Hidup Tak Harus Selalu Diisi Hal Besar untuk Terasa Berarti
February 02, 2026Sejak punya anak, saya sudah tidak lagi menganggap pergantian tahun sebagai sesuatu yang istimewa. Tidak ada rencana apa pun, tidak ada agenda berkumpul dengan siapa pun, apalagi begadang menunggu detik-detik pergantian tahun. Tahun kemarin pun sama saja, kami memilih menghabiskan malam terakhir tahun 2025 di rumah saja dengan kegiatan yang sama dengan hari-hari biasa.
Anak-anak tetap tidur sebelum pukul sembilan malam. Saya menyusul sekitar pukul sepuluh, setelah menonton satu episode drama Korea. Me time sejenak di sela rutinitas mengurus rumah, membersamai anak-anak, jadi partner suami, dan belajar menjadi content writer. Saya bahkan tidak mendengar suara terompet atau riuh kembang api saat tengah malam. Entah memang lingkungan sekitar sedang sepi, atau saya yang terlalu pulas sampai tak mendengar apa pun. Yang jelas, pergantian tahun lewat begitu saja, nyaris tanpa terasa.
Pagi Pertama di Tahun Baru: Berkebun dan Merapikan Taman
Tanggal 1 Januari 2026 dimulai dengan cuaca yang sedikit mendung. Kami pun ragu-ragu untuk keluar rumah. Padahal pagi hari di awal tahun adalah saat yang cocok untuk berjalan-jalan. Biasanya lalu lintas sepi karena sebagian besar orang lebih memilih bangun siang atau istirahat di rumah setelah menikmati malam pergantian tahun. Tapi karena takut hujan, kami memutuskan di rumah saja dan memulai hari dengan berkebun.
Fokus utama pagi itu adalah merapikan taman depan rumah. Beberapa tanaman sudah terlihat perlu perhatian lebih. Ada yang potnya terasa terlalu sempit, ada yang tanahnya mulai keras, dan ada pula yang daunnya perlu dirapikan. Saya mulai dengan repotting pada beberapa tanaman, memindahkannya dari pot lama ke pot baru yang lebih besar, sambil mengganti dan menambah media tanam. Saya pun membongkar pot-pot kompos hasil olahan sendiri untuk digunakan sebagai campuran media tanam baru.
Baca juga: Tiga Puluh Delapan Tahun dan Segala Cerita yang Mengiringinya
Sementara saya sibuk dengan tanaman, suami memotong rumput yang sudah mulai tinggi, sedangkan si sulung dan si bungsu bermain bola di jalan depan rumah. Jalan depan memang sepi, tapi anak-anak tetap harus diawasi karena sesekali masih ada kendaraan yang lewat. Setelah suami selesai memotong rumput dan bergabung main bola dengan anak-anak, giliran saya merapikan sisa tanaman lain kemudian menyiramnya.
Berkebun dan beraktivitas di pagi hari memang menyenangkan. Apalagi cuaca mendung, jadi tidak ada panas menyengat. Melihat taman yang sudah lebih rapi dan anak-anak yang bermain dengan ceria, rasa syukur diam-diam menelisik. Ya Allah, terima kasih untuk awal tahun yang indah ini.
Makan Siang di Bebek Om Aris Buah Batu
Menjelang siang, cuaca sedikit lebih cerah. Saya pun mengajak suami dan anak-anak untuk makan siang di luar. Kebetulan saya sudah lama tidak makan bebek, jadi seusai salat Zuhur, kami berangkat menuju Bebek Om Aris Buah Batu. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah, tidak sampai 10 menit sudah sampai. Apalagi jalanan lengang, tepat seperti dugaan saya. Jarang-jarang Jalan Terusan Buah Batu selancar itu. Biasanya macet terus!
Begitu sampai di lokasi, kami memesan dua paket menu. Yang pertama adalah Paket Romantis, terdiri dari satu ekor bebek ukuran medium, dua nasi putih, dan dua es teh manis. Paket kedua adalah paket ayam dada goreng, yang berisi satu potong ayam goreng, satu nasi putih, dan satu es teh manis. Kedua paket tersebut sudah termasuk sambal dan lalapan yang bisa ditambah sepuasnya. Selain itu saya juga menambah sepiring nasi putih untuk si bungsu.
Saat hendak memesan air mineral, ternyata stoknya sedang habis. Akhirnya, setelah memilih tempat duduk di lantai dua, saya keluar sebentar untuk membeli air mineral di minimarket terdekat. Sambil mengantre di kasir, saya sempat mengecek ponsel dan melihat unggahan status WhatsApp seorang kawan yang berprofesi sebagai SEO content writer. Di hari libur begini pun, dia terlihat masih sangat produktif berkarya.
![]() |
| Pesanan siang itu, minus nasi putih milik si bungsu (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Begitu kembali ke tempat makan, ternyata pesanan sudah dihidangkan. Si sulung bahkan sudah mulai lahap menyantap ayam dan nasi miliknya. Saya pun segera bergabung dan makan sambil menyuapi si bungsu. Dia sangat suka bagian kriuk dari bebeknya. Saya coba suapi bagian dagingnya pun dia mau. Tumben sekali, biasanya dia agak sulit makan protein hewani.
Rasa makanan di sini cukup memuaskan. Bebek gorengnya empuk, tidak alot, dan tidak berbau, dengan bagian luar yang sedikit renyah saat digigit. Bumbunya terasa pas, apalagi dipadu dengan timun, kemangi segar, dan sambal. Ada dua macam sambal yang disediakan: satu pedas sedang dan satu lagi lebih pedas.
![]() |
| Si sulung makan dengan lahap (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Ayam gorengnya pun tidak kalah enak. Dagingnya empuk, padahal bagian dada, dan bumbunya meresap sampai ke dalam. Kami sekeluarga makan dengan lahap. Si sulung berkali-kali memuji rasa ayamnya, meskipun untuk bebek, dia kurang suka karena menurutnya teksturnya aneh. Akhirnya saya dan suami yang menghabiskan bebek itu. Duh, kolesterol!
Meski tempatnya tergolong sederhana, kualitas makanannya tidak mengecewakan. Apalagi harganya juga lumayan terjangkau. Untuk semua pesanan itu, saya membayar tidak sampai Rp150.000. Pasti saya akan kembali lagi ke sana suatu hari nanti.
Nyaris Kehabisan Ayam Panggang Superindo
Setelah makan siang, kami memutuskan untuk pergi ke Superindo. Tujuan utamanya adalah membeli ayam panggang untuk lauk makan malam. Jadi tidak perlu memasak lagi di rumah. Nasi juga masih ada sisa tadi pagi.
Begitu sampai, saya langsung menuju tempat ayam panggang. Namun, entah kenapa tiba-tiba saya berpikir untuk membelinya nanti saja sesaat sebelum pulang supaya tetap hangat. Saya dan si sulung pun melipir ke bagian yogurt dan buah. Untungnya, si bungsu mengajak suami tetap berada di dekat sana untuk melihat ikan yang bersebelahan dengan panggangan ayam.
Ternyata insting suami lebih kuat. Dia menyadari ayam panggangnya tinggal dua ekor saat mendengar seorang ibu bertanya pada petugas. Begitu ibu tersebut mengambil satu, suami segera mengamankan satu ekor sisanya untuk kami. Alhamdulillah masih kebagian.
![]() |
| Superindo siang itu (Sumber: dokumentasi pribadi) |
Tanpa terasa, kurang lebih satu jam kami berkeliling di dalam Superindo dan keranjang belanja pun semakin penuh. Seperti yang sering terjadi, daftar belanjaan memang suka bertambah dari rencana awal. Tapi bagi saya tidak masalah, yang penting tujuan utama mendapatkan ayam panggang sudah terpenuhi, sisanya kami anggap bonus karena barang-barang tersebut memang tetap dibutuhkan untuk stok di rumah.
Begitu kami melangkah keluar dari Superindo, bau tanah basah mulai tercium dan gerimis tipis menyambut. Kami pun bergegas. Untungnya, jarak supermarket dan rumah cukup dekat. Kurang dari sepuluh menit kami sudah sampai di rumah lagi.
Saat kami semua sudah duduk santai di dalam rumah, hujan deras pun turun. Pengertian sekali hujannya. Akhirnya sisa hari itu kami habiskan dengan bersantai, dan ayam panggang dari Superindo pun sukses menjadi menu makan malam yang hangat.
Awal Tahun yang Tenang dan Penuh Rasa Syukur
Hari pertama di tahun 2026 berakhir dengan tenang. Tidak ada perjalanan jauh, tidak ada perayaan mewah. Namun, justru dari hal-hal sederhana itulah muncul rasa syukur yang mendalam.
Bisa tidur cukup, bangun dengan sehat, berkebun di pagi hari, makan enak, belanja kebutuhan dan menikmati quality time bersama keluarga adalah anugerah yang tak tergantikan. Mengawali tahun dengan ritme pelan seperti ini membuat saya berpikir bahwa hidup tidak harus selalu diisi dengan hal-hal besar untuk terasa berarti.
Bandung, 11 Januari 2026
Pukul 20.30 WIB
.png)




22 komentar
Alhamdulillah, awal tahun baru yang menyenangkan ya... Semoga tahun ini penuh keberkahan dan manfaat...
ReplyDeleteJadi ingat awal tahun baru kemarin itu saya dan suami menghadiri resepsi pernikahan ke ujung dunia. Haha, berasa mendaki karena lokasinya ke gunung. Mana cuaca buruk.
Alhamdulillah bisa pulang pergi selamat
Alhamdulillah...kadang berkat2 kecil seperti ini sering luput dr perhatian ya mbaa padahal sebenarnya ada banyak yg bisa kita syukuri setiap harinya...
ReplyDeleteAku sendiri malam.pergantian tahun juga tidur cepat mba sekitar jam 9 ato 10 nyenyak sampe pagi nyaa...
Aaa aku penasaran ini sama rasa ayam panggang superindo..setiao kali kesana pasti ada banyak menu ayam ikan bahkan kulitvhoreng taip mo beli kok ragu2 enak gak ya...tp setelah baca ini rasanya nanti klo kesana fixed aku bakal.beli 😁
cerita ini rasanya membuat jiwa saya adem banget, seperti mencium aroma tanah setelah hujan. Saya setuju, bahagia itu tidak harus selalu tentang pesta kembang api yang riuh.
ReplyDeleteMomen sederhana seperti "menyelamatkan" ayam panggang terakhir atau sekadar melihat anak-anak main bola di depan rumah justru jadi memori yang hangat. Terima kasih sudah berbagi pengingat kalau hidup yang pelan pun bisa sangat bermakna. Sehat selalu untuk keluarga
Seiring berjalannya usia, sikap bijak kita jadi lebih terarah, ya. Saya pun dan keluarga sama di tim yang malam tahun baru tidak aktivitas spesial, apalagi sampai meniup terompet dan menyalakan kembang api tengah malam. Tidur lebih awal untuk istirahat berkualitas kayanya menjadi pilihan yang lebih arif.
ReplyDeleteKadang hal-hal yang sepertinya kecil dan receh di keluarga kita justru itu yang membuat suasana lebih damai. Quality time bersama tanpa harus mengikuti arus sepertinya memang lebih prioritas
Aku juga sekian tahun belakangan (rasanya >10 tahun) sudah menganggap malam pergantian tahun ya sama kayak malam biasa. Apalagi aku orangnya ngantukan. Jam 9 udah tidur haha. Di hari pertama tahun baru pun pinginnya di rumah aja sebab jalanan luar biasa macet kayak semua orang tumplek di mal/pusat wisata.
ReplyDeleteDan ya, hidup dengan hal-hal sederhana, spontan atau hal-hal kecil yang jarang atau sudah lama tak dilakukan bisa menjadi asupan energi tersendiri ^^ kayak aku sekarang, mulai latihan nulis cerpen lagi (padahal zaman sekolah dulu rajin), dan tiap kali cerpennya selesai, ada perasaan bahagia yang beda banget :D
Baca ini tuh hangaatt deh mbak. Kayak begini lah memang kehidupan keluarga sehari-hari tuh ya. Beraktivitas bersama pagi hari, terus siangnya kadang impulsif ke mana, ditutup dengan belanja bulanan. Sederhana, tapi terasa heartwarming.
ReplyDeleteSetuju dengan judulnya juga aku, hidup itu gak harus selalu diisi hal yang besar. Selama kita merasa cukup, dan insyaAllah hidup sudah tenang, kita udah kayak menemukan peran aja dalam hidup gitu yaa.
Hal yang sama pun terjadi padaku mbak. Jangankan tahun baru, bahkan ulang tahunku saja pantang sekali lho daku merayakan besar-besaran. Paling ya makan2 sederhana saja sama keluarga, sudah.. itu lebih dari cukup.
ReplyDeleteSeiring bertambah usia, aku gak lagi mendambakan dan mengupayakan hal-hal besar. Gak demen lagi sama hal-hal utopis, dan mencintai hal sederhana. Jalan2 pun seringnya yang sederhana saja, di dekat rumah. Yang terpenting masih bersama keluarga tercinta saja.
Nyes, suka dengan artikelnya. Hidup tidak harus diisi dengan hal besar, dengan melakukan banyak hal kecil tetapi berdampak dan emmbahagiakan kita kenapa tidak. Bahagia itu sederhana bukan. Saya pun semakin ke sini semakin merasakannya. Hal yang besar seakan susah untuk dilakukan, tetapi dengan melakukan hal kecil dan konsisiten justru lebih mudah dan membuatku lebih bahagia
ReplyDeletePada akhirnya hal kecillah yang memberi ruang tenang. Aku membayangkan bangun tidur bertemu matahari dan berkebun, itu sesuatu yang di musim ini yang selalu hujan, matahari terasa mahal.
ReplyDeleteMenikmati alam walaupun hanya berkebun dan bersama keluarga itu-pun sesuatu yang sangat berharga. Buatku itu hal besar. Karena ditengah tuntutan kehidupan, terhubung dengan alam dan sesama dengan tulus itu tidak mudah.
setuju dengan judulnya kak, happiness is simple :D
ReplyDeleteTosssss mbaaa. Kalau zaman usia 20-30an aku msh rela tuh melek Ampe THN baru, bahkan nekad ke bandung, trus terjebak di tengah jalan tol, saking ga bisa jalan, stuck. Semua orang ke bandung ternyata hahahahah.
ReplyDeleteNgerayain di bundaran HI, sesak napas Krn rame bangetttt, trus baru bisa kluar dari parkiran mobil di GI jam 4 subuh.
Udh cukuuuup hahahahhaa. Skr aku mentingin kesehatan. Jadi buatku THN baru sama aja kayak hari lain. Ga ada istimewanya. Malah agak sedih, Krn usia makin tua...
Syukurlah tahun baru dibuka dengan kelancaran mbak Asrii.
ReplyDeleteMulai dari kegiatan repotting taneman sampe berburu ayam panggangnya.
Kayaknya kita nggak jauh beda mbak kalau masalah belanja ke supermarket. Tiap bikin daftar, kadang nggak match sama daftarnya. Beberapa kali karena barangnya nggak ada, saya dan suami pulang² bawa bontotan yang nggak ada di daftar. Apalagi kalau lagi ada sale di supermarket. Hehehe..
Dan awal tahun saya justru belajar dari Mbak Asri, kalau semua rencana tidak akan berhasil tanpa AKSI. Meski aksinya, seringkali berputar dulu.. 🥰🥰
Barakallah mbak, aku bacanya pun sambil senyum penuh syukur. Benar adanya, hidup nggak melulu harus wah banget. Kadang hal-hal sederhana pun kalau dinikmati dengan sepenuh hati, rasanya sangat membahagiakan. Aku sedari kecil sampai 30 an kayak sekarang, jujur nggak suka hingar bingar malam tahun baru.
ReplyDeleteBagi ku dan keluarga, lebih suka menjalani malam pergantian tahun dengan muhasabah diri dan tidur awal supaya besoknya bisa bangun pagi dan menjalani keseharian secara sehat.
Alhamdulillah, mbak bisa quality time sama keluarga tercinta. Seneng sekali, semoga nanti aku pun bisa merasakan ada di fase menjadi ibu dan bepergian sama keluarga.
Setuju loh mbak Asri kita kadang-kadang memang terlalu fokus dengan hal-hal besar yang amat sangat berarti padahal hal-hal kecil dalam hidup pun tidak kalah pentingnya dengan hal-hal besar tersebut sehingga kadang kita suka luput. Justru Kalau tidak ada hal-hal kecil seperti itu hidup jadi kurang bermakna karena kita lelah mengejar yang besar-besar saja padahal semua ukurannya pun pertama pentingnya dalam kehidupan
ReplyDeleteSama, Mbak Asri. Saya pun sekarang menghadapi tahun baru biasa saja. Sama kayak malam biasa. Bahkan tidak resolusi. Saya biarkan semua mengalir saja apa adanya hehehe. Dan aktivitas Mbak Asri dan keluarga sangat menyenangkan di awal tahun ya Mbak. Pagi diisi dengan berkebun dan merapikan tanaman. Siang jalan makan bareng keluarga. Malam hari sudah ada lauk ayam panggang. Untung suami gercap mengamankan 1 ekor. Jadi lauk buat makan malam aman jaya.
ReplyDeleteSeneng baca kisahnya Kak Asri, soalnya ada momen kerjasama ciamik antara suami istri. Dari soal menanam dan cabut rumput. Hingga yang pas beli ayam, gercep banget itu suaminya Kak Asri langsung beli, kalau nggak kan alias meleng dikit bisa gak kebagian hehe
ReplyDeleteAku juga dari dulu nggak pernah ada perayaan pas tahun baru. Keluarga lain mungkin pada bikin barbeque dan kami juga masak barbeque buat makan malam habis itu tidur kayak biasa anak-anak nggak nungguin jam 12 malam
ReplyDelete5 tahun baru kebelakang aku merayakan ultah suamiku ka hehe, beliau lahir tepat tanggal 1 Januari jadi cukup dirumah tadinya berdua alhamdulillah bertiga ngerayain kecill2 an aja sih , yg penting hikmat
ReplyDeleteAwal 2026 ini menurutku agak cukup melenceng jauh di luar rencana. Karena walau awalnya memang sempat liburan, tapi langsung pulang dan harus memantau perkembangan baby El yang diterapi zat besi. Jadi kami memutuskan untuk stay terus di Bandung. Padahal udah rencana mau les renang di Serpong dan sebagainya sebelum Ramadan. Betul sih kak, semua gak harus selalu diisi hal besar. Dan buatku, agar stay waras, gak semua harus dingototin..
ReplyDeletePerjalanan-perjalanan kecil penuh makna ya mba Asri,meskipun hanya di dalam kota saja sambil kulineran sambil belanja,,,,tetap nikmat dan seru. Apalagi sambil ngasuh anak-anak, sayaa aja yang anaknya sudah besar kaalu ngasuh mereka ke kulineran dan belanja seneng banget apalagi si kecil yaa. Sehat selalu mba Asrie.
ReplyDeleteHihihi kami juga nggak terlalu merayakan tahun baru mbak. Biasnaya dah bobo, memastikan bleky si kucing dah di rumah. Soalnya walau komplek rumahku sepi, tapi di luar tu ada aja yang nyalain petasan, capek aku tu denger petasan huhu.
ReplyDeleteTahun baru kemarin lupa ke mana yaaa, keknya malah nggak ke mana2 haha, semager itu kami. Paling males masak dan gofud2 aja :D
Aduh itu bebek menyala syekaleeeee, jadi pengen deh membebek pagi2 gini haha. Mana porsinya gede dan harganya ramah kantong. Kalau di deket rumah sini bebeknya porsinya pelit2 huhu.
Setuju mbak, walau tahun baruan kyk di rumah aja, tapi banyak hal bisa disyukuri ya, karena keluarga masih lengkap utuh sehat semua. Masih bisa makan enak, mau belanja ada duitnya. Alhamdulillah :D
Namanya awal tahun biasanya ramai dengan pesta makan-makan tetus turun ke jalan, bakar petasan dan kembang api. Padahal bisa juga ya dilakukan secara sederhana, kumpul bareng keluarga dengan doa bersama jadi lebih bermanfaat sih
ReplyDelete