Ngeblog dari Waktu ke Waktu: dari Photoshop hingga Canva
Wednesday, August 05, 2026Saya mulai ngeblog sejak usia 20-an hingga sekarang hampir menginjak 40 tahun. Selama rentang waktu belasan tahun itu, ada saja hal baru yang bisa dipelajari. Sesuatu yang dulu terasa rumit, sekarang bisa dilakukan dengan jauh lebih mudah berkat perkembangan teknologi.
Dulu, kalau ingin ngeblog, saya harus menggunakan komputer atau laptop. Berbeda dengan sekarang yang apa-apa bisa dikerjakan dengan menggunakan ponsel saja. Lebih cepat dan praktis. Selain itu, membuat gambar pendukung juga tidak semudah sekarang. Menguploadnya pun butuh waktu yang cukup lama karena kecepatan internet yang masih lambat.
Membuat Kolase Foto dengan Photoshop
Dulu, ketika ingin menggabungkan beberapa foto menjadi satu gambar, Photoshop menjadi salah satu andalan saya. Foto-foto harus dimasukkan satu per satu, kemudian diatur ukurannya agar terlihat proporsional.
Belum lagi kalau ingin membuat hasilnya terlihat lebih menarik. Saya harus memikirkan posisi setiap foto, memotong bagian yang tidak diperlukan, mengatur jarak, kemudian menyesuaikan ukuran kanvas. Kalau ada foto yang terlalu gelap atau warnanya kurang bagus, pengaturan brightness, contrast, saturation, dan berbagai hal lainnya juga harus dilakukan.
Apalagi kalau ingin membuat gambar yang tidak sekadar berupa kolase. Misalnya ingin menambahkan tulisan, bingkai, ornamen, atau elemen grafis lainnya. Semakin banyak yang ingin ditambahkan, semakin rumit pengerjaannya. Untuk membuat satu gambar saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Padahal, gambar pendukung cukup penting bagi sebuah artikel blog. Tulisan yang panjang akan terasa lebih menarik jika disertai foto atau ilustrasi yang sesuai. Selain membuat tampilan artikel tidak monoton, gambar juga bisa membantu pembaca memahami isi tulisan.
Canva Sang Penyelamat
Ketika mulai mengenal Canva, saya merasa membuat gambar pendukung menjadi lebih cepat. Kolase foto yang dulu membutuhkan Photoshop, sekarang bisa dilakukan dengan lebih praktis dengan menggunakan Canva. Tinggal memilih ukuran desain, memasukkan foto, kemudian mengatur posisi sesuai kebutuhan.
Bahkan, kalau ingin membuat desain yang lebih menarik pun, tidak selalu harus benar-benar mulai dari halaman kosong. Canva menyediakan banyak template yang langsung bisa digunakan. Kita tinggal menyesuaikannya dengan kebutuhan. Foto bisa diganti, tulisan bisa diubah, ukuran bisa disesuaikan, begitu juga dengan elemen-elemen lainnya.
Hal yang paling saya sukai, Canva bisa digunakan melalui ponsel. Jadi, saya bisa membuat ilustrasi Canva di mana pun dan kapan pun tanpa perlu repot menyalakan komputer atau membuka laptop.
Blogger Juga Perlu Belajar Desain
Menjadi blogger di zaman sekarang ternyata tidak hanya soal kemampuan menulis. Memang, tulisan tetap menjadi bagian utama. Namun, ada banyak hal lain yang ikut mendukung sebuah blog. Mulai dari fotografi, pengeditan gambar, desain, video, hingga berbagai hal yang berkaitan dengan media sosial. Karena itu, saya merasa blogger memang harus mau terus belajar. Apalagi sekarang teknologi sudah semakin memudahkan.
Menariknya, hal ini tidak hanya berlaku bagi blogger yang masih muda. Saya justru sering mendapati blogger senior, termasuk blogger lolita (lolos lima puluh tahun), yang tetap aktif menulis dan terus mempelajari serta membagikan ilmu-ilmu baru meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Usia memang bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru pengalaman hidup yang semakin banyak bisa menjadi sumber cerita yang tidak ada habisnya.
Teknologi Membuat Kita Lebih Mudah Berkarya
Bagi saya, kehadiran Canva sudah lama menggeser Photoshop. Walaupun tentu saja, Photoshop tetap berguna bagi desainer grafis sungguhan yang desainnya lebih rumit. Namun, saya sudah memilih Canva karena membuat pekerjaan desain sederhana menjadi jauh lebih mudah.
Membuat kolase foto untuk artikel perjalanan, menyiapkan feature image, membuat ilustrasi untuk tulisan, atau sekadar menambahkan teks pada sebuah foto bisa dilakukan tanpa harus menghabiskan banyak waktu mempelajari teknik desain.
Hal seperti ini membuat aktivitas blogging terasa lebih menyenangkan. Saya bisa lebih fokus memikirkan tulisan tanpa terlalu pusing dengan bagaimana membuat gambar pendukungnya.
Dan mungkin inilah salah satu alasan mengapa saya masih menikmati dunia blogging sampai sekarang. Teknologinya boleh berubah, aplikasinya boleh berganti, tetapi selalu ada kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru.
Saya sendiri belum masuk usia blogger Lolita. Namun, melihat blogger yang sudah melewati usia 50 tahun tetapi masih aktif menulis justru membuat saya berpikir bahwa perjalanan menjadi blogger memang tidak mengenal batas usia.
Selama masih punya cerita, saya masih bisa menulis. Selama masih punya rasa ingin tahu, saya masih bisa belajar, dan selama masih mau mencoba, selalu ada teknologi baru yang bisa membantu kita berkarya.

0 komentar