Peran Orang Tua dan Rumah dalam Pendidikan Anak
Monday, May 25, 2026Sering kita mendengar pepatah "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" atau istilah "Like father, like son". Pepatah dan istilah tersebut seolah menggambarkan bahwa sikap, karakter, kesukaan, serta berbagai hal yang berkaitan dengan anak dapat menurun begitu saja dari orang tua.
Padahal, di balik itu semua ada proses panjang yang disebut pengasuhan. Pola asuh setiap orang tua akan berperan besar dalam kehidupan anak karena orang tualah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya.
Banyak orang tua lupa bahwa mendidik anak adalah tugas mereka, bukan hanya tugas guru di sekolah. Orang tua berlomba-lomba memasukkan anak ke sekolah terbaik agar mendapat pendidikan yang berkualitas, tetapi lupa membersamai mereka di luar sekolah.
Padahal, orang tualah yang seharusnya mengambil bagian terpenting dalam proses pendidikan anak, terutama pada usia dini. Pendidikan bukan hanya tentang penyaluran pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan kepribadian.
Belajar Mendidik Anak Melalui Filosofi Ki Hajar Dewantara
Membersamai dan mendidik anak memang bukan hal yang mudah, apalagi pada masa balita ketika pendidikan yang kita berikan akan menjadi pondasi mereka hingga dewasa kelak.
Banyak buku dan teori parenting diterbitkan sebagai bekal bagi para orang tua untuk belajar. Namun di luar berbagai teori tersebut, ada semboyan dari tokoh nasional yang layak dijadikan acuan dalam mendidik anak-anak kita.
Semboyan tersebut berasal dari Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, yaitu “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Arti dari semboyan itu adalah di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.
Menurut berbagai teori, pendidikan anak dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu:
Fase pertama (0–7 tahun)
Fase kedua (7–14 tahun)
Fase ketiga (14–21 tahun)
Menariknya, semboyan Ki Hajar Dewantara tersebut dapat diterapkan pada ketiga fase tersebut. “Ing ngarsa sung tuladha” untuk fase pertama, “ing madya mangun karsa” untuk fase kedua, dan “tut wuri handayani” untuk fase ketiga.
Fase Pertama: Orang Tua Sebagai Teladan
Penerapan ing ngarsa sung tuladha pada fase pertama kehidupan anak berarti orang tua berada di depan untuk memberi contoh.
Anak-anak pada usia ini adalah peniru ulung. Meniru merupakan kemampuan dasar yang mereka miliki. Mereka senang menirukan apa saja yang ada di sekitar mereka, mulai dari aktivitas orang tua seperti menyapu, bunyi kendaraan yang lewat, hingga gerakan hewan yang dianggap unik.
Karena itulah, memberikan contoh yang baik menjadi sangat penting. Dengan melihat kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari, anak diharapkan akan menirunya secara alami.
Fase Kedua: Menjadi Pendamping dan Penyemangat
Ing madya mangun karsa, atau berada di tengah untuk memberi semangat, cocok diterapkan pada usia anak-anak hingga remaja awal.
Pada fase ini, yang dibutuhkan anak adalah sosok pembimbing yang berjalan di samping mereka. Mendengarkan cerita sehari-hari, menemani rutinitasnya, serta memberikan semangat dalam setiap proses jatuh bangun yang mereka alami.
Jika fase pertama diibaratkan sebagai proses membangun pondasi, maka pada fase kedua rumah mulai didirikan. Anak akan semakin banyak belajar hal-hal baru sebagai bekalnya memasuki fase berikutnya, termasuk belajar tentang kemandirian.
Fase Ketiga: Memberi Kepercayaan dan Dukungan
Ketika anak menginjak usia remaja, mereka mulai belajar mandiri. Mereka ingin membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya tanpa terlalu banyak campur tangan orang lain.
Mulai dari memilih sekolah, menentukan jurusan, memilih mata pelajaran, hingga menentukan kegiatan atau kursus yang ingin diikuti.
Di sinilah tut wuri handayani berperan. Orang tua tidak lagi banyak mengarahkan, melainkan berada di belakang untuk memberikan dukungan.
Pada fase ini, orang tua perlu berperan sebagai sahabat bagi anak-anaknya. Sahabat yang selalu ada ketika dibutuhkan, siap mendengarkan keluh kesah mereka, namun tetap berani menegur ketika anak melakukan kesalahan.
Rumah dan Keluarga Sebagai Sekolah Pertama
Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, tetapi orang tua dituntut untuk menjadi guru. Lalu, mungkinkah kita menjadi guru yang baik tanpa terus belajar?
Tentu tidak.
Sebagai orang tua, kita harus terus menambah ilmu agar dapat menjadi guru yang baik bagi anak-anak kita. Tidak ada orang tua yang mahir dalam segala hal. Yang ada hanyalah orang tua yang tidak berhenti belajar dan tumbuh bersama anak-anaknya.
Jika orang tua adalah guru pertama bagi anak, maka rumah dan keluarga adalah sekolah pertamanya. Anak lahir dan tumbuh di dalam rumah sebelum akhirnya mengenal dunia luar.
Oleh karena itu, kita perlu menciptakan suasana rumah yang mendukung proses belajar dan tumbuh kembang anak. Suasana yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga.
Menciptakan Rumah yang Mendukung Tumbuh Kembang Anak
Hal pertama yang dapat dilakukan adalah menjadikan rumah sebagai rumah ramah anak. Tidak hanya dari segi perabot, tetapi juga tata ruangnya.
Rumah yang ramah anak penting untuk menjamin keselamatan sekaligus mendukung tumbuh kembang mereka. Dengan lingkungan yang aman, anak akan lebih leluasa bereksplorasi tanpa merasa terlalu dibatasi.
Hal kedua adalah menghadirkan perpustakaan keluarga, meskipun dalam bentuk sederhana. Mengenalkan buku sejak dini merupakan langkah yang baik karena bacaan berkualitas akan membantu anak semakin dekat dengan ilmu pengetahuan.
Selain itu, kegiatan membaca bersama juga dapat memperkuat bonding antara orang tua dan anak.
Teknologi pun perlu dikenalkan secara bijak di dalam rumah. Menyediakan komputer atau laptop bagi anak yang sudah cukup umur dapat menjadi langkah awal mengenalkan teknologi kepada mereka. Dengan pendampingan dan pengawasan yang tepat, teknologi dapat menjadi sarana belajar yang bermanfaat.
Yang tidak kalah penting, berikan ruang bagi anak untuk mencoba berbagai hal. Fasilitasi mereka untuk belajar dan mengenal banyak bidang, mulai dari seni, matematika, bahasa, sains, budaya, sejarah, geografi, dan lain sebagainya.
Semakin banyak pengalaman yang diperoleh anak, semakin mudah bagi orang tua untuk menemukan minat dan bakat terbesar yang mereka miliki.
Penutup
Pendidikan anak tidak hanya berlangsung di sekolah. Rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru pertama yang akan membentuk fondasi kehidupan mereka.
Karena itu, tugas orang tua bukan sekadar memenuhi kebutuhan anak atau memilihkan sekolah terbaik, tetapi juga hadir, membersamai, serta terus belajar agar dapat tumbuh bersama mereka.
Sebab anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan orang tua yang hadir dan selalu berusaha menjadi lebih baik setiap harinya.
Demikian tulisan saya tentang peran orang tua dan rumah dalam pendidikan anak. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pendidikan terbaik selalu dimulai dari rumah. Untuk tips parenting modern lainnya, teman-teman bisa membacanya di Catatan Harian Rani R Tyas.


21 komentar
Setuju banget karena orang tua tidak bisa menyerahkan anak 100% ke sekolah, karena justru rumah menjadi tempat pertama anak untuk belajar. Orang tua emang wajib kasih tuladha / contoh. Jangan sampai emaknya malah biang gosip, bapaknya hobi memaki-maki, mau jadi apa anaknya?
ReplyDeleteSetuju sekali dengan semua part di tulisan mbak Asri ini. Dan kalau ditilik, maka saya saat ini sedang berada di fase pertama, karena kebetulan anak saya umurnya masih di kisaran 3-4 tahunan.
ReplyDeleteBener mbak, umur segini kita tuh harus bisa banget jadi contoh yang baik sama anak. Karena apa yang kita ucapkan, apa yang kita perbuat, itu kelak akan dicopy paste sama anak kita. Makanya saya nggak ngerokok, nggak males-malesan, daaan nggak pernah ngucapin kata-kata kasar di depan anak. Takut banget, tiba-tiba masuk ke core memory dan jadi habit dia ke depannya.
Yang terpenting adalah, sebaik-baiknya sekolah itu ya hubungan orang tua dan anaknya ya mbak. Jangan mentang-mentang karena anak sudah dititipkan ke sekolah, terus kita bisa abai, lepas gitu aja. Inilah yang akhirnya bikin anak-anak jadi fatherless.
Setuju mbaaa karena anak adalah peniru ulung dan guru pertama bagi anak adalah kedua orang tuanya,,,dan sekolah pertama adalah rumah atau keluarganya...
ReplyDeleteJika sejak dari rumah dia sudah mendapatkan pondasi2 dasar mengenai adab ilmu dan sebagainya maka kedepannya dia pasti lebih cepat dalam beradaptasi...
Orang tua jangan pernah lelah untuk selalu membersamai, mendorong dan memberi semangat kepada anak2 sehingga mereka juga bisa lebih percaya diri
Sudah lebih dari 100 tahun falsafah ini di kemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro, hingga sekarang sering dituliskan atau dijadikan motto di dunia pendidikan.
ReplyDeleteBenar sekali bahwa pendidikan anak itu berlangsung tidak hanya di sekolah, rumah dan lingkungan adalah media pertama untuk mereka belajar atau menggali ilmu pengetahuan dasar, maka dari itu penting membangun pondasi awal yang baik di rumah agar kedepanya bisa lebih kuat.
Bener juga. Kadang banyak orang yang berpikir kelakuan anak yang sama dengan orang tuanya karena faktor keturunan. Tapi, sebenarnya anak mah melihat dan meniru apa yang mereka perhatikan sehari-hari.
ReplyDeleteWalaupun di sekolah ada guru dan perangkat sekolah lainnya, tapi memang peran utama orangtua dan rumah adalah yang paling penting. Sebab dari dua hal itu, anak pertama kali belajar mengenal, memahami dan menelaah sesuatu. Sehingga kalau dari rumah dan sekolahnya bisa baik, maka insyaAllah hasilnya pun baik saat bersekolah. Begitu juga sebaliknya.
ReplyDeleteSering kali kita keburu ngandelin sekolah, padahal pondasi karakter anak emang mulainya dari rumah.
ReplyDeleteKonsep penerapan filosofi Ki Hajar Dewantara per fase umur di artikel ini dapet banget poinnya. Paling kerasa pas fase remaja, memang kudu belajar pelan-pelan ngoper kendali ke anak dan kita ganti peran jadi sahabat biar mereka tetap nyaman cerita.
Pengingat yang adem banget di bagian akhir: anak nggak butuh orang tua yang sempurna, tapi yang mau terus hadir dan belajar bareng.
jujur ya kadang aku tu merasa minder banget kalau lihat ibu atau orang tua lain itu mendidik anak mereka. Ada yang sabar banget, ada yang kreatif banget dan ada yang anak mau apa ayo diusahakan. Tapi kemudian aku jadi ingat nasihat yang pernah aku baca kalau menjadi orang tua itu proses belajar seumur hidup dan kalau hari ini kita merasa gagal maka besok coba lagi karena anak-anak juga perlu orang tua yang tidak menyerah dalam membesarkan mereka
ReplyDeleteSepakat dengan tulisan Mbak. Sekolah itu sebenarnya pelengkap, fondasinya ada di rumah. dan orang tua adalah guru pertama dan utama, karena sejatinya proses belajar anak dimulai sejak dalam kandungan.
ReplyDeleteSaya setuju sekali ini. Rumah adalah sekolah pertama dalam kehidupan anak dan orang tua adalah gurunya. Maknya saat anak keluar rumah, akan terlihat jelas bagaimana bekal pendidikan yang dari rumah. Baik akhlak, moral dan lainnya. Jadi memang orang tua harus mmeberi contoh dan teladan bagi anak. termasuk penyemangat juga. Satu hal lagi, anak akan baik-baik saja dan bisa menyerap semua yang diberikan dengan baik, bila keadaan dalam rumah aman, nyaman, dan tenang.
ReplyDeleteTeori pendidikan dari Ki Hajar Dewantara “Ing ngarsa sung tuladha”, “ing madya mangun karsa” dan “tut wuri handayani” itu sesuai dengan apa yang dikatakan Sahabat Rasulullah sekaligus menantu nya yaitu Ali Bin Abi Thalib
ReplyDeleteFase dimana anak harus diperlakukan sebagai raja, tawanan dan teman
Children see, children do
ReplyDeleteYappp ortu adalah role model utk anak² dan memang harus diakui, mendidik dan membesarkan anak ternyata sama sekali bukan perkara gampiill.
Semangaatt utk kita semuaaaa
Salahnya orang tua zaman now tuh lebih menyerahkan ursan pendidikan anak ke sekolah. Padahal pendidikan anak saat awal harus berasal dari rumah, terutama dari orang tuanya.
ReplyDeleteSepakat banget sih kalo kehadiran orang tua dalam proses tumbuh kembang anak, khususnya pendidikan tuh sangat penting. Jgn sampe orang tua udh berangkat kerja saat anak msh tdr dan anak sudah tidur saat orang tua balik kerja.
Dulu itu dr TK - SMU kelas 2 aku di sekolah Tamansiswa cabang PT Arun, Aceh. Jadi 3 prinsip dasar Ki Hajar Dewantara memang dari kecil kami pelajari. Malah ada pelajaran khusus Tamansiswa waktu itu.
ReplyDeleteSayangnya Tut Wuri Handayani justru ga dijalankan oleh papaku. Mana boleh aku milih jurusan sendiri, Masuk kelas IPS pun dilarang, wajib IPA. Akhirnya aku ga terlalu semangat utk serius belajar 😅, dan lebih suka jauh dari ortu.
Makanya pas ada anak, aku ga mau ngelakuin kesalahan yg sama. Anak2 berhak memilih apa yg mereka suka, apa yg mereka mau pelajari, tp di satu sisi, aku dan suami harus bisa kasih contoh yg baik juga. Harus mampu fasilitasi apa keinginan mereka.
Udah ga jaman memaksa anak utk ikut aturan ortu secara buta. Jadi drpd nanti malah menjauh, lebih bagus aku KSH support dr belakang, selagi tidak melanggar norma agama dan sosial.
Setuju mbak, buat pendidikan anak tu yang seharusnya memegang peranan penting adalah keluarga, khususnya ortu.
ReplyDeleteNamun, belakangan banyak yang lupa tentang tanggung jawab ini dan menyerahkan semuanya ke institusi bernama sekolah.
Ortu keknya udah banyak yang berpuas diri ketika si anak udah masuk sekolah paling favorit, bayaran paling mahal, dll.
Udah serahkan aja gitu sama guru dan sekolah. Parahnya kalau ada apa2 ma anaknya malah menyalahkan sekolah.
Ngobrolin Ki Hajar Dewantara, filosofinya begitu bagus, tapi sayangnya di sini nggak tahu kenapa malah yang terkenal kek Montessori, Waldorf, dll ya?
Yaaa sebenarnya tidak keliru, tapi Ki Hajar Dewantara tentu saja lebih masuk nggak sih sama kondisi pendidikan kita?
Yaaa pokoknya tetep ya keluarga sebaiknya menjadi sistem no 1 buat mendidik anak. Menanamkan nilai2 yang baik dan budi luhur, jadi walau segonjang-ganjing apapun kondisi di luar sana, tetep bisa memegang teguh hal2 baik.
Kehadiran orang tua dalam setiap langkah kehidupan anaknya sangatlah penting Itulah kenapa dibutuhkan waktu dan usaha supaya selalu ada dalam kegiatan putra putrinya. Bisa memberi dukungan dan doa supaya bisa jadi orang berguna kelak
ReplyDeleteNah, iya aku sepakat banget Mbak. Kalau pendidikan anak itu di mulai dari rumah, pola asuh ortu sangat ngaruh. Jadi, nggak etis kalau hanya mengandalkan sekolah saja.
ReplyDeleteFilosofi Ki Hajar Dewantara memang masih relevan untuk pola pendidikan anak di rumah. Semoga para ortu menyadari kalau peran mereka dalam mendidik anak itu besar dan berdampak sekali pada prilaku dan pola pikir si anak.
Terima kasih pengingatnya ya, ternyata filosofi Ki Hajar Dewantara selalu relate dengan pola pengasuhan dan pendidikan anak di segala zaman.. orangtua harus mendampingi dan memberikan contoh untuk anak do berbagai fase hidup mereka..
ReplyDeleteMemang terbaik kok ajaran Ki Hajar Dewantara ini
ReplyDeletePengen banget mendidik anak sesuai ajaran Ki Hajar Dewantara ini
Mengalami sendirii sekarang, ka Aci.
ReplyDelete"Actions speak louder than words"
Karena apa yang anak-anak lihat, justru lebih membekas dan automatically mereka tiru daripada emaknya ngomel sampe berbusa.
Jadiii..
Kalau anaknya mau berubah, orangtuanya dulu yang berubah.
Beraatt yaah.. karena mendidik diri sendiri ini berarti melibatkan banyak hal.. seperti menyelesaikan masa lalu, membuat diri lebih berilmu dan belajar sabar serta berdoa.
Setuju banget kalo parenting ituuu.. dimulai dari kita memilih siapa pasangan kita.
Agar berlanjut ke langkah berikutnya dengan smoothly,,.
Relate banget karena kalau misalnya setiap apa yang kita lakuin langsung diikutin sama anak-anak.. Bener banget kata Ki Hajar Dewantara.. dan semestinya semua pendidik paham soal bagaimana mendukung dari belakang tanpa benar-benar mengambil alih semua tugas-tugas anak.
ReplyDelete