Pesona Desa Punten Kota Wisata Batu

April 07, 2020



Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai taulanku

Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai

Mendengar lagu itu ingatan saya otomatis melayang pada sebuah desa penuh pesona yang telah menjadi tempat tinggal keluarga saya selama belasan tahun (2002-sekarang). Desa tersebut bernama Desa Punten. Kepindahan saya ke desa ini dikerenakan ibu saya yang di mutasi kerja ke Wilayah Kota Batu. Tepatnya Kecamatan Bumiaji dan kebetulan kantor pertamanya berlokasi di Desa Punten ini.


Desa Punten terletak di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur. Desa Punten adalah salah satu desa yang cukup maju di Kota Batu. Kehidupan di desa ini terbilang ramai jika dibandingkan desa sekitarnya. Mungkin karena terdapat hotel berbintang (Salah satu yang terbesar adalah Hotel Purnama) dan penginapan-penginapan lain yang menjadi akomodasi wisatawan saat liburan. Mencari tempat makan pun mudah disini, mulai dari restoran hingga warung tenda bisa ditemukan di sepanjang Jalan Raya Punten ini, salah satunya yang terkenal adalah Waroeng Bamboe Lesehan Sidomulyo. Walaupun tertulis Sidomulyo di namanya, yang merupakan desa tetangga dari Desa Punten, namun secara lokasi tempat makan ini masih berada di wilayah Desa Punten.

Lokasi Desa Punten ini berdekatan dengan Taman Rekreasi Selecta dan Coban Talun yang terletak di Desa Tulungrejo, salah satu desa yang juga berbatasan langsung dengan desa Punten. Alam yang subur serta dekat dengan lokasi wisata unggulan Kota Batu pada masanya (sebelum Jatim Park Group ada), sepertinya menjadi pendorong Desa Punten ini bisa lebih maju dibanding desa lainnya. Apalagi sejak beberapa tahun lalu Desa Punten juga mulai mengembangkan wisatanya sendiri, salah satunya adalah Kampung Wisata Kungkuk, dimana pengunjung bisa menikmati hutan pinus sambil melakukan  outbound, berkuda, memetik buah dan lain sebagainya.


Kampung Wisata Kungkuk
Sumber : Instagram @kampungkungkuk
Penduduk Desa Punten sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Adapun jenis tanaman yang paling banyak dibudidayakan di wilayah ini adalah apel, jeruk, bunga dan tanaman hias serta sayuran. Berjalan-jalan menikmati perkebunan adalah hal yang paling saya sukai. Berbincang dengan petani selalu terasa seru. Tak jarang saya pulang membawa buah tangan, mulai dari buah apel, jeruk, sayuran hingga bibit tanaman.


Bibit Jeruk dan Green House

Kebun bunga mawar
Kebun sayuran dan tanaman hias

Selain tanahnya yang subur, di desa ini juga banyak terdapat mata air yang dikelola masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian. Dulu ketika kami baru pindah, tarif air disana sama setiap bulannya. Bahkan tarifnya sangat murah jika dibandingkan ketika kami masih tinggal di Kota Malang. Sekitar tahun 2010 mulai dipasang meteran air di masing-masing rumah, namun tetap saja tarifnya masih sangat terjangkau jika dibandingkan dengan di Kota. Apalagi air disana langsung dari sumbernya, sehingga terasa begitu segar. Belum terkontaminasi kaporit dan lain sebagainya.



Sungai dekat rumah. Air sungainya jernih dan dingin

Hawa dingin, udara yang masih minim polusi, lingkungan yang tenang serta pemandangan alam yang indah adalah hal yang selalu saya rindukan dari tempat ini. Apalagi dulu di rumah kontrakan kami yang pertama, dari teras luar terpampang pemandangan Gunung Panderman dan Kota Batu di kejauhan. Jika malam tiba, pemandangan tersebut berubah menjadi lautan lampu yang berkelap-kelip indah. Seperti kelip bintang di langit malam yang dihamparkan di bumi. Sungguh indah.


Pemandangan Gunung Panderman dan Kota Batu dari ketinggian
Jalan-jalan pagi

Tempat yang paling saya rindukan dari desa ini adalah lapangan bola yang terletak di belakang Balai Desa. Lapangan bola ini biasa digunakan untuk sholat id. Ratusan warga akan datang kesana untuk melakukan sholat berjamaah di pagi hari saat lebaran tiba. Pemandangan pegunungan yang terlihat jelas dari lapangan bola ini menambah rasa syukur setiap kali kami sholat disana. Rindu sekali. Berkumpul bersama keluarga dalam damainya suasana desa. Semoga setelah pandemi Covid-19 ini berlalu saya, suami dan anak bisa mudik kembali ke Desa Punten. Desa dengan pesona alam yang menyejukkan hati dan pikiran.


Balai Desa Punten

Lapangan sepak bola di belakang Balai Desa
(sumber : instagram @arykusumaeka)

*****

Tulisan ini sebagai lanjutan kolaborasi saya bersama sesama #emakpejalan yaitu Ainun Jafar. Pengalaman berjalan-jalannya yang sudah mendunia dan konsistensi menulisnya membuat saya kagum, karena itu saya terima dengan senang hati ajakan kolaborasinya. Tema yang kita angkat minggu ini adalah Desa. Tema apa yang akan kami angkat berikutnya? Tunggu minggu depan ya!

You Might Also Like

14 komentar

  1. Aku ngebayangin tinggal di tempat seperti ini pasti menenangkan banget yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya tenang banget. Makanya dl kalo liburan aku males kmn2. Udh berasa nginap di vila aja. Hehehe

      Delete
  2. Ya ampon :' ijo royo-royonya bikin fresh mata :')

    ReplyDelete
  3. Nama desanya lho lucu
    Pemandangan alamnya gak main-main sih
    Layak memang untuk dikunjungi
    Apalagi kalau anak ingin belajar lebih tentang alam yang asri

    ReplyDelete
  4. Tulisan yang sangat hangat! Foto-fotonya benar-benar menggambarkan betapa asrinya Desa Punten. Lapangan bola di belakang Balai Desa itu memang terlihat sangat ikonik dengan latar pegunungannya. Sehat selalu ya Kak Asri dan keluarga, semoga segera bisa kembali menikmati senja di Punten

    ReplyDelete
  5. Mirip seperti desa-desa di Kampungku di Kuningan sana mbak. Kebetulan, lanskap daerahnya cukup strategis karena berada di lereng Ciremai, dan dikelilingi oleh ragam pegunungan. Sehingga warga desa sana pun cenderung mengembangkan wisata sebagai alternatif pemasukan. Tak hanya bertani saja. Yg saya inget, kalau mandi tuh ya. Airnya dingiiiiin bener. Macem baru dikeluarin dari kulkas, hahaha.
    Btw namanya unik juga, Desa Punten. Ini warga-warganya juga pada someah ya. Tiap lewat pasti punten-punten, hehehe

    Merpati terbang membelah angkasa
    Hinggap sejenak di atas benalu
    Betapa indahnya pemandangan di desa
    Bikin saya ingin kembali, ke masa lalu

    ReplyDelete
  6. Nama desanya ini sama dengan nama pecel yang aku coba di kediri mbaa namanya pecel punten hehe jadi aku mikir apa pecel punten asalnya dari desa punten ini yaa hehehe....
    Baca ceritanya aku jadi ngebayangin tinggal disini tu sebuah anugrah bisa menghirup udara segar setiap harinya minim polusi dan air nya jug ajernih langsung dari pegunungan...
    Gampang nemu sayur dan buah segar dan yang pasti harganya juga lebih miring yaa mbaaa...

    ReplyDelete
  7. Ya ampun, ini mah judulnyaa healing tiap hariiii
    mupeng suatu saat bisa ke ds punten, dan semoga ada rumah warga yy dijadikan guest house/homestay.
    pengin live in bareng warlok.

    ReplyDelete
  8. Namanya so Jabar sekaliiih.. padahal letaknya di Jatim yaah..

    Seneng tinggal di desa.. apalagi saat anak masih masa pertumbuhan. Memori mereka akan peka dalam mencintai alam.

    Anak-anak pasti punya kenangan yang indah yaa...ka Aci

    ReplyDelete
  9. Nama desanya unik sekali dan juga mempunyai makna mendalam dalam Bahasa Sunda (padahal ini di Jawa Timur, ya.. hehe). Dari foto-fotonya saja sudah sangat mempesona sekali, sepertinya akan betah sekali tinggal di desa Punten ini

    ReplyDelete
  10. Suka banget sama foto-foto pemandangan Desa Punten 🤩🤩🤩 cakep banget. Ini desa level up, meski mata pencaharian sebagian warga adalah bertani, tetapi sangat estetik dan indah desanya. Sudah gitu ada hotel, bahkan dekat tempat wisata.

    Memang benar sih desa tempat kita tumbuh besar, adalah tempat nyaman untuk pulang dan mengenang banyak momen indah.

    Jadi kangen kampung halaman Mama di Sukabumi, Desa Sinar Bentang namanya, masih super asri juga.

    ReplyDelete
  11. Seger banget berarti yaa hawanya disana di Desa Punten ini. Pemandangannya juga baguus, cocok buat healing² niih mbak. Ngadem plus jalan² menikmati pemandangan di Desa Punten

    ReplyDelete
  12. Postingan Mbak Asri soal Desa Punten ini rasanya seperti menghirup udara segar pegunungan langsung dari layar ya! Di tahun 2026, di mana kita sering kali terjebak dalam keriuhan kota yang makin padat, Desa Wisata Punten di Kota Batu ini benar-benar jadi "oase" yang menawarkan ketenangan yang autentik.

    Aku sangat sepakat sih dengan poin Mbak Asri bahwa pesona desa itu bukan cuma soal pemandangannya yang hijau royo-royo, tapi soal interaksi hangat dengan warga lokal dan kearifan budayanya.

    Apalagi kalau sudah bahas soal hasil buminya seperti jeruk dan apel, rasanya jadi pengen langsung petik sendiri di kebunnya.

    Btw, mampir dikit langsung ke rumahku mbak di Pare, Kediri. Haha. Masih sekitar 50km sih wkwk

    ReplyDelete