Pengalaman Pertama Menginap di Hotel Berbintang (Keraton Jimbaran Resort and Spa)

Wednesday, May 27, 2015


Pada suatu siang yang terik, ketika saya sedang asik bekerja, tiba-tiba salah satu kenalan saya yang bernama Mbak Ika mengirim pesan melalui Whatsapp. Entah bagaimana cerita pastinya, dia mendapat kesempatan menginap di sebuah hotel di sekitar Jimbaran. Kebetulan tempat kerja dan kos saya berada di area Jimbaran sehingga dia meminta saya untuk menemani dia.

Jujur saja, saya sama sekali belum pernah menginap di hotel berbintang. Selama ini pergi ke mana pun saya hanya bermalam di penginapan murah. Beberapa kali saya bercerita kepada rekan-rekan kerja bahwa sesekali saya ingin menginap di hotel berbintang. Sudah 5 proyek hotel berbintang yang saya pegang, namun belum sekalipun menginap di hotel berbintang. Saya ingin merasakan sarapan dengan sistem buffet, dengan aneka masakan, bukan hanya sekedar omelet, nasi goreng atau roti bakar.

Seperti mendengar permintaan hati saya, hari itu Tuhan memberikan jalan, jadi tanpa ragu-ragu saya terima ajakan tersebut. Apalagi setelah saya tahu bahwa hotel yang akan kami datangi adalah sebuah hotel bintang 4 dengan nama Keraton Jimbaran Resort and Spa, semakin bersemangatlah saya.

Singkat cerita, pada hari Minggu, 8 Februari 2015 kami berdua berangkat ke sana. Keraton Jimbaran Resort and Spa berlokasi di  Jalan Mrajapati, Jimbaran, Bali. Kami berdua belum tahu lokasinya sehingga seperti biasa mengandalkan Google Map sebagai penunjuk jalan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari kos saya, akhirnya sampailah kami di sebuah jalan masuk dengan tulisan Keraton Resort and Spa. Dari penanda tersebut, kami masih harus berkendara kurang lebih 100 meter untuk sampai di tujuan kami.

Begitu tiba di di pintu masuk hotel, kami ditanya akan ke mana oleh securiti, sepertinya tampang kami berdua kurang meyakinkan untuk menjadi tamu di sana. Hal tersebut terlihat jelas dari ekspresi wajahnya ketika bertanya, tetapi begitu kami menjawab hendak check-in mendadak raut wajahnya berubah menjadi ramah, dan menunjukkan kepada kami di mana kami bisa memarkir motor. 

Begitu memasuki area parkir mulai terasa nuansa Bali pada hotel ini. Pemilihan material bangunan hingga ornamen-ornamen yang digunakan semua mencerminkan budaya Bali. Ketika kami memasuki lobi, nuansa Bali tersebut semakin terasa. Pemilihan perabot dan musik yang diputar semakin menambah kental suasana Bali di hotel ini.

Drop Off Hotel

Pintu Masuk Lobi dengan ornamen Bali yang sangat kental

Sembari menunggu proses check-in, kami diberi handuk dingin dan segelas jus semangka. Sangat melegakan mengingat cuaca di luar yang super duper panas. Saya memperhatikan sekeliling. Saya mendapati beberapa tamu hotel sedang asik duduk-duduk di area lobi ini dan tidak ada satupun dari mereka adalah orang pribumi, pantas saja tadi kami sedikit mendapat sambutan kurang menyenangkan di pintu masuk. Kami juga diberi tahu bahwa di kamar tidak ada jaringan internet. Internet bisa di akses di area lobi atau restoran. Hal tersebut tidak masalah buat saya. Siapa yang peduli ada atau tidaknya internet jika tujuan kita menginap di hotel adalah untuk berelaksasi. Sayang sekali saya tidak mengambil foto di area lobi ini. 

Welcome Drink

Selesai check-in kami langsung di antar ke kamar. Dalam perjalanan menuju kamar, kami melewati taman-taman tropis yang di tata dengan apik, yang memisahkan satu bangunan dengan bangunan lainnya. Sepertinya konsep dari resort ini adalah kawasan, yang menggunakan tatanan bangunan massa banyak sehingga antara bangunan satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan jalan-jalan setapak yang meliuk-liuk indah.


Pintu keluar dari lobi menuju kamar - kamar

Jalan setapak sebagai sirkulasi antar bangunan

Sesampainya di kamar ada sedikit masalah, key card kami tidak bisa digunakan untuk menyalakan listrik. AC, lampu, TV dan semua peralatan elektronik tentu saja tidak mau menyala. Akhirnya datanglah petugas dan mengganti kartu tersebut dengan kertas biasa. Ternyata kertas tersebut malah bisa membuat listrik menyala. Ada-ada saja.

Bangunan di sini sebagian besar hanya terdiri dari dua lantai dan kebetulan kamar kami terletak di lantai atas sehingga terasa lebih privat. Di depan kamar terdapat dua kursi dan satu meja, yang menurut saya, berfungsi sebagai area penerima tamu. Mungkin saja ketika kita menginap ada teman yang datang berkunjung dan kita tidak ingin dia memasuki kamar, maka area ini bisa menjalankan fungsi layaknya ruang tamu pada sebuah rumah. 

Kamar kami, nomor 322

Ini kamar di lantai bawah, sedangkan kamar kami di lantai atas

Untuk kamar tidurnya, seperti hotel pada umumnya, kamar kami hanya terdiri dari ruang tidur dan kamar mandi. Namun ruang tidurnya cukup luas. Terdapat satu tempat tidur king size, lengkap dengan tiang di empat sudutnya dan kelambu sebagai penutup. Di depan tempat tidur ada meja rias, minibar dan meja TV. Di samping kiri tempat tidur disediakan sebuah bed side table dan dua buah kursi serta satu meja bundar, tepat di samping jendela besar yang mengarah ke area luar. Di samping kanan tempat tidur juga ada sebuah bed side table yang bersebelahan dengan lemari pakaian.

Suasana ruang tidur kami

Meja rias dan meja TV

Hiasan dinding

Mini Bar

Sandal hotelnya kurang menarik

Motif bathrobenya unik

Safe deposit box

Ini dia yang namanya Mbak Ika

Layaknya hotel bintang 4, kamar ini memiliki bathtub di kamar mandinya, lengkap dengan shower air panas dan towel rack yang di atasnya tertata rapi dua handuk kecil dan dua handuk besar. Pada meja wastafel yang posisinya berseberangan dengan kloset terdapat sekotak toiletries, sepasang gelas kumur, dua botol air mineral, pengering rambut sampai pembuka tutup botol. Di bawah meja wastafel terdapat sebuah tempat sampah yang bentuknya menyerupai batang pohon.
Finishing bathtub kurang rapi

Wastafel dan segala perlengkapannya

Toiletries

Tempat sampah unik

Selesai mengeksplorasi kamar kami memutuskan untuk bersantai-santai sambil menonton TV. Sebenarnya kami ingin berenang dan berjalan-jalan di pantai, namun mengingat cuaca di luar masih sangat terik, kami menunda acara berenangnya sampai sore hari. Begitu berbaring di tempat tidur, saya merasakan kasur yang empuk itu begitu nikmat dan saya tidak bisa menahan diri untuk tidur siang.

Ketika saya bangun, hari sudah sore dan cuaca di luar sudah tidak sepanas tadi siang. Kami berdua akhirnya memutuskan untuk berenang dan berjalan-jalan di pantai sambil menunggu matahari terbenam. Beruntunglah tadi siang saya sudah bertanya kepada petugas di mana lokasi kolam renang, sehingga kami bisa menemukannya dengan mudah. Dalam perjalanan ke sana, sekali lagi kami melewati bangunan-bangunan lain yang di lengkapi dengan taman-taman indah. Sungguh pemandangan yang sangat menyejukkan mata.


Taman - taman indah nan menyejukkan mata


Sepertinya ini adalah kamar dengan tipe privat villa

Tipe kamar yang lebih besar

Kami berjalan sekitar 5 menit dari kamar ke area kolam renang. Kolam renang tersebut berada persis menghadap ke arah pantai, bersebelahan dengan restoran hotel. Terdapat kursi-kursi berjemur di sekeliling kolam, juga gazebo sebagai tempat beristirahat.

Sore itu kolam renang tidak terlalu ramai, hanya beberapa tamu saja yang terlihat sedang berenang, dan lagi-lagi tidak ada seorang pun tamu pribumi selain kami berdua. Melihat hal tersebut nyali saya untuk berenang surut. Akhirnya hanya Mbak Ika yang berenang, sedangkan saya hanya duduk-duduk sambil jeprat jepret sana sini. Jika kalian menginap disini dan memutuskan untuk berenang, kalian bisa meminta handuk di Towel Counter yang berada di area pantai, dekat dengan kolam renang.



Area kolam renang

Restoran dan area makan outdoor

Buffet dan area makan outdoor disamping kolam renang. Hanya ada saat sore hari

Hari sudah semakin sore dan kami pun menyudahi aktifitas di kolam renang. Kami berjalan-jalan ke arah pantai, menunggu matahari terbenam. Memiliki akses langsung menuju Pantai Jimbaran memang merupakan salah satu keunggulan dari resort ini. Siapa yang tidak suka menginap di hotel yang hanya butuh berjalan kaki saja untuk mencapai pantai?

Pantai Jimbaran sore itu cukup ramai. Banyak wisatawan yang asik beraktifitas di sana. Sepertinya mereka juga mempunyai tujuan yang sama seperti kami, menunggu matahari terbenam. Kami duduk di kursi pantai yang disediakan. Duduk berdiam diri sambil membicarakan banyak hal sampai matahari terbenam. 

Pantai Jimbaran sore itu

Detik - detik sebelum matahari terbenam

Sudut pengambilan foto yang lagi ngetren di dunia maya :D

Matahari terbenam sore itu sungguh luar biasa dan saya nobatkan sebagai matahari terbenam terindah yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya. Begitu megah. Begitu mewah. Langit dan laut memancarkan jingga yang begitu mempesona. Namun mungkin hasil foto tidak seindah yang saya tangkap dengan mata.


Senja yang begitu indah

Aku dan senja

Selepas senja kami kembali ke kamar. Mbak Ika memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum membeli makan malam, sedangkan saya, karena ingin berlama-lama berendam di bathtub memutuskan mandi setelah makan. Kami membeli makan malam di luar hotel. Kenapa? Karena harga makanan di hotel sangat mahal. Saya lupa memfoto daftar harganya, namun yang pasti tidak terjangkau oleh kantong saya. Sepulang membeli makan, saya mewujudkan niat saya untuk berendam air panas dan setelahnya saya tertidur dengan pulas.

Keesokan paginya kami bangun pagi-pagi sekali karena harus bekerja lagi. Pukul 07.00 WITA kami sudah siap untuk sarapan pagi. Sarapan pagi disajikan di restoran yang terletak di samping kolam renang. Restoran tersebut langsung menghadap ke arah Pantai Jimbaran. Sayang sekali ada kain-kain penghalang yang diletakkan di sepanjang batas hotel dan pantai, sehingga kami tidak bisa langsung menikmati keindahan pantai dari restoran. Padahal menurut saya itu bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Restoran tempat kami sarapan

Menu sarapan pagi itu sangat banyak, mulai dari makanan Indonesia hingga makanan luar negeri, mulai dari makanan berat hingga makanan ringan. Pilihan minuman pun cukup bervariasi, mau yang dingin seperti aneka jus atau yang panas seperti teh, kopi dan susu. Semua ada. Tinggal pilih mau yang mana.

Akhirnya mimpi saya untuk makan buffet terwujud, tetapi entah kenapa pagi itu saya tidak terlalu bernafsu makan. Saya hanya mengambil sepotong roti, tiga buah sosis ayam, bihun goreng, dan satu buah chicken roll. Untuk desert saya mengambil 2 lembar keju dan semangka. Agak sedikit aneh untuk dilihat karena saya mencampur makanan utama dan desert dalam satu piring. Untuk minumnya saya mengambil segelas susu dan segelas air putih. Saya tidak terbiasa minum jus buah di pagi hari.

Walaupun tidak bernafsu makan, saya akui masakan di sini enak. Sesuai dengan lidah saya. Mungkin karena makanan yang saya ambil hanya makanan-makanan standar. Agak kurang cocok dengan air putihnya. Mungkin karena tempat yang dipakai menyajikan bekas jus buah sehingga airnya terasa sedikit manis dan memiliki aroma buah, terasa aneh di lidah saya.

Sarapan pagi kami

Panampakan sarapanku :p

Sungguh pengalaman yang sangat berkesan. Dari skala 1-10 hotel ini saya beri nilai 8. Resort mewah bernuansa tradisonal Bali ini cocok sekali bagi wisatawan yang ingin menginap di tempat yang tenang, terutama bagi pasangan yang berbulan madu. Lokasinya yang jauh dari pusat keramaian dan dekat dengan pantai sangat cocok untuk wistawan yang mendambakan liburan penuh dengan romantisme. Nuansa Bali yang kental seakan memanjakan mata setiap tamu yang datang. Ukiran-ukiran dan dekorasi khas Bali yang indah seakan menyatu dengan suasana alam tropis yang damai. Selain itu lokasi hotel ini tidak begitu jauh dari bandara sehingga mudah untuk di akses.

You Might Also Like

22 komentar

  1. Pantes viewernya sampai 8000an
    Tulisannya kece
    Mengalir
    Enak dibaca sampai ending.

    Btw kok gk diceritain, asal usul mba Ika bs menginap di hotel. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas pujiannya
      Saya jadi malu ☺️

      Nah ini saya kurang jelas juga asal usulnya. Secara garis besar bosnya sudah memesan hotel tersebut, ternyata tidak jd menginap, jadi dialihkan kepada karyawannya. Kira-kira begitu sih kalau tidak salah 😅

      Delete
  2. Ternyataaaa, rumor bahwa para pekerja di sektor pariwisata Bali (leisure and pleasure) yang menomorduakan warga lokal , rupanya ini bukan isapan jempol, ya.

    Dah buanyaaakkk banget buktinya. Termasuk sikap security yg kayak curigaan klo lihat orang lokal naik motor mau ke hotel.
    padahal, bule² di Bali banyak yg kere juga kan? tapii teteupp mentang2 muka bule dianggap duitnya banyak. huftttt

    ReplyDelete
  3. Mbak samaan kayak saya euy. Sampai sekarang, satu-satunya momen menginap di hotel berbintang itu cuma pas honeymoon aja. Selepas tu, balik lagi nginep di hotel-hotel budget seperti biasa, hihihi.

    Unik juga ya, perkara kartunya malah beres dengan cara diakalin pake kertas.

    Kamarnya lumayan nyaman mbak, luas juga. Tapi liat suasananya kok emang oldschool sekali ya. Elemen kayunya masih penuh ukiran, bener-bener klasik banget temanya, hihihi.

    Belajar sejarah kerajaan kutai
    Sambil nyemilin sebungkus petai
    Enaknya menginap di dekat pantai
    Bisa mengejar senja sembari bersantai

    ReplyDelete
  4. Saya juga kayaknya baru 2 kali menginap di hotel berbintangg, Mbak. Itu pun masih bintang 4. Semua karena ikut kegiatan penulisan cerita anak. Jadi gratis hehehe. Selebihnya saya menginap di penginapan pas bajet. Paling sering Hostel atau dormitory hehehe.
    Pastinya ini menjadi pengalaman berkesan bagi Mbak Asri ya. Apalagi menginapkan di hotel daerah Jimbaran. Hotelnya bagus dan sejuk. Dekat pantai pula. saya suka sekali foto sunsetnya. Walau ada penyambutan kurang tak nyaman, terus ada masalah kartu kamar. Tapi akhirnya, impian Mbak Asri terwujud. Jadi benar, kalau punya keinginan, terus sja diterbangkan ke langit ya, Mbak. Insya Allah semesta akan mendukung.

    ReplyDelete
  5. Aku beberapa kali begini, nginep hotel, tp Krn sendirian, takut, trus ajak temen buat nemenin 😅😅. Ntr ke KL Juni, bakal gitu juga. Krn sendirian, ga berani tidur di kamarnya, JD udah kontak temen di KL buat nemenin 😅.

    Cakeeeeep deh mbaaa hotel ini 😍😍😍😍. Nuansa Bali nya kuat bangettt dari awal masuk udah lgs vibe Bali. Aku ngeliat pintu kamar kalian juga menarik. Penuh ukiran yaa. Kliatan luas pulsa ruangannya.

    Bath robe nya pakai motif batik Cirebon, Megamendung. Ini salah satu motif batik kesukaanku. Kayak awan 😄

    Kalau untuk sarapan standard lah yaaa. Khas hotel juga. Akupun biasanya berasa enak2 aja buffet begini.

    ReplyDelete
  6. Baca artikel mbak Asri, aku jadi membayangkan suatu saat bisa ke Bali dan menginap di hotel bintang 4 bahkan kalau ada rejeki bisa sekali aja merasakan menginap di hotel bintang 5, hehehe. Keraton Jimbaran Resort ini bener-bener nuansa Bali banget ya mbak. Dan yang paling aku suka disediakan bathrobe alias kimono mandi juga ya mbak? ah ini sih namanya memanjakan tamu banget (Maria tanjung sari)

    ReplyDelete
  7. Daku waktu mau nyalain listrik di kamar hotel malah bloon banget Kak, gak bisa-bisa karena itu kartu nggak dimasukkin ke tempat kartu wkwkwk. Kalau kak Asri mah memang karena kartunya rusak ya hihi.
    Staycation menyenangkan dengan nuansa Bali yang bikin betah buat nginap

    ReplyDelete
  8. Kalau ada welcome drinknya, pokoknya kesan pertama apapun dimaafkan ya Mbak, he. Bagiku selalu menarik nemu penginapan yang isinya bule atau orang asing semua.

    Aku jadi inget penginepan pas dulu studytour jaman SMA. Kayaknya tone-tone dan kondisinya mirip-mirip kaya gini Mbak, tapi aku lupa namanya. Maklum udah puluhan tahun silam, hehe.

    Kamarnya menarik ya Mbak, ada kelambunya, kesan jadulnya kuat banget. Wuih ada bathubnya, aku suka sekali..!

    Ini sih tempat favoritnya bule-bule..apalagi sarapannya hmmm...

    ReplyDelete
  9. keren sesuai nama hotelnya Keraton Jimbaran Resort and Spa, memiliki akses buat liat langsung sunset itu wow ya teh
    melihat photo2 sekeliling memang khas Balinya terasa, banyak pohon seroja ya ampun indah , oh iya itu yang di pake embak ika corak batik mega mendung ya ?

    ReplyDelete
  10. Kalo masuk area resort dan agak tersembunyi dari jalur rame, udh biasa tuh security pasang aksi muka galak kak. Tp herannya ama bule malah senyum2 aja. Ini sempat jadi bahan diskusi saat pariwisata Bali sempat anjlok beberapa waktu lalu. Org Bali ramah sama turis asing, tapi sewot pada turis lokal. Padahal kita jg bayar loh.

    Btw, bangunan kamarnya mirip kyk rumah2 di Bali ya kak. Ya mgkn karena resort setengah hotel, jd dibikin kyk rumah sendiri. Wisatawan berasa kyk masuk rumah sendiri, aroma dan aura khas Bali.

    Ah jadi kangen kampus Jimbaran dan makan seafood di Kedonganan deh.

    ReplyDelete
  11. Nahhh ini, ada ada aja ceritanya yes, tapi ini bikin kita punya kenangan tak terlupa.
    Lucu juga pengalaman kartu kamar yang kalah sakti sama potongan kertas biasa, ada-ada saja teknologinya. Tapi setuju banget, menginap di tempat bernuansa Bali yang kental seperti Keraton Jimbaran ini memang cara terbaik buat healing sejenak dari rutinitas kerja, apalagi bonus sunset Jimbaran yang juara itu.
    langsung akh jadwalin buat healing healing

    ReplyDelete
  12. Seneng banget pastinya dapat kesempatan buat menginap di hotel bintang empat. Apalagi pas lihat details bangunannya, tradisional Bali nya berasa sekali ya.

    Kadang suka heran sama security yang memasang wajah begitu sebelum tahu apakah kita akan menginap atau gimana, untunglah pas bilang mau menginap langsung berubah mukanya.

    Wih, ada welcome drink jus semangka, seger sekali. View senja cakep banget sih, taman sekitaran hotel nya juga cakep banget ya.

    Sarapan yang variatif bikin happy dan lokasi hotel strategis ini beneran bikin merasa mudah ya. Keren sih Keraton Jimbaran Resort and Spa.

    ReplyDelete
  13. Bacanya bikin jadi inget rasa excited pas nginep di hotel buat pertama kalinya. Hehehe. Tapi bagian yang paling menarik menurutku justru detail-detail kecilnya, mulai dari key card yang malah kalah sama selembar kertas, tempat sampah berbentuk batang pohon, sampai rasa happy akhirnya bisa mencoba sarapan buffet. Ditambah bisa akses sunset di Pantai Jimbaran. Pengalaman staycation yang nggak terlupakan ya. Terus aku jadi penasaran pengen nginep di hotelnya juga, mumpung lagi tinggal di Bali nih hahaha.

    ReplyDelete
  14. Aku terpesona sama ukiran kayu dan pemandangan senja yang selalu magis dan romantis kalau diambil di Bali, entah kenapa demikian
    Kamar dengan ukiran kayu nuansa Bali tuh bener bener kek nyatu banget sama alam ya
    Ah,,, lama gak melancong apalagi ke Bali
    Kapan ya bisa ke sana lagi menikmati detil kamarnya yang wow banget

    ReplyDelete
  15. Jujur saya tertarik dengan banyak pohon jadi adem, pemandangan pantainya juga wow banget, apalagi sunset. Bicara tentang key card saya jadi ingat, waktu mau balik ke perantauan menginap dulu di Surabya, ternyata key card tidak bisa dipakai untuk membuka pintu, jadi harus menunggu OB untuk membukakan pakai key card cadangan.

    ReplyDelete
  16. Jadi penasaran kok bisa ya itu kertas bisa dijadikan ganti buat passkey di kamar hotel? Apakah kertasnya khusus atau kertas biasa aja? Seru banget nih mbak pengalaman menginap di hotel berbintang 4 nya apalagi di bali dih pengen banget diriku jadinya

    ReplyDelete
  17. Rezeki banget yaa menginap di hotel cantik diajak teman.. sayangnya kurang nafsu makan pas sarapan padahal waktunya mengeksplorasi aneka makanan enak hihi.. pantainya cakep banget..

    ReplyDelete
  18. Luar biasa lhooo, masih primpen nyimpen foto2nya :D Lalu apa kabarnya Mbak Ika sekarang? Apakah masih berhubungan? :D
    Temennya baik bener mbak, pasti akrab banget ya, sampai diajakin staycation. Rezeki juga akhirnya keturutan menginap di hotel yang bagus yaa.
    Eh tapi jarang2 ada hotel yang nggak ada inetnya di kamar, bisa jadi karena konsep kamarnya tidak dalam satu gedung, jadi itu yang agak susah bikin pembagian jaringannya kali yaa.
    Tapi bener, karena niatnya istirahat yawda gpp. Lagian di tahun segitu keknya kita tu masih belum banyak terdistraksi sama sosmed ya haha :D
    Btw aku keinget dulu zaman SMA, pernah diajak piknik kantor bapakku ke Bali dan bentuk kamar hotelnya kek gitu. Perdana dapat kunci berupa kartu juga, tapi karena waktu itu nggak paham, kok listriknya kagak nyala wkwk ternyata perlu dicolok ke tempat kartunya. Sejak itu jadi tahu ooo kalau dapat kartu, selain buat buka pintu juga buat nyalain listrik =))
    Oh ya, itu asyik banget restonya di area outdoor gitu, tapi sayang nggak bisa buat sarapan yaa, padahal kebayang sarapan paginya ditemenin matahari pagi :D

    ReplyDelete
  19. Jaman dulu bisa nyalain listrik kamar pake kekertasan yaakk.. aku kemarin ngakalin pake kartu temjon, laah.. malah ga bisa buka kamar.
    ((karena mau ninggalin kamar rada lama, aku pikir kalo balik entar kudu setting AC lagi supaya ga kepanasan.. daripada gitu, aku ganjel pake kartu apalah apalaah.. ternyataa.. gak mau kebuka kamarnya.. huhuhu))

    Alhamdulillah, dibantu ama kang serpis hotel pake masterkey...

    Suasana di Keraton Jimbaran Resort and Spa sangaaatt Bali sekaliih..
    Langsung auto bawa amenities hotel yaakk.. cakep dan lengkap pissaan.

    ReplyDelete
  20. Wuaauuu... Bali banget yaa hotelnyaa. Tapi jujur aku tuh suka rada "takut" klo terlalu rame banyak ornamen. Kaya banyak tempat2 tersembunyi gt (naooonn).

    Tapi yg paling menyenangkan dari hotel berbintang adl makanannya yag enak-enak. Cuma Aston aja udah enak bgt apalagi yg bintangnya banyak yekaann.

    ReplyDelete
  21. Hotelnya lebih mirip villa yaaa....bangunannya bagus² apalagi yang kamarnya lebih besar udah kaya rumah biasa aja. Kalau saya gak masalah sih jika di kamar tidak ada wifi kan masih ada paket data pribadi hehe. Hotelnya bagus banget mbak ..very very recomended...ya di luar beberapa accident yang disampaikan disini seperti kunci kamar yg gak berfungsi, dijutekin pas datang ..kesel pasti...tapi tempatnya enakeun. Mau ke pantai tinggal jalan aja deket banget. Bener deh yaa enakeun mbak.

    ReplyDelete