Pengalaman Pertama Nonton di CGV BEC Bandung

Friday, May 01, 2026



Halo, semua! 

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman menonton di CGV Bandung Electronic Center, atau yang lebih dikenal dengan sebutan BEC. Sebenarnya, saya sudah cukup sering datang ke BEC, mulai dari membeli ponsel, hard disk, hingga sekadar bermain di Game Master lalu dilanjutkan dengan makan-makan. Namun, selama ini saya belum pernah sekalipun mencoba menonton di bioskopnya.

Nah, pada hari Minggu, 12 April 2026, saya pun merasakan pengalaman menonton di CGV BEC untuk pertama kalinya. Momen ini bisa dibilang sebagai “comeback” saya ke bioskop setelah terakhir kali menonton pada tahun 2019, saat masih tinggal di Batam. Lama juga ya. Hampir tujuh tahun!

Jadi, ketika akhirnya kembali menginjakkan kaki di bioskop, rasanya benar-benar antusias. Apalagi ini juga pengalaman pertama saya menonton film Korea di layar lebar. Seru banget rasanya!

Seperti apa cerita saya hari itu? Simak sampai selesai, ya.


Bagaimana Ceritanya Bisa Nonton ke CGV BEC?

Ceritanya dimulai pada siang hari Kamis, 9 April 2026. Saat itu, saya melihat status WhatsApp salah satu wali murid di kelas anak sulung saya yang membagikan trailer film Korea berjudul The King's Warden. Dalam status tersebut, ia mencari teman untuk menonton. Tanpa pikir panjang, saya iseng saja membalas, “Yok!”

Poster The King's Warden

Dari situ, kami mulai merencanakan untuk menonton bersama di hari Minggu. Awalnya, kami ingin menonton di bioskop dekat rumah. Namun, sayangnya film yang ingin kami tonton tidak tayang di sana. Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, akhirnya kami memutuskan untuk menonton di CGV BEC. Selain lokasinya yang cukup strategis, pilihan jam tayangnya juga lebih awal dibandingkan bioskop lain, yaitu pukul 10.30 WIB.


Perjalanan Menuju CGV BEC

Hari Minggu itu, sejak pagi saya sudah bersiap bersama anak-anak. Sekitar pukul setengah sembilan, saya berangkat dari rumah menuju rumah mama mertua. Kebetulan, malam sebelumnya suami saya menginap di sana karena tidak bisa pulang setelah touring ke Purwakarta. Hujan deras dan banjir di mana-mana membuat perjalanan pulang jadi sulit, jadi saya memintanya untuk menginap di rumah mama saja.

Setelah sampai di rumah mama dan memastikan si bungsu tidak rewel bersama papanya, saya pun langsung meluncur ke Istana BEC menggunakan ojek online. Saya tiba sekitar pukul 09.45 WIB, dan suasana di pelataran sudah cukup ramai.

Nah, di sinilah kejadian konyol terjadi.

Dengan penuh percaya diri, saya langsung menarik pintu kaca menuju lobi. Tapi anehnya, pintu itu tidak bisa dibuka. Saya sempat bingung, apalagi ketika merasa beberapa orang mulai memperhatikan. Saya pun mencoba masuk lewat pintu lobi gedung lama, dan hasilnya sama saja, tetap tidak bisa dibuka.

Saat itulah saya melihat ponsel untuk membuka Whatsapp dan langsung membatin, “Ya ampun… kan belum pukul sepuluh. Pantas saja belum buka.”

Akhirnya saya mundur dan ikut menunggu di pinggir bersama pengunjung lainnya. Malu banget rasanya!

Pintunya baru dibuka
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Beberapa menit kemudian, tepat pukul sepuluh, pintu akhirnya dibuka. Saya pun langsung masuk dan menuju CGV. Tidak lupa, saya juga mengabari teman nonton saya hari itu. Ternyata, dia masih terjebak macet karena wilayah Bandung Selatan sedang dilanda banjir di banyak titik.

Sebelum masuk ke area CGV, saya menyempatkan diri ke toilet terlebih dahulu agar nanti bisa menonton dengan lebih tenang. Setelah itu, barulah saya masuk ke dalam CGV.


Akhirnya Masuk Bioskop lagi

Begitu memasuki area CGV, kesan pertama yang langsung terasa adalah perpaduan desain industrial yang hangat dan modern. Dinding bata ekspos dipadukan dengan besi-besi bercat hitam dan pencahayaan temaram menciptakan suasana yang nyaman, sekaligus estetik. Lampu-lampu gantung yang tersusun rapi di langit-langit memberikan nuansa cozy, membuat area ini lebih terasa seperti tempat nongkrong daripada bioskop.

Area duduknya pun didesain santai, dengan kursi besi berwarna merah dan abu-abu yang memberikan sentuhan kasual. Siang itu, area duduk di lobi masih kosong. Saya memilih satu kursi dan duduk menunggu di sana.

Area lobi CGV
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Saya sudah membeli tiket secara online melalui marketplace dengan harga Rp40.000 per orang, jadi tidak perlu membeli tiket lagi. Saya hanya sempat bertanya kepada petugas yang sedang membantu beberapa pengunjung membeli tiket dari mesin, apakah tiket perlu dicetak. Ternyata tidak perlu.

Sambil menunggu, saya mengamati sekitar terutama area Popcorn Zone yang ramai dan penuh warna. Berbagai pilihan makanan dan minuman terpajang dengan menarik, mulai dari popcorn klasik hingga minuman segar dan menu unik seperti “warung mie” khas CGV. Display menu digital yang cerah membuat pengunjung mudah memilih, sekaligus menggugah selera.

Popcorn Zone
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Suasana di area itu cukup ramai dibanding area lain di lobi. Beberapa orang mengantre, staf sibuk melayani, dan aroma popcorn menguar di udara. Khas bioskop banget! Namun, saya tidak membeli apapun karena saya kurang suka makan dan minum saat menonton di bioskop. Selain mengurangi fokus, saya juga takut jadi ingin ke toilet dan tertinggal filmnya.

Setelah beberapa menit berlalu, teman saya memberi kabar bahwa ia kemungkinan akan terlambat dan meminta saya masuk lebih dulu. Saya pun beranjak ke area bioskop bagian dalam, melewati lorong yang menampilkan film-film yang sedang tayang. 

Lorong menuju studio
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Sesampainya di depan studio, ternyata belum dibuka, jadi saya menunggu terlebih dahulu di ruang tunggu yang ada di depan studio. Desainnya mirip dengan lobi di depan, tetapi kursinya lebih banyak dan suasananya lebih ramai.

Ruang tunggu dalam
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Kurang lebih 10 menit kemudian, pintu studio 5 tempat saya menonton dibuka, dan saya pun masuk ke dalam.

Anehnya, sejak masuk area bioskop hingga ke dalam studio, tidak ada pemeriksaan apa pun, bahkan tiket pun tidak dicek. Saya sempat berpikir, bagaimana kalau ada penonton “gelap” yang masuk tanpa membeli tiket? Sepertinya tidak akan ketahuan.

Teman saya yang datang terlambat pun tidak mengalami pemeriksaan apa-apa. Bahkan, tidak ada petugas yang mengantar penonton ke kursi dengan senter seperti dulu. Alhasil, teman saya harus mencari kursinya sendiri dengan bantuan cahaya dari ponsel.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah semua CGV memang seperti ini sekarang, atau hanya di sini saja?


Kualitas Studio CGV BEC

Studio 5 tempat saya menonton terlihat cukup bersih dan tertata rapi. Meskipun tidak terlalu besar, suasananya terasa nyaman dan tidak sumpek.

Kursinya berwarna merah, empuk, dan cukup nyaman untuk menonton dalam durasi yang panjang. Jarak antar kursi juga cukup lega, sehingga tidak terlalu khawatir mengganggu penonton di depan saat ingin bergerak. Saat itu, saya memilih tempat duduk di deretan D, dekat dengan lorong, karena terasa lebih leluasa.

Pertama kali nonton film Korea di layar lebar
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Dari segi visual, layar yang digunakan cukup jernih dengan ukuran yang proporsional. Ditambah dengan kualitas suara yang baik, pengalaman menonton terasa lebih hidup. Apalagi ini pertama kalinya saya menonton film Korea di bioskop. Rasanya berbeda dibandingkan menonton di rumah.

Selama film berlangsung, suasana studio cukup kondusif. Penonton lain terlihat menikmati film dengan tenang. Secara keseluruhan, tidak ada gangguan berarti.

Satu hal yang cukup terasa adalah suhu ruangan yang dingin, khas bioskop pada umumnya. Di tengah-tengah film, saya sampai harus mengenakan jaket. Jadi, buat kalian yang tidak tahan dingin, sebaiknya membawa jaket agar tetap nyaman selama menonton.


Makan Siang Ayam Betutu dan Iga

Usai menonton, kami salat zuhur terlebih dahulu di musala yang berada dekat bioskop. Setelah itu, kami memutuskan untuk makan siang sebelum pulang. Kami pun menuju food court yang terletak satu lantai di bawah CGV.

Setelah berkeliling, saya menjatuhkan pilihan pada gerai Nasi Campur Bali. Sudah lama sekali saya tidak makan ayam betutu dan sate lilit. Apalagi melihat tulisan halal, saya jadi semakin tergoda.

Gerai Nasi Campur Bali
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Hari itu, saya memesan ayam betutu kuah komplit dan sebotol air mineral. Sementara itu, teman saya memesan nasi iga dari gerai yang bersebelahan dengan gerai Nasi Campur Bali.

Setelah memesan, kami mencari kursi kosong lalu membayar pesanan ke kasir. Sambil menunggu makanan, kami mengobrol santai dan tak lupa berfoto sebagai kenang-kenangan.

Tak lama, pager yang saya terima saat memesan berbunyi. Saya pun mengambil makanan ke gerainya. Saat melihat porsinya, saya sedikit terkejut.

“Wah, besar banget porsinya,” ujar saya kepada teman begitu sampai di meja.

Satu porsi ayam betutu kuah komplit terdiri dari sepotong ayam betutu, sate lilit, telur berbumbu, tahu goreng, sayuran khas seperti urap Bali, sambal, dan kerupuk. Dari segi rasa, menurut saya cukup enak. Namun, jika dibandingkan dengan ayam betutu dan sate lilit langganan saya di Bali dulu, tentu masih kalah. Jadi kangen Nasi Ayam Bu Oki. Kapan ya bisa ke Bali lagi? Eh, kok jadi melantur, ya, hahaha…

Satu porsi ayam betutu kuah komplit
(Sumber: dokumentasi pribadi)

Setelah memfoto-foto makanan milik saya, pesanan teman saya juga datang. Kami pun makan bersama sambil sesekali mengobrol tentang berbagai hal. Tanpa terasa, waktu sudah hampir pukul dua siang saat kami selesai makan.

Karena saya berencana pulang dari rumah mama setelah salat asar, dengan berat hati kami mengakhiri jalan-jalan hari itu.

Kami kemudian mencari lift untuk turun. Saya turun di lantai dasar, sementara teman saya melanjutkan ke area parkir di basement. Setelah keluar dari BEC, saya memesan ojek online untuk kembali ke rumah mama.


Penutup: Worth It Nggak?

Secara keseluruhan, pengalaman menonton di CGV BEC ini sangat menyenangkan. Selain tempatnya nyaman, harganya juga cukup terjangkau.

Ditambah lagi, bisa menonton film yang menarik sambil menghabiskan waktu bersama teman baru membuat pengalaman ini semakin berkesan. Rasanya, setelah ini saya jadi ingin lebih sering menyempatkan waktu untuk menonton di bioskop.

Untuk kamu yang penasaran dengan filmnya, saya akan menuliskan review The King’s Warden di artikel terpisah agar pembahasannya bisa lebih lengkap dan mendalam.

Kalau kamu mencari informasi seputar film dan tontonan lainnya, kamu juga bisa menemukan banyak cerita menarik dari para blogger film Bandung, termasuk blogger ravahlevi yang sering membagikan sudut pandang unik tentang dunia film dan hiburan.


Bandung, 1 Mei 2026

Pukul 21.12 WIB

You Might Also Like

0 komentar