Impian Menjelajah Kalimantan, Lebih dari Sekadar Liburan

January 19, 2026


Kalimantan adalah salah satu pulau yang ingin saya kunjungi. Entah sejak kapan keinginan untuk pergi ke Kalimantan itu muncul. Mungkin sejak mengenal suami dan sering mendengar ceritanya tentang kota-kota di sana. Apalagi ditambah cerita dari Mama dan Papa mertua tiap kali pulang dari kunjungan mereka ke sana, semua itu membuat rasa penasaran saya semakin membuncah.

Pulau seribu sungai itu adalah kampung halaman Papa mertua. Saya masih ingat kisah tentang sungai besar yang mengalir dekat rumahnya. Tentang bagaimana beliau dulu berenang di sungai, menangkap ikan, dan menghabiskan masa kecilnya dengan bermain air. Semuanya terasa seru. Jadi, keinginan saya untuk pergi ke Kalimantan bukan sekadar untuk berwisata, tapi lebih terasa seperti pulang kampung, meskipun saya belum pernah ke sana.

Selain Sampit, Banjarmasin juga masuk dalam daftar kota yang ingin dikunjungi. Di kota itulah Papa mertua menghabiskan masa remajanya. Merantau sambil bersekolah, tinggal jauh dari orang tua, dan belajar hidup mandiri. Setiap kali Mama dan Papa berkunjung ke Kalimantan, mereka hampir selalu menyempatkan singgah ke Banjarmasin. Mengunjungi saudara, bernostalgia, dan tentu saja mampir ke pasar terapung yang ikonik.


Sampit dan Banjarmasin, Dua Kota yang Ingin Dikunjungi

Sampit dan Banjarmasin berada di dua provinsi yang berbeda. Sampit terletak di Kalimantan Tengah, sementara Banjarmasin merupakan ibu kota Kalimantan Selatan. Jarak keduanya memang tidak bisa dibilang dekat, tetapi masih memungkinkan untuk dikunjungi dalam satu rangkaian perjalanan jika direncanakan dengan baik.

Sampit dikenal sebagai kota pelabuhan dan salah satu pusat ekonomi di Kalimantan Tengah. Suasananya mungkin tidak seramai kota besar di Jawa, tetapi justru itu yang membuat saya penasaran. Apalagi di sana masih ada rumah almarhum Kai dan Nini dari suami (Bapak dan Ibu dari Papa mertua). Meski rumah itu sudah lama tidak dihuni, saya ingin melihat langsung rumah panggung dari kayu yang selama ini hanya saya dengar dari cerita.

Pasar Terapung Banjarmasin
(Sumber: Google Maps Chandra Suprajiwo)

Berbeda dengan Sampit, Banjarmasin menawarkan suasana yang lebih semarak. Aktivitas sungai menjadi denyut nadi kota. Melihat langsung pasar terapung adalah impian saya sejak lama. Cerita mertua tentang aneka jajanan yang dijual di sepanjang sungai, juga keseruan berbelanja dari perahu, membuat saya makin tidak sabar untuk berkunjung. Ditambah kelezatan kue bingka yang sering dibawa sebagai oleh-oleh, rasanya saya ingin membelinya secara langsung dan memakannya hangat-hangat di pinggir sungai.


Banjarmasin dan IKN, Dekat atau Tidak?

Selain dua kota di atas, jika ke Kalimantan saya juga ingin berkunjung ke Balikpapan dan Ibu Kota Nusantara (IKN) karena kalau sudah ke Kalimantan, rasanya sayang kalau tidak sekalian menjelajah kota lain yang juga menarik. Pertanyaan adalah: apakah Sampit dan Banjarmasin cukup dekat dengan Balikpapan dan IKN?

Secara geografis, Sampit, Banjarmasin, Balikpapan dan IKN memang berada di pulau yang sama, tetapi di provinsi yang berbeda. Jaraknya tidak bisa dibilang dekat seperti antar kota di Jawa, namun tetap memungkinkan untuk ditempuh, baik melalui jalur darat maupun udara. Banyak wisatawan yang mengombinasikan kunjungan ke Banjarmasin dan Balikpapan dalam satu perjalanan, terutama jika memiliki waktu liburan yang cukup panjang.

Ibu Kota Nusantara
(Sumber: Instagram @ikn_id)

Balikpapan sendiri dikenal sebagai salah satu kota besar di Kalimantan Timur, dengan infrastruktur yang cukup lengkap dan akses yang relatif mudah. Kota ini sering menjadi pintu masuk menuju berbagai destinasi lain di Kalimantan, termasuk IKN karena setahu saya bandara IKN belum dibuka untuk umum.

Siapa tahu, kalau nanti benar-benar jadi ke Sampit dan Banjarmasin, perjalanan bisa dilanjutkan ke Balikpapan serta IKN. Apalagi setelah membaca rekomendasi wisata di IKN dari seorang travel blogger Balikpapan. Rasanya menarik membayangkan menyusun rute perjalanan berdasarkan pengalaman orang-orang yang sudah lebih dulu menjelajah kota tersebut.


Membayangkan Liburan di Kalimantan yang Panas

Satu hal yang hampir selalu disebut ketika membahas Kalimantan adalah cuacanya yang panas. Matahari terasa lebih terik, udara lembap, dan aktivitas luar ruangan bisa cepat menguras tenaga jika tidak dipersiapkan dengan baik.

Karena itu, sebelum bertandang ke Kalimantan, selain memikirkan tiket dan penginapan, kenyamanan tubuh juga perlu menjadi perhatian. Terutama jika perjalanan melibatkan anak-anak dan banyak aktivitas di luar ruangan.

Memilih pakaian berbahan ringan, menyerap keringat, dan berwarna terang bisa membantu mengurangi rasa gerah. Topi, kacamata hitam, dan payung lipat juga sering direkomendasikan sebagai perlindungan tambahan dari sinar matahari.

Rekomendasi outfit
(Sumber: AI Gemini)

Selain itu, menjaga kondisi tubuh tetap fit juga penting. Membawa vitamin, minum air putih yang cukup, serta tidak memaksakan aktivitas bisa membuat perjalanan terasa lebih nyaman. Skincare pun tak boleh dilupakan. Saya tentu tidak ingin pulang liburan dengan kulit terbakar atau mengalami masalah kulit lainnya.

Salah satu “alat tempur” yang wajib dibawa adalah sunscreen. Paparan sinar matahari di Kalimantan tidak bisa dianggap sepele. Menggunakan sunscreen dengan perlindungan yang cukup menjadi langkah dasar untuk menjaga kulit tetap nyaman selama perjalanan.

Salah satu beauty blogger Balikpapan pernah membagikan tips bahwa saat traveling di daerah panas, sebaiknya menggunakan sunscreen dengan minimal SPF 30. Selain itu, pastikan juga kalau produk yang digunakan cepat menyerap dan tidak lengket sehingga tidak mengganggu aktivitas. Penggunaan sunscreen juga sebaiknya tidak hanya sekali di pagi hari. Reapply secara berkala, terutama setelah banyak berkeringat atau terkena air, menjadi kunci agar perlindungan tetap optimal.


Perjalanan yang Lebih dari Sekadar Liburan

Berawal dari cerita dan nostalgia, keinginan mengunjungi Kalimantan perlahan menjelma menjadi sebuah harapan. Harapan agar suatu hari nanti, saya benar-benar bisa menginjakkan kaki di sana. Menyusuri kota-kota yang selama ini hanya saya kenal lewat cerita, dan melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, perjalanan ke Kalimantan bukan hanya sekedar liburan, tapi juga perjalanan untuk mengenal akar, bagaimanapun, anak-anak saya “mewarisi” darah Kalimantan dari Kai-nya. Semoga keinginan ini tidak hanya berhenti sebagai rencana di kepala dan tulisan di blog, tetapi benar-benar terwujud di waktu yang tepat.


Bandung, 10 Januari 2026

17.10 WIB

You Might Also Like

0 komentar