor activity yang menyenangkan.
Sekitar pukul satu siang, kami meninggalkan area persawahan dan bersiap pulang. Namun, ternyata ibu, mama, dan uwa punya rencana lain. Sekitar separuh jalan menuju gerbang depan, mereka memutuskan turun dari mobil dan berjalan kaki agar lebih leluasa berfoto-foto.
Tentu saja saya tidak ikut karena sudah bisa membayangkan si bungsu pasti akan minta digendong terus. Jadi, saya bersama driver langsung menuju di area parkir depan gerbang dan menunggu di sana. Sembari menunggu, saya pun mengambil banyak foto di sekitar gerbang depan.
Menurut saya, Lembur Pakuan memang memiliki suasana pedesaan yang cukup menarik. Desanya terlihat rapi dan tertata. Hanya saja, karena kami datang saat matahari sedang terik-teriknya, rasanya agak kurang nyaman untuk berjalan-jalan lama di luar.
Buat kalian yang ingin berkunjung ke Lembur Pakuan, saya sarankan datang di pagi atau sore hari saat cuaca lebih bersahabat.
Menikmati Es Krim Cincau di Kota Subang
Sekitar pukul setengah dua siang, kami akhirnya meninggalkan Lembur Pakuan dan kembali mengarahkan mobil menuju Lembang.
Cuaca yang begitu terik membuat kami kembali mencari sesuatu yang dingin. Di perjalanan, kami sempat berhenti di pinggir jalan untuk membeli es krim cincau. Setelah itu, kami menyantapnya di dalam mobil. Lumayan untuk menyegarkan badan sebelum melanjutkan perjalanan.
Mendekati Lembang, saya bertanya kepada yang lain, setelah ini kami mau ke mana lagi. Saya menawarkan untuk mampir ke sebuah kafe di kawasan Cikole. Namun, ketika melihat papan penanda kawasan Tangkuban Perahu, tiba-tiba kami sepakat untuk pergi ke sana saja.
Menginjakkan Kaki di Tangkuban Perahu Lagi
Kami sampai di Tangkuban Perahu sekitar pukul tiga sore. Di gerbang, kami membeli tiket masuk dan membayar parkir. Untuk tiket masuk, perhitungannya berdasarkan jumlah orang. Sayangnya, saya sudah lupa berapa harga tiket per orang saat itu. Sementara untuk parkir mobil, saat kami datang biayanya Rp10.000.
Hal yang saya suka dari Tangkuban Perahu adalah pengunjung tidak perlu melakukan trekking panjang untuk menikmati pemandangan kawah. Turun dari kendaraan, kita sudah bisa langsung menikmati keindahan kawasan tersebut.
Setelah memarkir mobil, kami langsung turun. Begitu pintu mobil dibuka, hawa dingin langsung menyergap. Kontras sekali dengan cuaca di Lembur Pakuan tadi siang.
Kalau di Lembur Pakuan kami mencari tempat teduh dan membeli es untuk mengatasi panas, di Tangkuban Perahu ibu langsung memakai jaket. Si bungsu pun saya pakaikan jaket agar tidak kedinginan.
Saat itu saya juga langsung teringat kunjungan pertama saya ke Tangkuban Perahu, sekitar tahun 2006 atau 2007 ketika saya masih mahasiswa baru. Waktu itu saya mengikuti study tour ke Jawa Barat. Kami mengunjungi Kampung Naga di Garut, Galeri Sunaryo di Bandung, Tangkuban Perahu, dan beberapa tempat lainnya yang sekarang sudah tidak begitu saya ingat.
Kala itu, begitu sampai kami juga langsung membeli topi dan sarung tangan karena merasa kedinginan. Sayangnya, saya tidak berhasil menemukan foto ketika pertama kali berkunjung ke Tangkuban Perahu kala itu. Padahal pasti menarik jika membandingkan suasananya dengan sekarang.
Foto-Foto, Membeli Souvenir dan Salat di Dinginnya Tangkuban Perahu
Karena pemandangannya begitu indah, tentu saja kami tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto. Mama dan uwa bahkan menerima tawaran beberapa pedagang sekitar untuk mengambilkan foto mereka. Syaratnya, tentu saja sambil membeli dagangan.
Akhirnya mama dan uwa membeli beberapa souvenir dan kerajinan tangan dari para pedagang. Menurut mereka, sekalian membantu perekonomian masyarakat sekitar. Lagipula, harga barang yang dijual juga tidak terlalu mahal. Sementara saya dan ibu tidak membeli apa-apa karena bingung mau membeli apa.
Setelah puas berfoto-foto, kami kemudian menumpang salat di masjid yang berada tidak jauh dari tempat kami memarkir mobil. Ternyata yang dingin bukan cuma udara, airnya pun dingin sekali. Bahkan lantainya juga terasa dingin.
Kami tidak berlama-lama di sana. Sekitar pukul setengah lima sore, kami meninggalkan kawasan Tangkuban Perahu dan kembali menuju Bandung.
Setelah merasakan dinginnya Tangkuban Perahu, dalam perjalanan pulang, tiba-tiba kami semua ingin makan bakso. Kami pun memutuskan untuk makan Bakso Mantep Gunung Giri Solo setelah sampai Bandung nanti. Namun, untuk cerita soal bakso ini akan saya ceritakan di artikel lain.
Akhirnya saya sampai di rumah sekitar pukul setengah delapan malam setelah mengantar mama dan uwa kembali ke rumah masing-masing.
Hari itu sempat ada drama dari si bungsu. Saat berangkat, dia muntah ketika kami masih berada di dalam Kota Bandung. Namun, setelahnya baik-baik saja. Eh, setelah mengantar Mama dan Uwa, dalam perjalanan pulang, dia muntah lagi. Padahal jarak ke rumah tinggal sekitar 3 kilometer lagi. Ada-ada saja.
Penutup: Outdoor Activity yang Menyenangkan Bersama Keluarga
Perjalanan hari itu memang tidak direncanakan dengan matang, tapi nyatanya tetap menjadi salah satu hari yang berkesan bagi saya. Saya senang bisa menghabiskan waktu bersama ibu, mama mertua, dan uwa.
Hal ini mengingatkan saya bahwa outdoor activity tidak selalu harus berupa aktivitas yang berat atau menguras tenaga. Jalan-jalan bersama keluarga, menikmati pemandangan, duduk di saung, mengobrol, berfoto, sampai sekadar menikmati udara pegunungan juga sudah cukup menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Apalagi kalau dalam satu hari bisa merasakan dua suasana berbeda seperti panasnya persawahan di Lembur Pakuan dan dinginnya pegunungan di Tangkuban Perahu.
Bagi saya, menghabiskan waktu bersama keluarga tidak selalu harus dimulai dari itinerary yang sempurna. Kadang perjalanan spontan juga bisa menjadi pengalaman yang berkesan, apalagi kalau cuma satu hari. Saya sendiri sering mendapatkan inspirasi ide jalan-jalan dari tulisan para travel blogger, termasuk travel blogger Medan.


0 komentar