Mendadak Bandung!

Seperti yang kita semua tau, Bandung adalah ibukota dari Jawa Barat yang juga merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Indonesia. Memang untuk urusan pariwisata Bandung belum bisa menandingi Bali, namun banyak objek yang ditawarkan disana, mulai dari wisata kuliner, wisata belanja, wisata alam, wisata budaya dan wisata sejarah. Hal ini yang membuat Bandung menarik, baik untuk wisatawan domestik maupun manca negara.

Perjalanan saya ke Bandung tanggal 5 – 7 Desember 2014 kemarin berawal dari pembicaraan iseng saya dengan pacar. Dari hasil pembicaraan tersebut akhirnya saya mendapatkan tiket PP pesawat ke Bandung gratis. Tentu saja saya senang sekali. Bisa jalan – jalan gratis sekaligus bertemu dengan pacar tercinta.

Saya berangkat ke Bandung hari jumat malam. Jadwal penerbangan seharusnya pukul 19.40 WITA, akan tetapi mengalami delay hingga pukul 20.00 WITA. Saya sampai di Bandara Husein Satranegara sekitar pukul 21.00 WIB. Cuaca malam itu mendung disertai dengan gerimis rintik – rintik. Beruntunglah ketika saya sampai, pacar saya sudah menunggu, sehingga kami langsung meluncur menuju rumahnya. Yup! Saya akan menginap 3 hari 2 malam di rumah pacar saya. Lumayan mengurangi pengeluaran.

Hari pertama saya hanya keliling Kota Bandung dan keluar masuk pusat perbelanjaan. Bandung yang terkenal sebagai kota fashion memang memiliki banyak pusat perbelanjaan di seluruh penjuru kotanya. Sesungguhnya saya ingin berkunjung ke tempat wisata – wisata alam seperti Kawah Putih, Tangkuban Perahu dan sejenisnya, tetapi cuaca tidak mendukung. Mendung bergantungan di langit Kota Bandung semenjak pagi hari, dan menjelang sore hujan deras mengguyur kota. Hal ini membuat kami mengurungkan rencana perjalanan jauh.

Pusat perbelanjaan pertama yang kami kunjungi adalah Cihampelas Walk atau yang lebih dikenal dengan nama Ciwalk. Ciwalk merupakan salah satu tempat wisata yang terkenal dan wajib di kunjungi jika menginjakkan kaki di kota kembang. Ini kunjungan saya yang ketiga di Bandung, namun baru pertama kali masuk ke dalam Ciwalk. Menurut saya Ciwalk memiliki konsep yang unik dan berbeda dengan mall – mall pada umumnya. Untuk pembahasan lebih lanjut tentang Ciwalk akan saya bahas pada blog berikutnya.

Nampang di Ciwalk
Setelah puas berjalan – jalan di Ciwalk kami mencari tempat untuk makan siang. Awalnya saya ingin mengunjungi Kampung Daun yang terkenal itu, akan tetapi karena medan kesana cukup sulit akhirnya kami berbalik arah dan memutuskan untuk makan di daerah Pluncut yang terletak di Bandung utara. Kawasan kuliner di daerah ini dikenal dengan nama Saung Pluncut. Saung Pluncut ini jika dibandingkan dengan tempat – tempat yang pernah saya kunjungi mirip dengan daerah Payung di Kota Batu, dimana ada warung – warung lesehan berjajar di sepanjang jalan yang menawarkan pemandangan indah dari dataran tinggi. Warung yang kami pilih bernama RM Sangkan Hurip yang menyajikan masakan – masakan khas Sunda. Mengenai warung ini juga akan saya bahas tersendiri.

Pemandangan dari Saung Pluncut 

Menu makan siang khas Sunda
Puas menikmati kuliner siang ini, kami memutuskan kembali ke kota. Langit sudah semakin gelap ketika kami turun. Saya yang sama sekali tidak punya bayangan hendak kemana menyerahkan destinasi berikutnya kepada sang pacar. Melihat cuaca yang kurang bersahabat akhirnya kami memutuskan untuk masuk mall lagi.

Tujuan kami adalah Bandung Indah Plaza (BIP), tapi kami tidak parkir motor disana, kami parkir di BEC (Bandung Electronic Center). Kenapa? Karena menurut pacar saya di hari sabtu parkiran di BIP hampir selalu penuh. Saya yang tidak tau apa – apa menurut saja, yang penting saya bisa jalan – jalan.

Sebelum menuju BIP kami berjalan – jalan sebentar keliling BEC, hanya sekedar ingin tahu bagaimana keadaan di dalam. Ternyata di dalam penuh dengan gerai – gerai dan counter – counter yang menjual berbagai macam peralatan elektronik, mirip dengan Rimo Trade Centre di Bali. Setelah dari BEC itu saya mampir sebentar di toko gramedia yang kebetulan sedang mengadakan diskon untuk buku – buku tertentu. Saya membeli sebuah novel dengan harga Rp. 10.000,00. Murah.

Dalam perjalanan dari gramedia menuju BIP tiba – tiba saja hujan deras mengguyur. Beruntunglah posisi kami saat itu sudah berada di dekat jembatan penyebrangan yang berada di depan BIP, sehingga kami bisa berteduh disana. Sudah lama sekali tidak melewati jembatan penyebrangan karena di Bali memang tidak ada. Setelah hujan reda barulah kami berdua masuk ke BIP.

Sesampainya di BIP kami berjalan – jalan berkeliling, sekedar window shopping. Setelah itu kami berencana untuk menonton film, tapi tidak ada film yang menarik sehingga kami membatalkan rencana tersebut dan berakhir nongkrong di food court karena hujan belum juga reda. Menjelang magrib hujan tidak juga reda. Kami memutuskan nekad pulang berbasah – basah. 

Sampai malam hari pun hujan masih turun dengan derasnya, merusak rencana jalan – jalan malam minggu kami. Akhirnya kami hanya membeli ayam goreng dan ayam bakar di dekat rumah, lalu makan bersama – sama dengan orang tua, kakak dan keponakan pacar sambil menonton TV. Tak jadi jalan – jalan pun tak masalah, makan bersama keluarga di hari hujan pun sudah merupakan hal yang sangat membahagiakan.

Hari kedua saya di Bandung hanya saya habiskan berjalan – jalan di sekitar Gedung Sate. Mulai dari mengunjungi pasar minggu di sekitar Lapangan Gasibu sampai berkeliling dan duduk - duduk di taman kota yang ada di sekitar situ. Ada dua taman yang saya kunjungi pagi itu, yaitu Taman Lansia dan Taman Pusataka Bunga Cilaki. Niat awal saya datang ke Taman Pustaka Bunga Cilaki adalah untuk naik Bandros. Akan tetapi karena antriannya yang sangat panjang saya mengurungkan niat.

Numpang eksis di depan Gedung Sate setelah membeli donat kentang
Lapangan Gasibu di pagi hari yang mendung
Sedikit bercerita tentang Bandros. Bandros ( Bandung Tour on The Bus) adalah bus tingkat di Kota Bandung yang khusus disediakan bagi wisatawan yang ingin berkeliling Bandung. Bus ini dilengkapi dengan GPS sehingga penumpang bisa mengetahui dimana lokasi mereka berada, juga dilengkapi dengan pusat data yang memungkinkan mereka mengakses tentang seluk beluk Kota Bandung. Kabarnya bus ini bisa di akses gratis dengan hanya menunjukkan struk belanja di Kota Bandung. Lain kali saya akan mencobanya.

Setelah gagal naik Bandros, kami berdua meluncur menuju Batagor Kingsley yang merupakan salah satu warung batagor legendaris di Kota Bandung. Sebenarnya masih ada satu lagi yang terkenal yaitu Batagor Riri, tetapi karena bos saya yang orang Bandung lebih merekomendasikan Batagor Kingsley maka kesinilah saya makan.

Siang itu warung begitu ramai dan kami mendapatkan tempat duduk di lantai dua. Kami mencoba berbagai macam menu, mulai dari batagor goreng, siomay goreng sampai batagor kuah. Menurut saya semuanya enak. Saya tidak kecewa membayar Rp. 12.000,00 untuk setiap bijinya. Usai makan dan membungkus untuk di bawa pulang (mau bungkus pun antriannya panjang), saya menyempatkan membeli oleh – oleh di toko yang juga merupakan bagian dari Batagor Kingsley tersebut.

Batagor dan siomay goreng
Pukul 14.00 WIB saya sudah kembali meluncur menuju bandara, mengejar penerbangan Pukul 16.15 WIB. Dari rumah ke bandara tidak terlalu jauh. Akan tetapi karena hari minggu dan jalanan sedikit macet maka kami memutuskan berangkat lebih awal. Tidak rela rasanya kembali ke Bali dan berpisah lagi dengan pacar. Akan tetapi rutinitas sudah menunggu.


Mungkin sebentar lagi saya akan menjadi warga Bandung dan saya sudah tidak sabar menunggu untuk mengeksplor kota ini lebih dalam. Tunggu cerita saya tentang Bandung berikutnya.

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Pertama Menginap di Hotel Berbintang (Keraton Jimbaran Resort and Spa)

Berburu Seafood sampai ke Ujung Pulau